Dalil Utama
Setelah memahami bahwa Allah سبحانه وتعالى mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang azali, pembahasan berikutnya adalah tentang penulisan takdir.
Dalam iman kepada qadar, Ahlus Sunnah menetapkan bahwa Allah سبحانه وتعالى telah mengetahui segala sesuatu sebelum terjadinya, dan Allah telah menuliskan apa yang Dia ketahui.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿أَلَمْ تَعْلَمْ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ إِنَّ ذَٰلِكَ فِي كِتَابٍ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ﴾»
“Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya yang demikian itu terdapat dalam sebuah Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.” (QS. Al-Ḥajj [22]: 70)
Ayat ini menghimpun dua perkara yang sangat penting:
Pertama:
«عِلْمُ اللَّهِ»
Ilmu Allah.
Kedua:
«كِتَابَةُ الْمَقَادِيرِ»
Penulisan segala ketentuan.
Allah mengetahui segala sesuatu, kemudian apa yang diketahui-Nya itu dituliskan sesuai dengan ilmu-Nya yang sempurna.
Oleh karena itu, penulisan takdir bukanlah ilmu baru yang muncul setelah suatu peristiwa terjadi.
Bukan pula berarti Allah baru mengetahui sesuatu setelah sesuatu tersebut ditulis.
Justru:
«الْكِتَابَةُ تَابِعَةٌ لِلْعِلْمِ»
Penulisan mengikuti ilmu.
Allah mengetahui sebelum menuliskan.
Dan Allah menuliskan berdasarkan ilmu-Nya yang meliputi segala sesuatu.
Penulisan Takdir Tidak Berarti Pemaksaan
Di sinilah muncul pertanyaan: “Jika seluruh kehidupan manusia telah ditulis, apakah manusia masih perlu berusaha?”
Jawabannya adalah: “Ya. Manusia tetap wajib berusaha.”
Penulisan sesuatu tidak sama dengan memaksa sesuatu.
Sebagaimana telah dijelaskan dalam Kaidah Kedua: “Ilmu Allah tidak sama dengan pemaksaan.”
Demikian pula: “Penulisan takdir tidak berarti manusia menjadi makhluk yang tidak memiliki kehendak.”
Allah telah menulis apa yang akan terjadi.
Namun manusia tetap menjalani kehidupannya melalui:
- kehendak;
- pilihan;
- usaha;
- keputusan;
- dan amal.
Allah mengetahui dan menuliskan bahwa seorang hamba akan melakukan suatu perbuatan.
Tetapi ketika perbuatan itu terjadi, hamba tersebut benar-benar melakukannya dengan kehendak yang Allah berikan kepadanya.
Karena itu, kita harus membedakan antara:
«كِتَابَةُ الْقَدَرِ»
Penulisan takdir,
dan:
«إِجْبَارُ الْعَبْدِ»
Pemaksaan seorang hamba.
Keduanya bukan satu perkara.
Dalil tentang Penulisan Takdir
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا﴾»
“Tidaklah suatu musibah menimpa di bumi dan tidak pula pada diri kalian melainkan telah tertulis dalam sebuah Kitab sebelum Kami mewujudkannya.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 22)
Ayat ini menjelaskan bahwa apa yang terjadi dalam kehidupan manusia tidak berada di luar ilmu dan ketentuan Allah سبحانه وتعالى.
Sebelum suatu peristiwa terjadi, Allah telah mengetahuinya dan menuliskannya.
Namun ayat ini tidak mengajarkan manusia untuk berhenti berusaha.
Justru kelanjutan ayat tersebut menjelaskan hikmah keimanan kepada qadar:
«﴿لِكَيْلَا تَأْسَوْا عَلَىٰ مَا فَاتَكُمْ وَلَا تَفْرَحُوا بِمَا آتَاكُمْ﴾»
“Agar kalian tidak terlalu bersedih terhadap apa yang luput dari kalian dan tidak pula terlalu membanggakan diri terhadap apa yang diberikan kepada kalian.” (QS. Al-Ḥadīd [57]: 23)
Inilah salah satu buah besar dari iman kepada penulisan takdir.
Manusia tetap berusaha.
Namun ia tidak hancur oleh sesuatu yang luput darinya.
Ia juga tidak sombong ketika memperoleh keberhasilan.
Karena ia mengetahui bahwa seluruh hasil akhir berada dalam ilmu dan ketetapan Allah سبحانه وتعالى.
Rasulullah ﷺ Mengajarkan Amal, Bukan Pasrah Tanpa Usaha
Pemahaman bahwa segala sesuatu telah ditulis pernah ditanyakan kepada Rasulullah ﷺ.
Para sahabat bertanya tentang takdir dan amal.
Apakah manusia cukup bersandar kepada apa yang telah ditulis atau tetap harus beramal?
Rasulullah ﷺ menjawab:
«اعْمَلُوا فَكُلٌّ مُيَسَّرٌ لِمَا خُلِقَ لَهُ»
“Beramallah kalian, karena setiap orang akan dimudahkan menuju apa yang diciptakan baginya.” Hadis ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.
Jawaban Rasulullah ﷺ sangat penting.
Beliau tidak mengatakan: “Jangan beramal karena semuanya telah ditulis.”
Beliau justru mengatakan:
«اعْمَلُوا»
“Beramallah kalian.”
Inilah manhaj Nabi ﷺ dalam memahami qadar.
Iman kepada takdir tidak melahirkan kemalasan.
Sebaliknya, iman kepada qadar mendorong manusia untuk melakukan amal.
Sebab manusia tidak mengetahui apa yang tertulis baginya.
Yang diketahui manusia adalah:
- perintah Allah;
- larangan Allah;
- jalan kebaikan;
- dan kewajiban untuk berusaha.
Adapun apa yang tersembunyi di masa depan adalah bagian dari ilmu Allah سبحانه وتعالى.
Manusia tidak diperintahkan untuk mencari apa yang tertulis dalam catatan takdir.
Manusia diperintahkan untuk menjalankan apa yang telah diperintahkan oleh Allah.
Mengapa Manusia Tetap Wajib Berikhtiar?
Salah satu kesalahan dalam memahami qadar adalah anggapan bahwa: “Jika sesuatu sudah ditulis, maka usaha tidak ada gunanya.”
Pemikiran ini bertentangan dengan kenyataan kehidupan dan bertentangan dengan perintah agama.
Allah سبحانه وتعالى menjadikan kehidupan ini berjalan dengan:
«الأَسْبَاب»
Sebab-sebab.
Manusia diperintahkan untuk mengambil sebab.
Orang yang lapar diperintahkan untuk makan.
Orang yang haus minum.
Orang yang sakit berobat.
Orang yang ingin memperoleh ilmu belajar.
Orang yang ingin mendapatkan rezeki bekerja.
Dan orang yang ingin memperoleh hidayah diperintahkan untuk mencari jalan Allah.
Mengambil sebab tidak bertentangan dengan tawakal.
Justru meninggalkan sebab yang diperintahkan sering kali merupakan bentuk kesalahan dalam memahami tawakal.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ﴾»
“Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya.” (QS. Al-Mulk [67]: 15)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia diperintahkan untuk bergerak dan berusaha.
Rezeki berasal dari Allah.
Namun manusia tetap diperintahkan untuk:
«فَامْشُوا»
“Berjalanlah.”
Inilah keseimbangan antara:
«الأَخْذُ بِالْأَسْبَابِ»
“Mengambil sebab,”
dan:
«التَّوَكُّلُ عَلَى اللَّهِ»
“Bertawakal kepada Allah.”
Penulisan Takdir dan Sebab Akibat
Allah سبحانه وتعالى telah menuliskan hasil.
Namun Allah juga telah menuliskan: “sebab-sebab yang mengantarkan kepada hasil tersebut.”
Ketika Allah menulis bahwa seseorang akan memperoleh rezeki, Allah juga dapat menjadikan:
- usaha;
- pekerjaan;
- perdagangan;
- pertanian;
- ilmu;
- atau sebab lainnya,
sebagai jalan datangnya rezeki tersebut.
Ketika Allah menulis kesembuhan bagi seseorang, Allah dapat menjadikan:
- pengobatan;
- dokter;
- obat;
- doa;
- dan kesabaran,
sebagai sebab menuju kesembuhan.
Demikian pula dalam hidayah.
Allah memberikan hidayah kepada hamba-Nya melalui berbagai sebab, di antaranya:
- mendengar Al-Qur’an;
- menghadiri majelis ilmu;
- membaca;
- bertafakur;
- bertaubat;
- berdoa;
- dan membersihkan hati.
Karena itu, seseorang tidak boleh berkata: “Jika Allah menulis saya mendapat hidayah, saya pasti mendapatkannya tanpa perlu melakukan apa-apa.”
Ucapan tersebut menunjukkan bahwa seseorang belum memahami hubungan antara:
«قَدَر»
Takdir,
dan:
«سَبَب»
Sebab.
Allah سبحانه وتعالى adalah Pencipta hasil.
Dan Allah pula yang menciptakan sebab menuju hasil tersebut.
Bersambung…