A. Nama Kaidah
الإِيمَانُ بِالْقَضَاءِ وَالْقَدَرِ يُثْمِرُ التَّوَكُّلَ وَالصَّبْرَ وَالْجِدَّ فِي الْعَمَلِ
“Iman kepada qadha dan qadar melahirkan tawakal, kesabaran, dan kesungguhan dalam beramal.”
Kaidah ini merupakan konsekuensi praktis dari seluruh pembahasan sebelumnya. Iman kepada qadha dan qadar bukan sekadar keyakinan teoritis mengenai ilmu Allah, kitabah, masyi’ah, dan khalq. Keimanan tersebut harus membentuk sikap batin dan perilaku seorang mukmin.
Apabila seseorang benar-benar memahami bahwa Allah Mahamengetahui segala sesuatu, menetapkan segala sesuatu dengan hikmah-Nya, menghendaki segala sesuatu dengan masyi’ah-Nya, dan menciptakan segala sesuatu dengan qudrah-Nya, maka ia tidak akan menjadi manusia yang pasif dan menyerah kepada keadaan.
Sebaliknya, ia menjadi manusia yang bersandar kepada Allah, sabar ketika menghadapi ketetapan-Nya, dan bersungguh-sungguh ketika menjalankan perintah-Nya.
Dengan demikian, iman kepada qadar tidak melahirkan fatalisme, tetapi melahirkan keteguhan jiwa, ketenangan hati, keberanian menghadapi kehidupan, dan kesungguhan dalam mengambil sebab-sebab yang dibenarkan syariat.
B. Dalil Utama Al-Qur’an
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
قُلْ لَنْ يُصِيبَنَا إِلَّا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَانَا ۖ وَعَلَى اللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ الْمُؤْمِنُونَ قُلْ هَلْ تَرَبَّصُونَ بِنَا إِلَّا إِحْدَى الْحُسْنَيَيْنِ ۖ وَنَحْنُ نَتَرَبَّصُ بِكُمْ أَنْ يُصِيبَكُمُ اللَّهُ بِعَذَابٍ مِنْ عِنْدِهِ أَوْ بِأَيْدِينَا فَتَرَبَّصُوا إِنَّا مَعَكُمْ مُتَرَبِّصُونَ
“Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah Pelindung kami, dan hanya kepada Allah hendaknya orang-orang beriman bertawakal. Katakanlah: Apakah yang kamu tunggu-tunggu bagi kami, kecuali salah satu dari dua kebaikan? Kami menunggu-nunggu bagi kamu bahwa Allah akan menimpakan kepadamu azab dari sisi-Nya atau melalui tangan kami. Maka tunggulah, sesungguhnya kami pun menunggu bersamamu.” (QS. At-Taubah [9]: 51–52)
Ayat ini sangat penting karena menghimpun dua perkara yang sering dipisahkan oleh manusia:
iman kepada ketetapan Allah dan tawakal kepada Allah.
Ayat tidak mengajarkan, “Karena semuanya telah ditetapkan, maka tidak perlu berbuat apa-apa.”
Justru ayat tersebut turun dalam konteks perjuangan dan menghadapi ancaman. Rasulullah ﷺ dan para sahabat tetap bergerak, berjihad, mengambil sebab, dan menghadapi musuh. Namun hati mereka tidak bergantung kepada sebab-sebab tersebut. Hati mereka bergantung kepada Allah.
Di sinilah keseimbangan manhaj Ahlus Sunnah tampak dengan sangat jelas:
anggota badan mengambil sebab, sedangkan hati bersandar kepada Allah.
C. Tawakal Bukan Meninggalkan Sebab
Salah satu kesalahan besar dalam memahami qadar adalah mengira bahwa tawakal berarti meninggalkan usaha.
Padahal Allah سبحانه وتعالى memerintahkan tawakal sekaligus memerintahkan mengambil sebab.
Allah berfirman:
وَتَوَكَّلْ عَلَى الْعَزِيزِ الرَّحِيمِ
“Dan bertawakallah kepada Allah Yang Mahaperkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. As-Syu‘ara’ [26]: 217)
Namun Allah juga berfirman:
وَأَعِدُّوا لَهُمْ مَا اسْتَطَعْتُمْ مِنْ قُوَّةٍ
“Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka segala kekuatan yang kamu sanggupi.” (QS. al-Anfal [8]: 60)
Perintah mempersiapkan kekuatan menunjukkan bahwa tawakal tidak bertentangan dengan usaha.
Bahkan mengambil sebab merupakan bagian dari kesempurnaan tawakal, selama hati tidak bergantung kepada sebab tersebut.
Sebab hanyalah wasilah, sedangkan Allah adalah Musabbib al-Asbab, Zat yang menciptakan sebab dan akibat serta menjadikan sebab tersebut memberikan pengaruh sesuai dengan kehendak-Nya.
Karena itu, seorang mukmin tidak mengatakan: “Saya tidak perlu berobat karena semuanya sudah ditakdirkan.”
Ia berobat karena berobat juga termasuk bagian dari takdir Allah.
Ia tidak mengatakan: “Saya tidak perlu bekerja karena rezeki sudah ditentukan.”
Ia bekerja karena usaha mencari rezeki juga berada dalam lingkup takdir Allah.
Ia tidak mengatakan: “Saya tidak perlu belajar karena kalau saya ditakdirkan pintar, saya akan pintar.”
Ia belajar karena ilmu diperoleh melalui sebab yang Allah syariatkan dan Allah ciptakan.
Maka hubungan yang benar adalah:
Takdir tidak menghapus sebab, dan sebab tidak berdiri sendiri di luar takdir.
D. Tawakal adalah Amal Hati, Bukan Kemalasan
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya.” (QS. At-Talaq [65]: 3)
Tawakal berarti menggantungkan hati kepada Allah dengan keyakinan bahwa Allah mencukupi hamba-Nya, sembari menjalankan sebab-sebab yang dibenarkan.
Karena itu, tawakal memiliki dua unsur yang harus berjalan bersama:
- Ketergantungan hati kepada Allah;
- Usaha anggota badan mengambil sebab.
Jika seseorang hanya mengambil sebab tanpa bergantung kepada Allah, ia dapat terjatuh kepada ketergantungan kepada makhluk dan sebab.
Sebaliknya, jika seseorang mengaku bertawakal kepada Allah tetapi meninggalkan sebab padahal ia mampu mengambilnya, maka ia telah menyimpangkan makna tawakal.
Dengan demikian:
التَّوَكُّلُ لَيْسَ تَرْكَ الْأَسْبَابِ، بَلْ تَرْكَ الِاعْتِمَادِ عَلَيْهَا
“Tawakal bukan meninggalkan sebab, tetapi meninggalkan ketergantungan hati kepada sebab.”
E. Iman kepada Qadar Melahirkan Kesabaran
Buah kedua dari iman kepada qadar adalah sabar.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ
“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan tidak pula pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak terlalu berduka terhadap apa yang luput dari kamu dan tidak terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-Hadid [57]: 22–23)
Perhatikan hubungan yang dibangun oleh ayat ini.
Allah menjelaskan qadar, kemudian menjelaskan buah kejiwaan dari iman kepada qadar:
لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ
“Supaya kamu tidak terlalu berduka terhadap apa yang luput dari kamu.”
Artinya, pengetahuan terhadap qadar seharusnya mengobati hati.
Ketika seseorang kehilangan sesuatu yang sangat ia cintai, ia tetap boleh bersedih. Islam tidak mengajarkan manusia menjadi tanpa perasaan.
Tetapi iman kepada qadar mencegah kesedihan berubah menjadi:
- Keputusasaan;
- Protes kepada Allah;
- Buruk sangka kepada Allah;
- Atau keyakinan bahwa hidup telah menjadi tidak bermakna.
Ia mengatakan:
قَدَّرَ اللَّهُ وَمَا شَاءَ فَعَلَ
“Allah telah menetapkan, dan apa yang Dia kehendaki pasti Dia lakukan.”
Dengan demikian, qadar menjadi sumber sakinah, bukan sumber keputusasaan.
F. Sabar Tidak Berarti Pasif
Sabar dalam Islam juga tidak identik dengan diam tanpa usaha.
Sabar memiliki dimensi aktif.
Seorang mukmin membutuhkan kesabaran untuk:
- Taat kepada Allah;
- Meninggalkan maksiat;
- Menghadapi musibah;
- Terus berjuang dalam kebaikan;
- Tetap istiqamah ketika hasil belum terlihat.
Karena itu, seorang pendakwah harus sabar dalam berdakwah. Seorang penuntut ilmu harus sabar dalam belajar. Seorang pendidik harus sabar dalam mendidik. Seorang pemimpin harus sabar dalam menjalankan amanah. Seorang mukmin harus sabar ketika menghadapi ujian.
Kesabaran seperti ini tidak lahir dari keyakinan bahwa manusia tidak mempunyai kehendak. Justru ia lahir dari keyakinan bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berusaha, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ilmu dan kehendak Allah.
G. Iman kepada Qadar Melahirkan Semangat Beramal
Inilah salah satu poin terpenting dalam memahami qadar.
Rasulullah ﷺ bersabda:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ، وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ، وَلَا تَعْجَزْ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.” (HR. Muslim)
Hadis ini merupakan penjelasan yang sangat indah mengenai keseimbangan antara ikhtiar dan tawakal.
Rasulullah ﷺ tidak mengatakan: “Karena segala sesuatu telah ditakdirkan, jangan berusaha.”
Sebaliknya beliau mengatakan:
احْرِصْ عَلَى مَا يَنْفَعُكَ
“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu.”
Kemudian:
وَاسْتَعِنْ بِاللَّهِ
“Mintalah pertolongan kepada Allah.”
Lalu:
وَلَا تَعْجَزْ
“Janganlah engkau lemah.”
Jadi struktur pendidikan Nabi ﷺ sangat jelas:
usaha → meminta pertolongan Allah → tidak menyerah.
Inilah akhlak seorang mukmin yang benar dalam memahami qadar.
H. Setelah Berusaha, Seorang Mukmin Ridha terhadap Hasil
Manhaj Ahlus Sunnah mengajarkan pembedaan yang sangat penting antara perintah Allah dan ketetapan Allah.
Manusia diperintahkan untuk melakukan ketaatan.
Adapun hasil yang terjadi setelah usaha berada dalam qadar Allah.
Karena itu, seorang mukmin harus bersungguh-sungguh dalam amal, tetapi tidak menjadikan hasil sebagai ukuran mutlak diterima atau tidaknya dirinya di sisi Allah.
Seorang petani menanam dan merawat tanaman, tetapi ia tidak menciptakan hujan.
Seorang dokter berusaha mengobati, tetapi ia tidak menciptakan kesembuhan.
Seorang pendidik mengajar, tetapi ia tidak menciptakan hidayah di dalam hati.
Seorang dai berdakwah, tetapi ia tidak menguasai hati manusia.
Allah berfirman:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” (QS. al-Qasas [28]: 56)
Maka kewajiban manusia adalah menunaikan tugasnya, sedangkan hasil akhirnya dikembalikan kepada Allah.
Inilah yang menjadikan seorang mukmin mampu bekerja keras tanpa menjadi sombong ketika berhasil dan mampu tetap teguh ketika hasil belum sesuai harapan.