BAB II Bag 10: Bashirah: Cahaya Ilmu, Iman, dan Kehidupan Hati

8. Mahabbah Melahirkan Ittibā‘

Inilah titik yang menjadi tujuan pembahasan kita.

Allah tidak mengatakan:

“Jika kalian mencintai Allah, maka bicarakan tentang Aku.”

Allah berfirman:

فَاتَّبِعُونِي

“Maka ikutilah aku.”

Karena cinta yang benar akan mencari kesesuaian dengan yang dicintai.

Orang yang mencintai Rasulullah ﷺ akan bertanya:

  • Bagaimana Rasulullah ﷺ beriman?

  • Bagaimana beliau beribadah?

  • Bagaimana beliau memperlakukan keluarganya?

  • Bagaimana beliau memperlakukan sahabatnya?

  • Bagaimana beliau menghadapi musuh?

  • Bagaimana beliau bersabar?

  • Bagaimana beliau berdakwah?

  • Bagaimana beliau memimpin?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut bukan sekadar untuk mengetahui sejarah. Semuanya diarahkan kepada satu tujuan:

كَيْفَ أَكُونُ مِنَ الْمُتَّبِعِينَ لَهُ؟

“Bagaimana saya dapat menjadi bagian dari orang-orang yang mengikuti beliau?”

9. Ittibā‘ Melahirkan Ṭā‘ah

Setelah seseorang mengetahui dan mencintai petunjuk Rasulullah ﷺ, konsekuensi berikutnya adalah ketaatan.

Allah berfirman:

مَّن يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barang siapa menaati Rasul, sungguh ia telah menaati Allah.” (QS. an-Nisā’ [4]: 80).

Maka, ittibā‘ bukan berhenti pada kekaguman.

Ia harus masuk ke dalam:

طَاعَة

“Ketaatan.”

Di sinilah kualitas pengikut diuji.

Sebab, seseorang dapat mengagumi Rasulullah ﷺ tetapi belum tentu menaati beliau.

Seseorang dapat banyak berbicara tentang Sunnah tetapi belum tentu hidup berdasarkan Sunnah.

Seseorang dapat mencintai kisah kehidupan Rasulullah ﷺ tetapi belum tentu menjadikan beliau sebagai uswah.

Karena itu:

الِاتِّبَاعُ الصَّادِقُ يَظْهَرُ فِي الطَّاعَةِ

“Ittibā‘ yang benar tampak dalam ketaatan.”

10. Ketaatan Melahirkan Akhlak

Tujuan akhirnya bukan sekadar banyaknya aktivitas keagamaan, tetapi perubahan manusia.

Allah memuji Rasulullah ﷺ:

وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

“Sesungguhnya engkau benar-benar berada di atas akhlak yang agung.” (QS. al-Qalam [68]: 4).

Karena itu, semakin seseorang mengikuti Rasulullah ﷺ, semestinya semakin tampak pengaruhnya pada:

  • kejujuran,

  • amanah,

  • kesabaran,

  • kelembutan,

  • keadilan,

  • kasih sayang,

  • keberanian dalam kebenaran,

  • pengendalian amarah,

  • penghormatan kepada manusia,

  • kemampuan menahan diri dari kezaliman.

Inilah yang menjadikan akhlak sebagai salah satu buah ittibā‘.

11. Akhlak yang Benar Melahirkan Ukhuwah

Pengikut Rasulullah ﷺ tidak dibentuk menjadi individu yang hanya memikirkan keselamatan dirinya.

Allah berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.” (QS. al-Hujurāt [49]: 10).

Karena itu, proses pembentukan pengikut Rasulullah ﷺ memiliki dimensi individual sekaligus sosial.

Ia dimulai dari hati individu:

Iman → tazkiyah → bashīrah → mahabbah → ittibā‘.

Tetapi hasilnya harus meluas kepada:

Akhlak → ukhuwah → ta‘āwun → kemaslahatan.

Dengan demikian, manusia yang dibentuk oleh manhaj Rasulullah ﷺ bukan manusia yang hanya saleh secara individual, tetapi juga berusaha menjadi sumber kebaikan bagi manusia lain.

12. Dari Ukhuwah Menuju Kekuatan yang Rasyidah

Ketika individu-individu yang memiliki bashīrah, iman, ittibā‘, dan akhlak berkumpul, terbentuklah masyarakat yang memiliki kekuatan.

Namun, kekuatan dalam manhaj Qur’ani bukan sekadar jumlah, harta, jabatan, atau kekuasaan.

Kekuatan harus dibangun di atas:

Iman → ilmu → ukhuwah → disiplin → kesabaran → ketaatan.

Allah berfirman:

وَأَطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ وَلَا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ وَاصْبِرُوا إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian. Bersabarlah. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. al-Anfāl [8]: 46).

Ayat ini memperlihatkan hubungan antara:

Ketaatan → persatuan → kekuatan → kesabaran.

Maka, ukhuwah bukan sekadar perasaan persaudaraan. Ia menjadi salah satu infrastruktur kekuatan umat.

13. Rangkaian Utuh Manhaj Pembentukan Pengikut Rasulullah ﷺ

Dari seluruh ayat yang telah kita bahas, dapat dirumuskan struktur manhaj pembentukan pengikut Rasulullah ﷺ:

الْوَحْيُ

↓

التِّلَاوَةُ

↓

حَيَاةُ الْقَلْبِ

↓

التَّزْكِيَةُ

↓

التَّعْلِيمُ وَالتَّفَقُّهُ

↓

الْإِيمَانُ وَالْيَقِينُ

↓

الْبَصِيرَةُ

↓

الْمَحَبَّةُ

↓

الِاتِّبَاعُ

↓

الطَّاعَةُ

↓

الْأَخْلَاقُ

↓

الْأُخُوَّةُ

↓

الْقُوَّةُ الرَّاشِدَةُ

Wahyu → tilāwah → kehidupan hati → tazkiyah → ta‘līm dan tafaqquh → iman dan yaqīn → bashīrah → mahabbah → ittibā‘ → ketaatan → akhlak → ukhuwah → kekuatan yang rasyidah.

Inilah yang dapat kita sebut sebagai manhaj pembentukan pengikut Rasulullah ﷺ.

14. Mengapa Urutan Ini Tidak Boleh Dibalik Secara Sembarangan?

Di sinilah terdapat pelajaran metodologis yang sangat penting.

Apabila seseorang langsung memberikan ta‘līm tanpa membangun kehidupan hati dan tazkiyah, pendidikan dapat berubah menjadi transfer pengetahuan semata.

Apabila seseorang membangun semangat tanpa ilmu, ia dapat memiliki keberanian tetapi kehilangan bashīrah.

Apabila seseorang berbicara tentang ittibā‘ tanpa bashīrah, ia dapat mengikuti sesuatu yang dianggap Sunnah padahal pemahamannya belum benar.

Apabila seseorang berbicara tentang kekuatan umat tanpa tazkiyah dan ukhuwah, kekuatan dapat berubah menjadi perebutan pengaruh.

Karena itu, manhaj kenabian bukan hanya persoalan apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana manusia dibentuk melalui tahapan yang benar.

Inilah alasan Al-Qur’an mengulang struktur:

يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ

“Membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (QS. al-Jumu‘ah [62]: 2; lihat pula QS. al-Baqarah [2]: 129, 151 dan Āli ‘Imrān [3]: 164).

Dengan demikian, tilāwah, tazkiyah, dan ta‘līm bukan tiga program yang berdiri sendiri, tetapi tiga unsur yang saling menyempurnakan dalam pembentukan manusia.

15. Kesimpulan: Pengikut Rasul adalah Hasil dari Proses Tarbiyah Wahyu

Dari pembahasan ini kita memperoleh kesimpulan yang sangat penting.

Pengikut Rasulullah ﷺ tidak dibentuk pertama-tama dengan slogan “ikuti Sunnah”, tetapi dengan proses wahyu yang menghidupkan hati, menyucikan jiwa, membangun ilmu, meneguhkan iman dan yaqīn, melahirkan bashīrah, menumbuhkan mahabbah, kemudian mengubah cinta itu menjadi ittibā‘ dan ketaatan.

Karena itu, pembentukan pengikut Rasulullah ﷺ dapat dirumuskan:

الوَحْيُ يُنِيرُ، وَالتِّلَاوَةُ تُحَرِّكُ، وَالتَّزْكِيَةُ تُطَهِّرُ، وَالتَّعْلِيمُ يُبَصِّرُ، وَالْإِيمَانُ يُثَبِّتُ، وَالْيَقِينُ يُرَسِّخُ، وَالْبَصِيرَةُ تُوَجِّهُ، وَالْمَحَبَّةُ تَدْفَعُ، وَالِاتِّبَاعُ يُحَقِّقُ، وَالطَّاعَةُ تُثْمِرُ الْأَخْلَاقَ وَالْعَمَلَ.

“Wahyu menerangi; tilāwah menggerakkan; tazkiyah membersihkan; ta‘līm memberikan pemahaman; iman meneguhkan; yaqīn mengokohkan; bashīrah mengarahkan; mahabbah mendorong; ittibā‘ mewujudkan perjalanan; dan ketaatan menghasilkan akhlak serta amal.”

Maka, hakikat pengikut Rasulullah ﷺ bukan sekadar orang yang mengetahui siapa Rasulullah ﷺ, melainkan orang yang dibentuk oleh petunjuk Rasulullah ﷺ sampai petunjuk tersebut tampak dalam cara ia beriman, berpikir, beribadah, berakhlak, bermuamalah, menghadapi perbedaan, menghadapi ujian, dan menjalani kehidupan.

Dan dari sinilah kita dapat memahami kembali firman Allah:

أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Aku dan orang-orang yang mengikutiku.”

Pengikut Rasulullah ﷺ bukan hanya identitas, tetapi hasil dari sebuah proses pembentukan.