C. BASHIRAH BUKAN SEKADAR ILMU
Kesalahan pertama dalam memahami bashirah adalah menyamakannya dengan ilmu.
Ilmu memang merupakan salah satu unsur utama bashirah, tetapi ilmu bukan bashirah itu sendiri.
Allah berfirman:
وَجَحَدُوا بِهَا وَاسْتَيْقَنَتْهَا أَنْفُسُهُمْ ظُلْمًا وَعُلُوًّا
“Mereka mengingkarinya, padahal hati mereka meyakininya, karena kezaliman dan kesombongan.” (QS. an-Naml [27]: 14)
Ayat ini memberikan pelajaran yang sangat dalam.
Ada manusia yang mengetahui kebenaran, bahkan meyakininya secara batin, tetapi tetap menolaknya karena kesombongan.
Berarti, pengetahuan saja tidak menjamin seseorang mengikuti kebenaran.
Di sinilah bashirah menjadi penting.
Bashirah bukan hanya membuat seseorang melihat, tetapi membuatnya memiliki kesiapan untuk mengikuti apa yang telah dilihatnya sebagai kebenaran.
Oleh karena itu, semakin sempurna bashirah seseorang, seharusnya semakin dekat pula hubungan antara:
Ilmu → iman → hati → amal.
Jika ilmu bertambah, tetapi kesombongan bertambah, maka ada persoalan pada hati.
Jika pengetahuan bertambah, tetapi akhlak memburuk, maka ilmu tersebut belum menjadi bashirah yang sempurna.
Jika seseorang semakin banyak berbicara tentang agama, tetapi semakin mudah merendahkan manusia, maka perlu dipertanyakan apakah ilmu itu telah benar-benar menerangi hatinya.
Bashirah seharusnya menghasilkan ketundukan kepada Allah, bukan sekadar kemenangan dalam perdebatan.
D. ASAL BASHIRAH: DARI ALLAH, MELALUI WAHYU, DITERIMA OLEH HATI
Setelah memahami hakikat bashirah, kita sampai pada pertanyaan berikutnya: dari mana bashirah itu berasal?
Jawabannya harus dikembalikan kepada sumber petunjuk.
Allah adalah sumber segala hidayah.
Allah berfirman:
وَلَٰكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ وَكَرَّهَ إِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوقَ وَالْعِصْيَانَ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الرَّاشِدُونَ
“Akan tetapi, Allah menjadikan kalian mencintai iman dan menjadikannya indah dalam hati kalian, serta menjadikan kalian membenci kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.” (QS. al-Hujurat [49]: 7)
Ayat ini menunjukkan hubungan yang sangat erat antara iman, hati, kecintaan kepada kebenaran, dan rusyd.
Bashirah bukan cahaya yang muncul secara independen dari manusia.
Ia adalah bagian dari proses hidayah Allah yang diterima oleh hati, kemudian diolah melalui ilmu, tadabbur, tazkiyah, dan amal.
Karena itu, kita dapat menggambarkan proses pembentukan bashirah sebagai berikut:
الوَحْيُ → التِّلَاوَةُ → تَحَرُّكُ الْقَلْبِ → التَّزْكِيَةُ → التَّعَلُّمُ وَالْفَهْمُ → الْيَقِينُ → الْبَصِيرَةُ → الْعَمَلُ وَالِاتِّبَاعُ
Wahyu → tilawah → hati tergerak → tazkiyah → belajar dan memahami → keyakinan → bashirah → amal dan ittiba‘.
Urutan ini sangat penting.
Sebab, jika proses tersebut diputus, pembentukan manusia menjadi tidak utuh.
Ilmu tanpa tazkiyah dapat menghasilkan kekeringan hati.
Tazkiyah tanpa ilmu dapat menghasilkan perasaan spiritual tanpa arah.
Semangat tanpa bashirah dapat menghasilkan tindakan yang tidak tepat.
Ilmu tanpa ittiba‘ dapat berhenti menjadi pengetahuan yang tidak melahirkan perubahan.
E. HATI ADALAH TEMPAT TUMBUHNYA BASHIRAH
Pada titik ini, pembahasan harus diarahkan kepada qalb.
Mengapa?
Karena Al-Qur’an berkali-kali menghubungkan kemampuan memahami kebenaran dengan hati.
Allah berfirman:
فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ
“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.” (QS. al-Hajj [22]: 46)
Ini adalah prinsip yang sangat mendasar.
Seseorang mungkin memiliki mata yang sehat, telinga yang berfungsi, akal yang cerdas, dan pengetahuan yang luas. Namun, jika hatinya tertutup, ia dapat gagal melihat kebenaran.
Sebaliknya, hati yang hidup akan menerima petunjuk, merenungkannya, tunduk kepadanya, dan menjadikannya dasar kehidupan.
Karena itu, persoalan bashirah pada akhirnya tidak dapat dipisahkan dari persoalan kehidupan hati.
Allah berfirman:
أَوَمَنْ كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَا لَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِنْهَا
“Dan apakah orang yang sudah mati lalu Kami hidupkan dan Kami beri dia cahaya yang dengan cahaya itu dia berjalan di tengah-tengah manusia, sama dengan orang yang berada dalam kegelapan yang tidak dapat keluar darinya?” (QS. al-An‘am [6]: 122)
Ayat ini memberikan gambaran yang sangat indah: hati yang hidup membutuhkan cahaya, dan cahaya itu menjadi bekal untuk berjalan.
Maka, bashirah bukan sekadar cahaya untuk mengetahui sesuatu. Ia adalah cahaya yang dengannya seseorang berjalan.
Inilah sebabnya mengapa bashirah harus berujung pada amal.
Orang yang memiliki bashirah tidak hanya berkata, “Saya tahu.”
Ia bergerak.
Ia memilih.
Ia meninggalkan yang salah.
Ia mengikuti yang benar.
Ia bersabar ketika jalan kebenaran berat.
Ia tidak mudah tertipu oleh gemerlap kebatilan.
Ia tidak menjadikan hawa nafsu sebagai hakim atas wahyu.
Dengan demikian, bashirah adalah cahaya yang menghubungkan pengetahuan dengan perjalanan hidup.
F. DARI TILAWAH MENUJU BASHIRAH
Jika hati adalah tempat tumbuhnya bashirah, lalu bagaimana wahyu masuk ke dalam hati dan mengubahnya?
Jawabannya dapat ditemukan dalam tiga fungsi utama Rasulullah ﷺ yang disebutkan berulang kali dalam Al-Qur’an:
يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ
“Dia membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah.” (QS. al-Baqarah [2]: 151)
Struktur ini bukan sekadar daftar tugas yang terpisah.
Di dalamnya terdapat manhaj pembentukan manusia.
Pertama: تِلَاوَةٌ — Tilawah
Ayat Allah dibacakan kepada manusia.
Tilawah mempertemukan manusia dengan wahyu.
Kedua: تَزْكِيَةٌ — Tazkiyah
Wahyu tidak berhenti di telinga. Ia harus masuk ke dalam hati dan membersihkan penyakit-penyakit jiwa.
Ketiga: تَعْلِيمٌ — Ta‘lim
Setelah hati siap menerima, manusia diajari Kitab dan Hikmah sehingga memiliki pemahaman yang benar.
Dari sinilah lahir manusia yang tidak hanya tahu ayat, tetapi memahami ayat, mengimani ayat, dan hidup berdasarkan ayat.
Maka, bashirah bukanlah hasil dari satu aktivitas yang berdiri sendiri.
Ia lahir dari pertemuan wahyu dengan hati yang ditazkiyah dan ilmu yang dipahami dengan benar.
G. RUMUS PEMBENTUKAN BASHIRAH
Dari seluruh pembahasan awal ini dapat dirumuskan:
الوَحْيُ يُنِيرُ، وَالتِّلَاوَةُ تُحَرِّكُ، وَالتَّزْكِيَةُ تُطَهِّرُ، وَالتَّعْلِيمُ يُفَقِّهُ، وَالْإِيمَانُ يُثَبِّتُ، وَالْبَصِيرَةُ تُوَجِّهُ، وَالِاتِّبَاعُ يُحَقِّقُ.
“Wahyu menerangi, tilawah menggerakkan, tazkiyah menyucikan, ta‘lim memberikan pemahaman, iman meneguhkan, bashirah mengarahkan, dan ittiba‘ mewujudkannya dalam kehidupan.”
Inilah hubungan antara Bab I dan Bab II.
Bab I menjelaskan bagaimana manusia harus memahami hubungan antara kehendak Allah dan kehendak manusia.
Bab II mulai menjawab pertanyaan: bagaimana kehendak manusia itu diarahkan agar memilih jalan yang benar?
Jawabannya adalah hidayah yang melahirkan bashirah.
Dan bashirah tidak lahir dari kecerdasan semata.
Ia tumbuh ketika wahyu diterima, hati hidup, jiwa ditazkiyah, ilmu dipahami, iman menguat, lalu manusia mengikuti Rasulullah ﷺ.
Karena itu, pembahasan berikutnya akan masuk lebih dalam kepada bagaimana bashirah itu tumbuh di dalam hati, apa saja penghalangnya, dan mengapa dua orang yang membaca ayat yang sama dapat menghasilkan sikap yang sangat berbeda.
Di sinilah kita akan melihat hubungan antara qalb, tazkiyah, ilmu, iman, hawa nafsu, dan hidayah dalam pembentukan ahlul bashirah.



