Larangan Menyerang Makkah

Dari ‘AbduUah bin Muthi’ bin al-Aswad dari ayahnya -dahulu bernama al-Ash, lalu Rasulullah menggantinya menjadi Muthi’- ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. ketika memerintahkan untuk membunuh beberapa orang tawanan di Makkah mengatakan, ‘Makkah tidak akan diserang lagi setelah tahun ini untuk selama-lamanya. Dan tidak akan ada lagi orang Quraisy yang dibunuh secara sia-sia setelah tahun ini’,” (Hasan, HR Ahmad [III/412 dan IV/213], ath-Thahawi ddzm Musykilul Aatsaar [1508] dan ath-Thabrani [XX/691/240]).

Dari al-Harits bin Barsha’ r.a, la berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw. berkata pada hari penaklukan kota Makkah, ‘Kota ini (yakni Makkah) tidak akan diserang setelah tahun ini sampai hari Kiamat’,” (Shahih, HR at-Tirmidzi [1611], Ahmad [III/412 dan IV/343], Ibnu Sa’ad [II/145], Ibnu Abi Syaibah [XIV/490], ath-Thabrani [3333-3337], al-Hakim [III/627], al-Baihaqi [IX/314]), al-Humaidi [572]).

Kandungan Bab:

  1. Setelah hari penaklukan kota Makkah menjadi darul Islam dan tidak akan kembali menjadi darul kufur. Penduduknya tidak akan kafir selama-lamanya dan tidak akan diserang lagi karena kekafiran.

    Sufyan bin ‘Uyainah -salah seorang perawi hadits al-Harits bin al-Barsha’- r.a. mengatakan, “Tafsirnya adalah mereka tidak akan kafir lagi selama-lamanya dan tidak akan diserang karena kekafiran.”

    Ath-Thahawi mengatakan dalam kitab Musykilul Aatsaar (IV/163), “Sesungguhnya maksudnya adalah seperti itu karena mereka (yakni penduduk Makkah) tidak akan kembali kepada kekafiran sehingga diperangi karena kekafiran. Sebagaimana halnya Makkah tidak akan menjadi darul kufur yang diserang, wa billahi taufiq.” 

  2. Oleh karena itu, hijrah dari Makkah ke Madinah. terputus dengan peristiwa penaklukan kota Makkah. Berdasarkan hal itu dapatlah dipahami hadits ‘Aisyah r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada hijrah setelah penaklukan kota Makkah, akan tetapi yang ada hanyalah jihad dan niat. Jika kalian diminta berangkat perang, maka berangkatlah,” (HR Bukhari [3900] dan Muslim [1864]).

    An-Nawawi berkata, “Maknanya adalah tidak ada hijrah dari Makkah karena Makkah sudah menjadi Darul Islam,” (Lihat Bahjatun Naazhiriin Syarh Riyaadhus Shaalihiin (1/34).

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 2/497-499.