Kaidah Emas Ke 2 Bag 2: Ilmu Allah yang Azali Tidak Berarti Manusia Dipaksa Melakukan Perbuatannya

Hubungan Ilmu Allah dengan Tanggung Jawab

Dari kaidah ini lahirlah satu prinsip yang sangat penting:

Allah mengetahui seluruh perbuatan manusia, tetapi manusia tetap bertanggung jawab atas perbuatan yang ia pilih dan lakukan.

Allah mengetahui sebelum manusia melakukan.

Manusia melakukan ketika waktu perbuatan itu tiba.

Kemudian manusia mempertanggungjawabkan apa yang telah dilakukannya.

Karena itu, manusia tidak dapat menjadikan ilmu Allah sebagai alasan untuk membenarkan dosa.

Seseorang yang melakukan kemaksiatan tidak dapat berkata:

Allah sudah mengetahui bahwa saya akan melakukan ini, maka saya tidak bersalah.

Pengetahuan Allah bukan alasan untuk melakukan dosa.

Allah tetap:

  • memerintahkan;
  • melarang;
  • memberikan petunjuk;
  • mengutus para rasul;
  • menurunkan kitab-kitab;
  • memberikan akal;
  • serta membuka jalan taubat.

Karena itu, hujjah Allah terhadap manusia tetap tegak.

Hubungan Kaidah Ini dengan Hidayah

Kaidah ini juga sangat penting untuk memahami hidayah.

Allah سبحانه وتعالى mengetahui siapa yang akan menerima petunjuk dan siapa yang akan berpaling.

Namun manusia tetap diperintahkan untuk:

  • mencari kebenaran;
  • mendengarkan wahyu;
  • berdoa memohon hidayah;
  • membersihkan hati;
  • dan mengikuti jalan Allah.

Karena itu, manusia tidak boleh berkata:

Jika Allah menghendaki saya mendapat hidayah, saya pasti mendapatkannya. Maka saya tidak perlu berusaha.

Ucapan seperti ini bertentangan dengan perintah Al-Qur’an untuk:

  • beriman;
  • bertakwa;
  • berdoa;
  • bertaubat;
  • dan beramal saleh.

Allah mengetahui siapa yang akan mendapat hidayah.

Namun manusia diperintahkan untuk berjalan menuju jalan hidayah.

Di sinilah hubungan antara:

إِرَادَةُ الْإِنْسَانِ

kehendak manusia,

dengan:

هِدَايَةُ اللَّهِ

petunjuk Allah.

Manusia berusaha menuju Allah.

Allah memberikan taufik dan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki dengan hikmah dan keadilan-Nya.

Buah Keimanan kepada Kaidah Ini

Memahami kaidah ini melahirkan beberapa sikap penting.

1. Manusia Tidak Sombong terhadap Amal

Jika seseorang berhasil melakukan kebaikan, ia tidak merasa bahwa dirinya berdiri sendiri.

Ia mengetahui bahwa:

  • kemampuan untuk beramal;
  • kesempatan;
  • kekuatan;
  • dan taufik,

semuanya merupakan karunia Allah.

2. Manusia Tidak Menjadikan Takdir sebagai Alasan

Ketika melakukan kesalahan, seorang mukmin tidak bersembunyi di balik alasan:

Ini sudah ditakdirkan.

Ia segera bertaubat.

3. Manusia Bersungguh-sungguh Mencari Hidayah

Karena manusia tidak mengetahui apa yang telah ditetapkan baginya di masa depan, maka ia wajib terus:

  • berdoa;
  • belajar;
  • membaca Al-Qur’an;
  • membersihkan hati;
  • dan memperbaiki amal.

4. Manusia Memiliki Harapan

Ilmu Allah yang meliputi segala sesuatu tidak seharusnya membuat manusia putus asa.

Justru seorang mukmin mengetahui bahwa:

Allah mengetahui kelemahannya.

Allah mengetahui kesulitannya.

Allah mengetahui perjuangannya.

Dan Allah mengetahui setiap usaha yang dilakukan untuk kembali kepada-Nya.

Bantahan terhadap Jabariyah

Pemahaman Jabariyah menjadikan ilmu dan kehendak Allah sebagai alasan untuk menafikan pilihan manusia.

Pemahaman tersebut tidak sesuai dengan banyaknya ayat Al-Qur’an yang:

  • memerintahkan manusia;
  • melarang manusia;
  • memuji orang yang berbuat baik;
  • mencela orang yang berbuat buruk;
  • memberikan pahala;
  • dan memberikan hukuman.

Jika manusia benar-benar tidak memiliki kehendak, maka perintah dan larangan kehilangan makna.

Namun Al-Qur’an menetapkan bahwa manusia:

يَكْسِبُ

berusaha dan memperoleh hasil dari amalnya.

Bantahan terhadap Qadariyah

Sebaliknya, pemahaman yang menjadikan manusia seolah-olah berada di luar ilmu Allah juga bertentangan dengan Al-Qur’an.

Allah سبحانه وتعالى mengetahui:

كُلَّ شَيْءٍ

segala sesuatu.

Tidak ada:

  • pilihan;
  • amal;
  • atau peristiwa,

yang terjadi di luar ilmu Allah.

Karena itu, Ahlus Sunnah menetapkan:

Ilmu Allah yang sempurna.

Dan sekaligus menetapkan:

Kehendak serta tanggung jawab manusia.

Keduanya tidak bertentangan.

Kesimpulan Kaidah Kedua

Kaidah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

Allah telah mengetahui segala sesuatu dengan ilmu-Nya yang azali dan sempurna.

Allah mengetahui pilihan dan perbuatan manusia sebelum manusia melakukannya.

Namun ilmu Allah bukan pemaksaan terhadap manusia.

Manusia tetap memiliki kehendak dan pilihan yang dengannya ia melakukan amal.

Karena itu, manusia tetap bertanggung jawab atas apa yang ia pilih dan lakukan.

Dengan memahami kaidah ini, kita dapat membedakan antara:

الْعِلْمُ

pengetahuan Allah,

dan:

الْإِجْبَارُ

pemaksaan.

Allah mengetahui segala sesuatu.

Tetapi manusia tetap diuji melalui pilihan dan amalnya.

Dan Allah سبحانه وتعالى adalah:

الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ الْعَدْلُ

Yang Maha Mengetahui, Maha Bijaksana, dan Maha Adil.