Bingung Memilih? Jangan Hanya Ikuti Perasaan, Coba Istikharah

Ada saatnya kita harus memilih sesuatu yang terasa sangat penting.

Menerima pekerjaan atau menolaknya?
Menikah dengan seseorang atau tidak?
Memulai bisnis atau menundanya?
Pindah tempat tinggal atau tetap di tempat sekarang?

Semakin besar keputusan yang harus diambil, semakin banyak pula pertimbangan yang muncul.

Kadang kita bertanya kepada banyak orang, membaca berbagai informasi, bahkan berhari-hari memikirkan kemungkinan yang akan terjadi.

Semua itu baik.

Namun, seorang Muslim memiliki satu amalan yang sering terlupakan ketika menghadapi pilihan besar:

shalat istikharah.

Istikharah bukan sekadar doa agar pilihan kita berhasil. Istikharah adalah bentuk pengakuan bahwa kita memiliki keterbatasan, sedangkan Allah mengetahui apa yang tidak kita ketahui.

Apa Itu Istikharah?

Secara sederhana, istikharah berarti meminta kepada Allah agar dipilihkan kebaikan.

Nabi ﷺ mengajarkan istikharah kepada para sahabat sebagaimana beliau mengajarkan sebuah surah dari Al-Qur’an.

Jabir radhiyallahu ‘anhu berkata: “Rasulullah ﷺ mengajarkan istikharah kepada kami dalam segala urusan sebagaimana beliau mengajarkan surah dari Al-Qur’an.” (HR. Bukhari)

Perhatikan kalimat tersebut.

“Dalam segala urusan.”

Artinya, istikharah bukan hanya untuk persoalan pernikahan.

Kapan Sebaiknya Istikharah?

Istikharah dilakukan ketika kita menghadapi perkara yang mubah dan memiliki pilihan.

Misalnya:

  • memilih pekerjaan,
  • memilih tempat tinggal,
  • menentukan perjalanan,
  • memilih mitra bisnis,
  • memutuskan rencana tertentu,
  • atau perkara lain yang memang membutuhkan pertimbangan.

Adapun perkara yang sudah jelas diperintahkan Allah, tidak perlu diistikharahkan.

Misalnya:

“Apakah saya perlu shalat lima waktu?”

Tidak perlu istikharah.

Begitu pula perkara yang jelas haram.

“Apakah saya sebaiknya melakukan riba?”

Bukan istikharah yang diperlukan, tetapi meninggalkan perkara tersebut.

Bagaimana Cara Shalat Istikharah?

Caranya sederhana.

  1. Berwudhu

Persiapkan diri untuk shalat.

  1. Shalat Dua Rakaat

Lakukan shalat sunnah dua rakaat.

Tidak ada keharusan membaca surah tertentu secara khusus.

  1. Membaca Doa Istikharah

Setelah itu, berdoalah dengan doa istikharah yang diajarkan Nabi ﷺ.

Di dalam doa tersebut kita memohon kepada Allah:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْتَخِيرُكَ بِعِلْمِكَ، وَأَسْتَقْدِرُكَ بِقُدْرَتِكَ…

Kita meminta kepada Allah berdasarkan ilmu dan kekuasaan-Nya, karena kita tidak mengetahui sedangkan Allah mengetahui.

Dalam doa tersebut kita juga memohon:

Jika perkara tersebut baik bagi agama, kehidupan, dan akibat urusan kita, agar Allah menetapkannya dan memudahkannya.

Jika perkara tersebut buruk, kita memohon agar Allah menjauhkannya dari kita dan menjauhkan kita darinya. (HR. Bukhari)

Istikharah Bukan Berarti Menunggu Mimpi

Ini salah satu kesalahpahaman yang cukup sering terjadi.

Sebagian orang mengira setelah istikharah harus mendapatkan mimpi tertentu.

Misalnya:

“Kalau saya melihat warna putih berarti lanjut.”

“Kalau melihat warna hitam berarti batal.”

Padahal, tidak ada ketentuan dalam hadits istikharah bahwa jawaban harus datang melalui mimpi.

Jadi, jangan menjadikan mimpi sebagai syarat bahwa istikharah kita diterima atau tidak.

Setelah Istikharah, Apa yang Dilakukan?

Ini bagian yang sangat penting.

Tetap lakukan ikhtiar.

Istikharah bukan berarti kita berhenti berpikir.

Cari informasi.

Tanyakan kepada orang yang berpengalaman.

Pertimbangkan keuntungan dan kerugian.

Lihat kemampuan diri.

Periksa kondisi yang sebenarnya.

Jika berkaitan dengan pernikahan, cari tahu agama dan akhlaknya.

Jika berkaitan dengan pekerjaan, pelajari tanggung jawab dan kondisinya.

Jika berkaitan dengan bisnis, hitung risiko dan kemampuan finansial.

Kemudian ambil keputusan dengan bertawakal kepada Allah.

Jangan Terus-Menerus Istikharah Karena Takut Memutuskan

Ada orang yang sudah melakukan istikharah berkali-kali tetapi tetap tidak mau mengambil keputusan.

Akhirnya ia terus menunggu “tanda”.

Padahal, istikharah bukan cara untuk menghilangkan seluruh ketidakpastian dalam hidup.

Kita tetap harus mengambil keputusan berdasarkan ilmu dan pertimbangan.

Setelah itu, serahkan hasilnya kepada Allah.

Bagaimana Jika Setelah Istikharah Ternyata Tidak Sesuai Harapan?

Inilah salah satu keindahan istikharah.

Kita tidak hanya meminta: “Ya Allah, berikan apa yang saya inginkan.”

Tetapi kita meminta: “Ya Allah, pilihkan yang terbaik untuk saya.”

Kadang sesuatu yang kita inginkan ternyata tidak baik bagi kita.

Mungkin sebuah pekerjaan yang sangat kita harapkan tidak jadi diterima.

Mungkin sebuah rencana gagal.

Mungkin sebuah hubungan tidak berlanjut.

Jangan langsung menyimpulkan bahwa istikharah kita “tidak berhasil”.

Bisa jadi justru itulah bentuk pertolongan Allah.

Allah berfirman:

وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)

Ayat ini sangat cocok untuk memahami hakikat istikharah.

Istikharah Mengajarkan Kita untuk Tawakal

Kita sering ingin mengetahui masa depan sebelum mengambil keputusan.

“Kalau saya memilih ini, bagaimana nanti?”

“Kalau saya mengambil pekerjaan ini, apakah saya akan sukses?”

“Kalau saya menikah dengannya, apakah rumah tangga saya akan bahagia?”

Kita tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui semuanya.

Karena itu, setelah melakukan pertimbangan dan istikharah, kita belajar mengatakan: “Ya Allah, saya sudah berusaha. Saya serahkan hasilnya kepada-Mu.”

Inilah salah satu makna tawakal.

Jangan Lupakan Musyawarah

Istikharah tidak menggantikan musyawarah.

Keduanya dapat berjalan bersama.

Istikharah: meminta petunjuk dan pilihan terbaik kepada Allah.

Musyawarah: meminta pertimbangan dari manusia yang memiliki ilmu dan pengalaman.

Keduanya membantu seorang Muslim mengambil keputusan dengan lebih tenang.

Penutup

Kita tidak selalu bisa mengetahui mana yang terbaik. Kadang sesuatu terlihat sangat indah di awal, tetapi ternyata membawa banyak masalah.

Sebaliknya, sesuatu yang awalnya tidak kita sukai justru menjadi jalan menuju kebaikan.

Maka ketika menghadapi pilihan besar:

  • Pelajari.
  • Musyawarahkan.
  • Istikharahkan.
  • Kemudian putuskan dan tawakal.

Jangan menunggu kepastian bahwa semua akan berjalan sempurna.

Kita hanya perlu yakin bahwa ketika kita meminta pilihan terbaik kepada Allah dan berusaha dengan cara yang benar, kita tidak pernah benar-benar sendirian dalam menghadapi keputusan hidup.

Sumber:
Al-Adzkar, Imam an-Nawawi.
Jami’ al-Ulum wa al-Hikam, Ibnu Rajab al-Hanbali.
Zaad al-Ma’ad, Ibnu al-Qayyim