Ada masa ketika hidup terasa berjalan begitu berat. Masalah datang silih berganti. Pekerjaan belum selesai, kebutuhan semakin banyak, hubungan dengan orang lain sedang tidak baik, atau ada sesuatu yang sangat kita harapkan tetapi belum juga terwujud.
Di saat seperti itu, mudah bagi hati untuk bertanya: “Mengapa semua ini terjadi kepada saya?”
Perasaan sedih dan lelah bukan berarti seseorang tidak beriman. Kita tetap manusia yang bisa merasa berat, kecewa, dan menangis.
Namun, seorang Muslim memiliki cara pandang yang berbeda ketika menghadapi ujian.
Ia tidak hanya melihat masalah dari apa yang sedang terjadi, tetapi juga melihatnya dari sisi iman kepada Allah dan kehidupan akhirat.
Ujian Adalah Bagian dari Kehidupan
Allah telah mengingatkan bahwa manusia akan diuji.
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ
“Dan sungguh, Kami akan menguji kalian dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah: 155)
Ayat ini mengajarkan bahwa ujian bukan sesuatu yang aneh dalam kehidupan seorang mukmin.
Kehidupan memang memiliki masa lapang dan masa sempit. Ada saatnya kita tersenyum. Ada saatnya kita menangis.
Yang penting adalah bagaimana kita bersikap dalam keduanya.
1. Jangan Langsung Berpikir Bahwa Allah Membenci Kita
Ketika musibah datang, sebagian orang langsung berpikir: “Mungkin Allah sedang menghukum saya.”
Kita memang perlu melakukan introspeksi ketika mendapat musibah. Namun, jangan terburu-buru memastikan bahwa setiap kesulitan pasti merupakan tanda kebencian Allah.
Para nabi dan orang-orang saleh juga mendapatkan ujian yang berat. Bahkan Nabi ﷺ adalah manusia yang mendapatkan berbagai ujian dalam kehidupan beliau.
Karena itu, adanya kesulitan tidak otomatis berarti Allah meninggalkan kita. Bisa jadi ujian tersebut menjadi sebab dosa-dosa diampuni, derajat diangkat, atau hati kita kembali dekat kepada Allah.
2. Tetap Bersabar, Tetapi Bukan Berarti Pasif
Sabar bukan berarti duduk diam dan membiarkan masalah tanpa usaha. Sabar berarti tetap berada dalam ketaatan dan menahan diri dari hal-hal yang dilarang ketika menghadapi kesulitan.
Jika sedang memiliki masalah keuangan, tetaplah berusaha mencari rezeki. Jika sedang memiliki masalah kesehatan, carilah pengobatan. Jika sedang menghadapi konflik, carilah jalan penyelesaian.
Sabar berjalan bersama ikhtiar.
3. Kembali kepada Allah
Ketika masalah semakin berat, jangan justru semakin jauh dari Allah.
- Perbanyak shalat.
- Perbanyak doa.
- Baca Al-Qur’an.
- Perbanyak istighfar.
- Mintalah pertolongan kepada Allah.
Allah berfirman:
وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ
“Mohonlah pertolongan dengan sabar dan shalat.” (QS. Al-Baqarah: 45)
Ada masalah yang tidak bisa kita selesaikan hanya dengan kemampuan manusia. Di situlah kita menyadari bahwa kita membutuhkan Allah.
4. Jangan Memendam Semuanya Sendirian
Islam tidak mengajarkan bahwa seseorang harus selalu terlihat kuat. Jika sedang memiliki masalah, tidak ada salahnya berbicara dengan orang yang dipercaya dan memiliki kebijaksanaan.
Bisa kepada orang tua, pasangan, guru, sahabat yang baik, atau orang yang memiliki ilmu dan pengalaman.
Terkadang kita tidak membutuhkan seseorang untuk langsung menyelesaikan masalah. Kita hanya membutuhkan orang yang mau mendengarkan dan membantu kita melihat masalah dengan lebih jernih.
5. Lihat Kembali Nikmat yang Masih Ada
Ketika satu masalah datang, perhatian kita sering tertuju sepenuhnya kepada masalah tersebut.
Kita lupa bahwa masih ada banyak nikmat yang Allah berikan.
Masih bisa bernapas.
Masih memiliki keluarga.
Masih bisa beribadah.
Masih memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri.
Masih memiliki waktu untuk bertaubat.
Allah berfirman:
وَإِن تَعُدُّوا نِعْمَتَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا
“Jika kalian menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan mampu menghitungnya.” (QS. Ibrahim: 34)
Bukan berarti kita mengabaikan masalah. Tetapi kita belajar melihat kehidupan secara lebih utuh.
6. Ingat Bahwa Kesulitan Tidak Selamanya
Allah berfirman:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Asy-Syarh: 5–6)
Ayat ini memberikan harapan.
Kesulitan yang sedang kita alami bukan berarti seluruh kehidupan akan selamanya seperti itu.
Keadaan bisa berubah.
Allah bisa membuka jalan yang tidak pernah kita bayangkan.
Karena itu, jangan membuat keputusan besar hanya berdasarkan perasaan yang sedang sangat berat.
Berikan waktu.
Berdoa.
Berpikir.
Berikhtiar.
Kemudian melangkah kembali.
7. Jangan Berputus Asa dari Rahmat Allah
Setan senang ketika seseorang melihat masalah sebagai akhir dari segala sesuatu.
“Tidak ada jalan keluar.”
“Saya tidak akan pernah bahagia.”
“Semuanya sudah selesai.”
Jangan biarkan pikiran seperti itu menguasai hati.
Allah berfirman:
لَا تَقْنَطُوا مِن رَّحْمَةِ اللَّهِ
“Janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah.” (QS. Az-Zumar: 53)
Selama kita masih hidup, masih ada kesempatan untuk memperbaiki keadaan.
8. Jadikan Ujian sebagai Kesempatan untuk Bertumbuh
Tidak semua ujian langsung terlihat hikmahnya. Kadang kita baru memahami manfaat sebuah kejadian setelah bertahun-tahun berlalu.
Mungkin sebuah kegagalan membuat kita belajar. Mungkin sebuah kehilangan membuat kita lebih menghargai nikmat. Mungkin sebuah kesulitan membuat kita lebih sering berdoa. Mungkin sesuatu yang tidak kita sukai justru mengarahkan kita kepada jalan yang lebih baik.
Allah berfirman:
وَعَسَىٰ أَن تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu, padahal ia baik bagi kalian.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Tentu kita tidak selalu mengetahui hikmah dari setiap kejadian. Tetapi kita bisa memilih untuk tetap berbaik sangka kepada Allah.
Saat Semuanya Terasa Berat, Lakukan Ini
Ketika hati sedang benar-benar penuh, jangan mencoba menyelesaikan seluruh masalah sekaligus.
Coba lakukan beberapa langkah sederhana:
- Berhenti sejenak.
- Tarik napas dan tenangkan diri.
- Ambil wudhu dan shalat.
- Kemudian berdoalah dengan jujur kepada Allah.
- Identifikasi masalah utama. Tidak semua masalah harus diselesaikan hari ini.
Cari satu langkah yang bisa dilakukan.
Sekecil apa pun, lakukan. Minta bantuan jika diperlukan. Jangan malu untuk meminta pertolongan kepada orang yang tepat.
Terus berdoa. Sebab kita tidak pernah tahu kapan Allah membuka jalan keluar.
Penutup
Hidup seorang Muslim bukan berarti hidup tanpa masalah. Tetapi iman memberikan kita cara untuk menghadapi masalah.
Ketika mendapatkan nikmat, kita bersyukur. Ketika mendapatkan ujian, kita bersabar. Ketika melakukan kesalahan, kita bertaubat. Ketika tidak mengetahui jalan keluar, kita bertawakal sambil terus berikhtiar.
Mungkin hari ini hidup terasa sangat berat. Tidak apa-apa untuk merasa lelah. Tidak apa-apa untuk menangis. Tetapi jangan berhenti berharap kepada Allah.
Kesulitan boleh membuat langkah kita melambat, tetapi jangan biarkan ia membuat kita berhenti berjalan menuju Allah.
Sumber:
Uddat ash-Shabirin wa Dzakhirat asy-Syakirin, Ibnu al-Qayyim.
Al-Wabil ash-Shayyib, Ibnu al-Qayyim.