P. Manhaj Pembentukan Pengikut Rasulullah ﷺ
Pendahuluan
Pengikut Rasulullah ﷺ tidak lahir hanya karena seseorang mengetahui nama beliau, mencintai beliau secara emosional, atau mempelajari sejumlah hadis tentang beliau. Pengikut Rasulullah ﷺ dibentuk melalui proses tarbiyah yang bersumber dari wahyu, menyentuh hati, membersihkan jiwa, membangun ilmu dan keyakinan, kemudian mengubah seluruhnya menjadi ittibā‘ dan ketaatan.
Inilah salah satu rahasia penting manhaj Al-Qur’an.
Al-Qur’an tidak sekadar memberikan manusia sejumlah informasi tentang apa yang benar dan salah. Al-Qur’an membentuk manusia yang mampu mengenali kebenaran, mencintai kebenaran, tunduk kepada kebenaran, kemudian berjalan dan mengajak manusia kepada kebenaran tersebut.
Karena itu, pembentukan pengikut Rasulullah ﷺ tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan bashīrah.
Allah berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah: Inilah jalanku; aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah berdasarkan bashirah. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Yūsuf [12]: 108).
Ayat ini sangat penting karena Allah tidak hanya mengatakan:
أَدْعُو إِلَى اللَّهِ
“Aku berdakwah kepada Allah.”
Tetapi:
عَلَىٰ بَصِيرَةٍ
“Di atas bashirah.”
Kemudian langsung menyebut:
أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي
“Aku dan orang-orang yang mengikutiku.”
Dengan demikian, bashīrah dan ittibā‘ memiliki hubungan yang sangat erat. Rasulullah ﷺ berjalan di atas bashīrah, dan orang yang mengikuti beliau juga dituntut berjalan di atas bashīrah.
1. Pengikut Rasulullah ﷺ Dibentuk oleh Wahyu
Sumber pertama pembentukan manusia dalam manhaj kenabian adalah wahyu.
Allah berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَىٰ صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
“Sungguh telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan Kitab yang menjelaskan. Dengan Kitab itu Allah memberi petunjuk kepada orang-orang yang mengikuti keridaan-Nya menuju jalan-jalan keselamatan, mengeluarkan mereka dari berbagai kegelapan menuju cahaya dengan izin-Nya, dan menunjukkan mereka kepada jalan yang lurus.” (QS. al-Mā’idah [5]: 15–16).
Perhatikan susunan ayat tersebut.
Ada:
نور → هداية → اتباع → صراط مستقيم
Cahaya → petunjuk → mengikuti keridaan Allah → jalan yang lurus.
Ini menunjukkan bahwa manusia tidak dapat membentuk dirinya menjadi pengikut Rasulullah ﷺ hanya berdasarkan konstruksi akalnya sendiri.
Ia membutuhkan cahaya wahyu.
Wahyu memberikan standar kebenaran. Wahyu menunjukkan jalan. Wahyu membimbing hati. Wahyu kemudian melahirkan manusia yang mampu berjalan di atas jalan tersebut.
2. Wahyu Masuk Melalui Tilāwah
Setelah wahyu menjadi sumber, Al-Qur’an menunjukkan salah satu proses pertama pembentukan manusia, yaitu tilāwah.
Allah berfirman:
كَمَا أَرْسَلْنَا فِيكُمْ رَسُولًا مِّنكُمْ يَتْلُو عَلَيْكُمْ آيَاتِنَا وَيُزَكِّيكُمْ وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَيُعَلِّمُكُم مَّا لَمْ تَكُونُوا تَعْلَمُونَ
“Sebagaimana Kami telah mengutus kepada kalian seorang Rasul dari kalangan kalian, yang membacakan kepada kalian ayat-ayat Kami, menyucikan kalian, mengajarkan kepada kalian Kitab dan Hikmah, dan mengajarkan kepada kalian apa yang belum kalian ketahui.” (QS. al-Baqarah [2]: 151).
Ayat ini memberikan struktur pendidikan kenabian yang sangat penting:
يَتْلُو → وَيُزَكِّي → وَيُعَلِّمُ
Tilāwah → tazkiyah → ta‘līm.
Tilāwah bukan sekadar membaca suara dan huruf.
Tilāwah adalah membacakan wahyu agar manusia berhadapan dengan firman Allah, sehingga ayat tersebut masuk ke dalam kesadaran, menggugah hati, kemudian membentuk jiwa.
Karena itu, tilāwah merupakan pintu masuk menuju pembentukan pengikut Rasulullah ﷺ.
3. Tilāwah Harus Menghidupkan Hati
Jika tilāwah berhenti pada lisan, proses pembentukan belum sempurna.
Al-Qur’an menggambarkan pengaruh ayat kepada orang beriman.
Allah berfirman:
إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Sesungguhnya orang-orang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah, hati mereka bergetar, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambah iman mereka, dan kepada Tuhan mereka bertawakal.” (QS. al-Anfāl [8]: 2).
Perhatikan bahwa ayat tidak berhenti pada tilāwah.
Ayat yang dibaca melahirkan:
وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ
“Hati mereka bergetar.”
Kemudian:
زَادَتْهُمْ إِيمَانًا
“Bertambah iman mereka.”
Lalu:
وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Kepada Tuhan mereka bertawakal.”
Inilah perubahan yang menjadi tujuan.
Maka dapat dirumuskan:
التِّلَاوَةُ الَّتِي لَا تُحَرِّكُ الْقَلْبَ لَمْ تَبْلُغْ غَايَتَهَا بَعْدُ
“Tilāwah yang belum menggerakkan hati belum mencapai tujuan akhirnya.”
Bukan berarti bacaan tersebut tidak bernilai ibadah. Membaca Al-Qur’an tetap merupakan ibadah. Yang dimaksud adalah bahwa fungsi tarbawinya belum mencapai seluruh tujuan yang dikehendaki apabila tidak menghasilkan perubahan hati dan perilaku.
4. Hati yang Hidup Menjadi Tempat Tumbuhnya Tazkiyah
Setelah hati tersentuh wahyu, proses berikutnya adalah tazkiyah.
Allah berfirman:
قَدْ أَفْلَحَ مَن زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَن دَسَّاهَا
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. asy-Syams [91]: 9–10).
Tazkiyah berarti membersihkan jiwa dari penyakit yang menghalangi manusia menerima kebenaran sekaligus menumbuhkan sifat-sifat yang diridai Allah.
Di sinilah kita memahami mengapa ilmu saja tidak selalu melahirkan pengikut Rasulullah ﷺ.
Seseorang mungkin mengetahui banyak dalil, tetapi apabila hatinya dipenuhi:
-
kesombongan,
-
fanatisme,
-
cinta dunia,
-
iri,
-
dengki,
-
riya,
-
ujub,
-
hawa nafsu,
maka ilmu dapat kehilangan daya transformasinya.
Karena itu, Rasulullah ﷺ tidak hanya mengajarkan ilmu. Beliau juga mentazkiyah manusia.
5. Setelah Tazkiyah, Datang Ta‘līm yang Membentuk Pemahaman
Allah berfirman:
وَيُعَلِّمُكُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dan Dia mengajarkan kepada kalian Kitab dan Hikmah.” (QS. al-Baqarah [2]: 151).
Ta‘līm diperlukan agar hati yang telah menerima wahyu tidak hanya memiliki semangat, tetapi juga pemahaman yang benar.
Sebab, semangat tanpa ilmu dapat membawa seseorang kepada tindakan yang tidak sesuai dengan Sunnah.
Sebaliknya, ilmu tanpa tazkiyah dapat menghasilkan manusia yang mengetahui banyak hal tetapi tidak tunduk kepada apa yang diketahuinya.
Maka:
التَّزْكِيَةُ بِغَيْرِ التَّعْلِيمِ قَدْ تُنْتِجُ حَمَاسَةً بِغَيْرِ بَصِيرَةٍ، وَالتَّعْلِيمُ بِغَيْرِ التَّزْكِيَةِ قَدْ يُنْتِجُ عِلْمًا بِغَيْرِ أَثَرٍ
“Tazkiyah tanpa ta‘līm dapat menghasilkan semangat tanpa bashirah, sedangkan ta‘līm tanpa tazkiyah dapat menghasilkan ilmu tanpa pengaruh yang nyata.”
Karena itu, manhaj kenabian menggabungkan pembersihan hati dan pembentukan ilmu.
6. Ilmu Harus Berubah Menjadi Iman dan Yaqīn
Ilmu belum menjadi bashīrah sebelum ilmu tersebut masuk ke wilayah iman dan keyakinan.
Allah berfirman:
وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِّلْمُوقِنِينَ
“Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin.” (QS. adz-Dzāriyāt [51]: 20).
Yaqīn membuat seseorang tidak hanya berkata:
“Saya tahu bahwa ini benar.”
Tetapi:
“Saya meyakini kebenaran ini sehingga saya bersedia menundukkan diri kepadanya.”
Di sinilah terjadi transformasi dari ma‘rifah menuju bashīrah.
Ilmu memberikan informasi.
Iman memberikan penerimaan.
Yaqīn memberikan keteguhan.
Bashīrah memberikan kemampuan melihat jalan kebenaran dengan kejernihan hati.
7. Bashīrah Melahirkan Mahabbah
Ketika seseorang mengenal Allah dan Rasul-Nya dengan benar, hati akan tumbuh kecintaan.
Allah berfirman:
قُلْ إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ
“Katakanlah: Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian.” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 31).
Ayat ini memperlihatkan hubungan yang sangat indah:
Ma‘rifah → mahabbah → ittibā‘.
Semakin benar seseorang mengenal Allah, semakin benar pula cintanya kepada Allah.
Semakin benar cintanya kepada Allah, semakin kuat keinginannya mengikuti Rasulullah ﷺ.
Dengan demikian, ittibā‘ bukan sekadar kewajiban hukum yang kering dari cinta, tetapi buah dari cinta yang dibangun di atas pengenalan dan keyakinan.



