Pendahuluan
Pada bab sebelumnya telah dijelaskan bahwa memahami qadha dan qadar tidak cukup dengan mengambil satu kelompok dalil lalu meninggalkan kelompok dalil yang lain. Al-Qur’an menuntun manusia untuk melihat seluruh persoalan dalam satu kesatuan: Allah Mahatahu, Mahakuasa, dan memiliki masyi’ah yang mutlak. Namun, pada saat yang sama, manusia memiliki kehendak, kemampuan, pilihan, dan tanggung jawab atas amalnya.
Kerangka tersebut membawa kita kepada persoalan yang lebih mendasar: bagaimana manusia dapat menggunakan kehendak dan kemampuannya secara benar?
Sebab, manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan tentang apa yang benar. Ia membutuhkan kemampuan untuk melihat kebenaran sebagai kebenaran, menerimanya, mencintainya, kemudian berjalan di atasnya. Sebaliknya, ia membutuhkan kemampuan untuk mengenali kebatilan sebagai kebatilan, menjauhinya, dan tidak tertipu oleh hiasan-hiasannya.
Di sinilah Al-Qur’an memperkenalkan konsep bashirah.
Allah berfirman:
قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ ۚ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي ۖ وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ
“Katakanlah, ‘Inilah jalanku; aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah berdasarkan bashirah. Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang musyrik.’” (QS. Yusuf [12]: 108)
Ayat ini sangat penting karena Allah tidak hanya menyebut dakwah, tetapi juga menyebut jalan dan bashirah. Nabi ﷺ dan orang-orang yang mengikuti beliau tidak berjalan tanpa arah. Mereka memiliki jalan yang jelas, tujuan yang jelas, dasar yang jelas, dan pandangan yang jelas terhadap kebenaran.
Dengan demikian, bashirah bukan sekadar tambahan pengetahuan. Bashirah adalah kemampuan batin untuk melihat kebenaran berdasarkan petunjuk Allah sehingga ilmu berubah menjadi keyakinan, keyakinan melahirkan kesadaran, dan kesadaran mengarahkan amal.
Dalam kerangka inilah Bab II akan membahas hakikat bashirah, sumbernya, tempat tumbuhnya, proses pembentukannya, serta karakter orang-orang yang memilikinya.
A. HAKIKAT BASHIRAH DALAM AL-QUR’AN
Secara bahasa, kata بَصِيرَةٌ berasal dari akar kata ب ص ر yang berkaitan dengan melihat dan memahami. Namun, penggunaan bashirah dalam Al-Qur’an menunjukkan makna yang lebih dalam daripada sekadar kemampuan melihat dengan mata.
Allah berfirman:
قَدْ جَاءَكُمْ بَصَائِرُ مِنْ رَبِّكُمْ ۖ فَمَنْ أَبْصَرَ فَلِنَفْسِهِ ۖ وَمَنْ عَمِيَ فَعَلَيْهَا
“Sungguh, telah datang kepada kalian bashair (bukti-bukti yang nyata) dari Tuhan kalian. Barang siapa melihatnya, maka manfaatnya bagi dirinya sendiri; dan barang siapa buta terhadapnya, maka akibatnya atas dirinya sendiri.” (QS. al-An‘am [6]: 104)
Perhatikan bahwa Al-Qur’an menggunakan bentuk jamak بَصَائِرُ. Ini menunjukkan bahwa wahyu Allah memberikan berbagai bentuk petunjuk yang memungkinkan manusia melihat kebenaran.
Bashirah dengan demikian bukanlah sesuatu yang berdiri sendiri tanpa sumber. Ia lahir dari pertemuan antara petunjuk Allah dan hati manusia yang menerima petunjuk tersebut.
Karena itu, bashirah dapat dirumuskan sebagai berikut:
Bashirah adalah keyakinan yang kuat yang dibangun di atas iman dan petunjuk Allah, sehingga melahirkan ma‘rifah, kejernihan hati, kemampuan memahami kebenaran, serta kemampuan membedakan antara hak dan batil berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
Definisi ini mengandung beberapa unsur yang tidak dapat dipisahkan.
1. Bashirah berawal dari petunjuk Allah
Manusia tidak menciptakan cahaya petunjuk dari dirinya sendiri. Allah-lah yang memberikan petunjuk.
Allah berfirman:
وَمَنْ يَهْدِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ مُضِلٍّ
“Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada yang dapat menyesatkannya.” (QS. az-Zumar [39]: 37)
Karena itu, bashirah pada hakikatnya adalah karunia Allah.
Namun, karunia tersebut tidak berarti manusia boleh meninggalkan usaha. Justru Al-Qur’an memerintahkan manusia untuk menempuh jalan petunjuk, mendengarkan wahyu, mentadabburinya, membersihkan jiwa, dan mengikutinya.
2. Bashirah membutuhkan ilmu
Bashirah bukan perasaan yang tidak mempunyai dasar.
Seseorang tidak dapat dikatakan memiliki bashirah hanya karena ia merasa yakin. Keyakinan yang benar harus berdiri di atas ilmu yang benar.
Allah berfirman:
فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah.” (QS. Muhammad [47]: 19)
Perintah فَاعْلَمْ menunjukkan bahwa iman yang benar tidak dibangun di atas kebodohan.
Ilmu memberikan bahan bagi akal untuk memahami wahyu. Akan tetapi, ilmu saja belum tentu menghasilkan bashirah.
Seseorang dapat memiliki banyak informasi agama, tetapi belum tentu memiliki bashirah.
Ia dapat mengetahui hukum, tetapi tidak menghayatinya.
Ia dapat mengetahui ayat, tetapi tidak tunduk kepadanya.
Ia dapat mengetahui kebenaran, tetapi hawa nafsunya menghalanginya untuk mengikutinya.
Karena itu, bashirah tidak berhenti pada mengetahui.
3. Bashirah membutuhkan pemahaman
Ilmu yang telah dikumpulkan harus dipahami secara benar.
Di sinilah pentingnya tadabbur, tafaqquh, dan kemampuan menghubungkan satu dalil dengan dalil yang lain.
Allah berfirman:
كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ
“Ini adalah Kitab yang Kami turunkan kepadamu yang penuh berkah agar mereka mentadabburi ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang mempunyai akal sehat mendapat pelajaran.” (QS. Shad [38]: 29)
Maka, bashirah bukan sekadar mengetahui teks, tetapi mampu melihat arah, hubungan, tujuan, dan konsekuensi dari petunjuk Allah.
4. Bashirah membutuhkan keyakinan
Ilmu yang belum berubah menjadi keyakinan belum mencapai tingkat bashirah.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa Allah memerintahkan salat, tetapi pengetahuan itu belum tentu membuatnya menjaga salat.
Ia mungkin mengetahui bahwa dusta adalah haram, tetapi pengetahuan itu belum tentu membuatnya meninggalkan dusta.
Ketika ilmu masuk ke dalam hati dan berubah menjadi yaqin, ilmu tersebut mulai membentuk sikap.
Karena itu, bashirah mempunyai dimensi hati yang sangat kuat.
5. Bashirah menghasilkan kemampuan membedakan
Inilah salah satu ciri terpenting bashirah.
Orang yang memiliki bashirah bukan hanya mengetahui banyak hal, tetapi mampu membedakan:
-
Hak dan batil.
-
Tauhid dan syirik.
-
Sunnah dan penyimpangan.
-
Ilmu dan kebodohan.
-
Hikmah dan hawa nafsu.
-
Nasihat dan manipulasi.
-
Keberanian dan kesombongan.
-
Tawakal dan pasrah yang salah.
-
Ikhtiar dan ketergantungan kepada sebab.
-
Zuhud dan meninggalkan tanggung jawab dunia.
Allah berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا
“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepada kalian furqan.” (QS. al-Anfal [8]: 29)
Furqan adalah kemampuan membedakan. Kemampuan membedakan itu sangat dekat dengan hakikat bashirah.
Dengan demikian, bashirah bukan hanya “melihat”, tetapi melihat dengan cahaya petunjuk sehingga mampu membedakan dan mengambil sikap yang benar.
B. MENGAPA AL-QUR’AN MEMILIH LAFADZ BASHIRAH?
Pertanyaan ini penting.
Mengapa Allah tidak cukup menggunakan lafaz العِلْمُ (ilmu), العَقْلُ (akal), atau الحِكْمَةُ (hikmah)?
Bukankah seseorang yang memiliki ilmu dan akal semestinya dapat mengetahui kebenaran?
Jawabannya: tidak selalu.
Al-Qur’an menunjukkan bahwa problem manusia tidak semata-mata terletak pada kurangnya informasi. Sering kali manusia telah mengetahui sesuatu, tetapi tidak mau tunduk kepada kebenaran yang diketahuinya.
Karena itu, konsep bashirah mempunyai cakupan yang lebih menyeluruh.
1. Ilmu menjawab: “Apa yang benar?”
Ilmu memberikan pengetahuan.
Namun, ilmu belum tentu membuat seseorang mengikuti apa yang diketahuinya.
2. Akal membantu menjawab: “Bagaimana memahaminya?”
Akal merupakan instrumen penting untuk memahami tanda-tanda Allah dan merenungkan wahyu.
Namun, akal manusia mempunyai keterbatasan dan dapat dipengaruhi hawa nafsu.
3. Hikmah menjawab: “Bagaimana menempatkan sesuatu secara benar?”
Hikmah membuat seseorang mampu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan bertindak secara tepat.
Namun, bashirah mempunyai dimensi yang lebih mendasar: kemampuan melihat arah kebenaran dengan hati yang diterangi petunjuk Allah.
4. Bashirah menyatukan ilmu, pemahaman, iman, dan kejernihan hati
Karena itu, bashirah dapat dipandang sebagai keadaan ketika:
Ilmu → dipahami → diyakini → diterima hati → melahirkan kemampuan membedakan → mengarahkan amal.
Inilah yang menjadikan bashirah berbeda dari sekadar kecerdasan intelektual.
Seseorang dapat cerdas, tetapi tidak memiliki bashirah.
Seseorang dapat berilmu, tetapi tidak memiliki bashirah.
Seseorang dapat pandai berargumentasi, tetapi tidak memiliki bashirah.
Sebaliknya, seseorang yang benar-benar memiliki bashirah akan semakin mengenal kebenaran, semakin tunduk kepada Allah, semakin berhati-hati terhadap hawa nafsu, dan semakin tepat dalam mengambil sikap.



