Segala puji bagi Allah سبحانه وتعالى, Rabb seluruh alam. Kepada-Nya kita memohon pertolongan, petunjuk, ampunan, dan taufik. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad ﷺ, kepada keluarga beliau, para sahabat, dan seluruh orang yang mengikuti jalan beliau hingga hari kiamat.
Buku ini lahir dari sebuah pertanyaan mendasar:
«Bagaimana Al-Qur’an membentuk manusia?»
Pertanyaan ini tampak sederhana, tetapi sesungguhnya membawa kita kepada inti risalah Rasulullah ﷺ.
Ketika Rasulullah ﷺ diutus oleh Allah سبحانه وتعالى, masyarakat Arab berada dalam berbagai bentuk kegelapan. Mereka memiliki kemampuan bahasa, perdagangan, keberanian, dan kekuatan sosial. Akan tetapi, manusia tetap membutuhkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu petunjuk yang mampu membentuk hati, akal, kehendak, dan kehidupan mereka.
Allah سبحانه وتعالى mengutus Rasulullah ﷺ dengan membawa wahyu.
Wahyu tersebut tidak sekadar disampaikan sebagai informasi. Wahyu dibacakan kepada manusia, diresapkan ke dalam hati, dijadikan sarana penyucian jiwa, kemudian diajarkan agar manusia memahami Kitab Allah dan hikmah kehidupan.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ﴾»
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (QS. Al-Jumu‘ah [62]: 2)
Ayat ini memberikan kepada kita sebuah manhaj besar tentang pembentukan manusia:
«التِّلَاوَة → التَّزْكِيَة → التَّعْلِيم»
Tilawah → Tazkiyah → Taklim
Tilawah menghubungkan manusia dengan wahyu.
Tazkiyah membersihkan penghalang yang terdapat dalam jiwa.
Taklim membangun pemahaman, kesadaran, dan cara berpikir.
Dari proses tersebut lahirlah manusia yang memiliki:
«بَصِيرَة»
Bashirah.
Bashirah adalah kemampuan manusia untuk melihat jalan kebenaran dengan cahaya petunjuk Allah. Ia bukan sekadar kecerdasan akal, bukan pula hanya pengetahuan yang tersimpan dalam pikiran. Bashirah adalah kesadaran yang lahir ketika hati, akal, ilmu, iman, dan petunjuk Allah bertemu dalam diri manusia.
Karena itulah Allah سبحانه وتعالى memerintahkan Rasulullah ﷺ untuk mengatakan:
«﴿قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي﴾»
“Katakanlah: Inilah jalanku. Aku menyeru kepada Allah berdasarkan bashirah, aku dan orang-orang yang mengikutiku.” (QS. Yūsuf [12]: 108)
Ayat ini menjadi salah satu dasar utama buku ini.
Dakwah bukan sekadar aktivitas berbicara.
Dakwah bukan hanya menyampaikan informasi.
Dakwah bukan sekadar membangun organisasi.
Dan dakwah bukan semata-mata memperoleh pengaruh atau kekuasaan.
Dakwah adalah proses mengajak manusia:
«إِلَى اللَّهِ»
kepada Allah,
dengan:
«بَصِيرَة»
bashirah.
Karena itu, dakwah Rasulullah ﷺ pada dasarnya adalah perjalanan membentuk manusia.
Manusia yang sebelumnya tidak mengenal Allah menjadi mengenal-Nya.
Manusia yang sebelumnya mengikuti hawa nafsu belajar mengendalikan dirinya.
Manusia yang sebelumnya hidup dalam permusuhan menjadi bersaudara.
Manusia yang sebelumnya memikirkan dirinya sendiri belajar memikul tanggung jawab terhadap sesama.
Dan manusia yang telah mendapatkan petunjuk kemudian menjadi pembawa petunjuk bagi orang lain.
Perjalanan pembentukan tersebut dapat dirumuskan:
«وَحْي → تِلَاوَة → تَزْكِيَة → تَعْلِيم → بَصِيرَة → مَحَبَّة → اتِّبَاع → طَاعَة → أَخْلَاق»
Wahyu → Tilawah → Tazkiyah → Taklim → Bashirah → Mahabbah → Ittiba’ → Tha’ah → Akhlak.