Pertanyaan:
Sejauh mana kebenaran penyebutan Surah Al-Kafirun dan Surah Al-Ikhlas dengan sebutan Al-Muqasyqisyatain (dua surah yang membebaskan dari kemunafikan)? Apakah benar keduanya merupakan pembebas dari kemunafikan?
Jawaban:
Segala puji bagi Allah. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah ﷺ. Amma ba’du.
Penyebutan dua surah, yaitu Surah Al-Kafirun dan Surah Al-Ikhlas, dengan sebutan Al-Muqasyqisyatain tidak ditemukan dalam nash wahyu, baik Al-Qur’an maupun hadis Nabi ﷺ. Akan tetapi, penyebutan tersebut terdapat dalam atsar yang dinukil dari kalangan salaf dan ahli bahasa.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Qatadah meriwayatkan dari Zurarah bin Aufa bahwa Surah Al-Kafirun dahulu disebut dengan nama Al-Muqasyqisyah.” (Lihat Majmu’ Al-Fatawa, 16/541).
As-Suyuthi dalam kitab Ad-Durr Al-Mantsur (15/712) menisbatkan riwayat tersebut kepada Ibnu Abi Hatim.
Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Syu’ab Al-Iman (4/133), ia berkata: Telah mengabarkan kepada kami Abu Thahir Al-Faqih, telah menceritakan kepada kami Abu Utsman Al-Bashri, ia berkata: Abu Ahmad Al-Farra’ berkata, aku mendengar Sya’bal menceritakan dari Al-Ashma’i, dari Abu Amr bin Al-‘Ala, ia berkata: “Surah قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ dahulu disebut Al-Muqasyqisyah, yakni surah yang membebaskan dari kesyirikan. Dikatakan قَشْقَشَ الْبَعِيرُ (qasyqasyal-ba’iru) apabila seekor unta telah melepaskan penyakit kudisnya.”
Maksud perkataan “melepaskan penyakit kudisnya” adalah sembuh dari penyakit yang dideritanya.
Ibnu Khalawaih rahimahullah berkata:
“Ibnu Duraid mengabarkan kepadaku dari Abu Hatim, dari Abu Ubaidah, bahwa Surah قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ dan قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ disebut dengan nama Al-Muqasyqisyatain. Maknanya adalah dua surah yang membebaskan dari kekufuran dan kemunafikan.” (Lihat I’rab Al-Qira’at As-Sab’ wa ‘Ilaluha, 2/544).
Dengan demikian, makna kata Al-Qasyqasyah adalah kesembuhan, terbebas dari penyakit, dan hilangnya suatu penyakit.
Ibnu Qutaibah rahimahullah berkata: “Disebutkan dalam hadis bahwa Surah قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ dan قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ dinamakan Al-Muqasyqisyatain. Ar-Riyasyi telah menceritakan kepadaku dari Al-Ashma’i, dari Abu Amr bin Al-‘Ala, bahwa ia berkata: Keduanya dinamakan demikian karena membebaskan dari kesyirikan.” (Lihat Gharib Al-Hadits, 3/740).
Ibnu Al-Atsir rahimahullah berkata: “Surah قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ dan قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ disebut Al-Muqasyqisyatain, yaitu dua surah yang membebaskan dari kemunafikan dan kesyirikan, sebagaimana orang sakit sembuh dari penyakitnya. Dikatakan تَقَشْقَشَ الْمَرِيضُ (taqasyqasyal-maridhu) apabila orang sakit telah pulih dan sembuh.” (Lihat An-Nihayah fi Gharib Al-Hadits wa Al-Atsar, 4/66).
Penyebutan kedua surah tersebut dengan nama ini adalah benar dan tidak mengandung masalah. Sebab, Al-Qur’an merupakan obat bagi berbagai penyakit hati.
Allah Ta’ala berfirman:
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا
“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman, sedangkan bagi orang-orang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’: 82).
Ibnu Katsir rahimahullah berkata:
“Firman Allah, ‘menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman’, maksudnya adalah menghilangkan berbagai penyakit yang terdapat di dalam hati, seperti keraguan, kemunafikan, kesyirikan, penyimpangan, dan kecenderungan kepada kebatilan. Al-Qur’an merupakan obat bagi semua penyakit tersebut.” (Lihat Tafsir Ibnu Katsir, 5/113).
Kedua surah ini memberikan penekanan pada peneguhan tauhid dan pemurnian ibadah hanya kepada Allah.
Ibnu Qayyim rahimahullah berkata:
“Sesungguhnya kedua surah ini merupakan dua surah yang memurnikan tauhid (Surat Al-Ikhlas). Keduanya mencakup dua macam tauhid yang menjadi sebab keselamatan dan keberuntungan seorang hamba. Keduanya adalah tauhid ilmu dan keyakinan, serta tauhid tujuan dan kehendak.
Tauhid ilmu dan keyakinan mencakup penyucian Allah dari segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, seperti kesyirikan, kekufuran, serta memiliki anak atau orang tua. Allah adalah Tuhan Yang Maha Esa dan tempat bergantung segala sesuatu. Dia tidak beranak sehingga memiliki keturunan, dan tidak pula diperanakkan sehingga memiliki asal-usul. Tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya sehingga Dia memiliki tandingan.
Di samping itu, Allah adalah Ash-Shamad, Dzat yang memiliki seluruh sifat kesempurnaan. Surah ini menetapkan segala sifat kesempurnaan yang layak bagi keagungan-Nya dan meniadakan segala sesuatu yang tidak layak bagi-Nya, baik sekutu, asal-usul, keturunan, maupun tandingan. Inilah tauhid ilmu dan keyakinan.
Adapun yang kedua adalah tauhid tujuan dan kehendak, yaitu seseorang tidak menyembah selain Allah dan tidak mempersekutukan-Nya dengan siapa pun dalam ibadah. Hanya Allah semata yang menjadi sesembahan.
Surah قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ mengandung tauhid ini. Dengan demikian, kedua surah tersebut telah mencakup dua macam tauhid dan memurnikan keduanya hanya untuk Allah.” (Lihat Bada’i Al-Fawa’id, 1/243).
Barang siapa yang senantiasa membaca kedua surah tersebut dengan penuh penghayatan dan kecintaan, maka hal itu termasuk sebab yang menjauhkan penyakit kesyirikan dan kemunafikan dari hatinya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata:
“Surah ini merupakan Al-Muqasyqisyah yang membersihkan hati dari kesyirikan, sebagaimana orang sakit sembuh dari penyakitnya. Sebab, kesyirikan dan kekufuran merupakan penyakit hati yang paling besar.
Seorang mukmin diperintahkan untuk mengucapkan kalimat yang menanamkan dalam hatinya sikap berlepas diri dari kesyirikan, sesuatu yang sebelumnya belum tentu dimiliki oleh hatinya. Setiap kali ia mengucapkannya, semakin bertambah sikap berlepas dirinya dari kesyirikan, sehingga hatinya pun semakin sembuh dari penyakit tersebut.” (Lihat Majmu’ Al-Fatawa, 16/560).
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Al-Musnad (39/224), Abu Dawud (5055), At-Tirmidzi (3403), dan selain keduanya, dari Farwah bin Naufal Al-Asyja’i, dari ayahnya, bahwa Nabi ﷺ pernah bersabda kepada Naufal:
اقْرَأْ قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ ثُمَّ نَمْ، عَلَى خَاتِمَتِهَا، فَإِنَّهَا بَرَاءَةٌ مِنَ الشِّرْكِ
“Bacalah قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ, kemudian tidurlah setelah mengakhiri bacaanmu dengannya. Sesungguhnya surah tersebut merupakan pembebasan dari kesyirikan.”
Al-Hafizh Ibnu Hajar menilai hadis ini hasan dalam kitab Nata’ij Al-Afkar (3/61).
Wallahu a’lam.
Sumber: Diterjemahkan dari https://islamqa.info/ar/answers/664019/



