BAB II Bag 6: Bashirah: Cahaya Ilmu, Iman, dan Kehidupan Hati

11. Indikator Kesebelas: Tidak Mudah Tertipu oleh Dunia

Ahlul Bashirah melihat dunia sesuai ukurannya. Ia tidak menganggap dunia sebagai tujuan akhir.

Allah berfirman:

اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ

“Ketahuilah bahwa kehidupan dunia hanyalah permainan, hiburan, perhiasan, saling berbangga di antara kalian, serta berlomba dalam banyaknya harta dan anak.” (QS. al-Hadid [57]: 20)

Ahlul Bashirah tidak harus meninggalkan dunia. Ia justru dapat bekerja keras di dalamnya. Namun, dunia berada di tangan, bukan di hati.

Ia menggunakan harta untuk kebaikan, tetapi tidak menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan.

Ia memiliki jabatan, tetapi tidak menyembah jabatan.

Ia memperoleh keberhasilan, tetapi tidak menganggap keberhasilan sebagai bukti bahwa dirinya lebih mulia di hadapan Allah.

12. Indikator Keduabelas: Akhlaknya Semakin Baik

Salah satu kekeliruan dalam mengukur bashirah adalah hanya menggunakan ukuran kemampuan berbicara dan berargumentasi.

Padahal, ilmu yang benar seharusnya membentuk akhlak.

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِنَّ مِنْ خِيَارِكُمْ أَحْسَنَكُمْ أَخْلَاقًا

“Sesungguhnya orang yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Maka, Ahlul Bashirah seharusnya semakin:

  • Jujur.

  • Amanah.

  • Lembut.

  • Adil.

  • Sabar.

  • Menjaga lisan.

  • Menghormati manusia.

  • Tidak mudah merendahkan.

  • Tidak tergesa-gesa menuduh.

  • Mampu mengendalikan amarah.

Bukan berarti setiap orang yang berilmu tidak pernah melakukan kesalahan. Namun, bashirah membuat seseorang cepat kembali kepada kebenaran ketika menyadari kesalahannya.

13. Indikator Ketigabelas: Adil Bahkan kepada Orang yang Tidak Disukai

Bashirah membuat seseorang tidak menjadi tawanan kebencian.

Allah berfirman:

وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَىٰ أَلَّا تَعْدِلُوا ۚ اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَىٰ

“Janganlah kebencian kalian terhadap suatu kaum mendorong kalian untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. al-Ma’idah [5]: 8)

Ini merupakan indikator yang sangat tinggi.

Seseorang belum tentu memiliki bashirah hanya karena ia mampu membedakan benar dan salah. Ia juga harus mampu bersikap adil ketika emosi, kepentingan, atau kebencian mendorongnya kepada ketidakadilan.

Ahlul Bashirah tidak mengubah kebenaran hanya karena kebenaran tersebut menguntungkan orang yang tidak disukainya.

Ia juga tidak menerima kebatilan hanya karena kebatilan tersebut dilakukan oleh orang yang ia cintai.

14. Indikator Keempatbelas: Tidak Mudah Mengikuti Prasangka dan Berita yang Belum Jelas

Bashirah menghasilkan sikap tabayyun.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seorang fasik datang kepada kalian membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya.” (QS. al-Hujurat [49]: 6)

Di zaman ketika informasi bergerak sangat cepat, indikator ini menjadi semakin penting.

Ahlul Bashirah tidak menjadikan setiap informasi sebagai fakta. Ia tidak mudah menyebarkan tuduhan. Ia tidak membangun kesimpulan besar berdasarkan potongan video, kutipan pendek, atau cerita yang belum diverifikasi.

Ia membedakan antara fakta, dugaan, tafsir, dan opini.

Kemampuan membedakan inilah bagian dari bashirah.

15. Indikator Kelimabelas: Bersikap Adil dalam Perbedaan

Bashirah tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk kehilangan adab.

Allah berfirman:

وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا

“Dan ucapkanlah perkataan yang baik kepada manusia.” (QS. al-Baqarah [2]: 83)

Orang yang memiliki bashirah dapat berbeda pendapat tanpa kehilangan akhlak.

Ia dapat mengatakan, “Saya tidak setuju dengan pendapat ini,” tanpa harus mengatakan, “Orang yang berpendapat demikian pasti bodoh.”

Ia dapat mengkritik sebuah pemikiran tanpa menghancurkan kehormatan pribadi.

Ia mampu membedakan antara kritik terhadap gagasan dan penghinaan terhadap manusia.

Inilah salah satu tanda bahwa ilmu telah memasuki wilayah tazkiyah.

16. Indikator Keenambelas: Ketika Tidak Mengetahui, Ia Tidak Memaksakan Diri untuk Berbicara

Ahlul Bashirah mengetahui batas pengetahuannya.

Allah berfirman:

وَلَا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ

“Janganlah engkau mengikuti sesuatu yang engkau tidak mempunyai pengetahuan tentangnya.” (QS. al-Isra’ [17]: 36)

Maka, berkata لا أعلم (saya tidak tahu) bukanlah kelemahan. Dalam banyak keadaan, itu justru tanda kedalaman ilmu.

Orang yang tidak memiliki bashirah sering merasa harus menjawab segala sesuatu. Orang yang memiliki bashirah memahami bahwa tidak semua pertanyaan harus dijawab dengan dugaan.

Ia lebih takut berbicara atas nama Allah tanpa ilmu daripada kehilangan kesempatan untuk terlihat pintar.

17. Indikator Ketujuhbelas: Semakin Dekat kepada Allah, Semakin Merasa Membutuhkan-Nya

Bashirah tidak melahirkan rasa cukup terhadap Allah. Justru, semakin seseorang mengenal Allah, semakin ia merasa membutuhkan-Nya.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَنْتُمُ الْفُقَرَاءُ إِلَى اللَّهِ وَاللَّهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيدُ

“Wahai manusia! Kalian adalah orang-orang yang membutuhkan Allah, sedangkan Allah Dialah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.” (QS. Fathir [35]: 15)

Inilah salah satu tanda paling dalam.

Bashirah tidak membuat seseorang berkata, “Saya sudah mengerti semuanya.” Sebaliknya, bashirah membuatnya berkata, “Ya Allah, tambahkanlah petunjuk kepadaku.”

Karena itu, Ahlul Bashirah selalu membutuhkan hidayah, ilmu, taufik, ampunan, dan pertolongan Allah.

J. Karakter Inti Ahlul Bashirah

Dari berbagai indikator tersebut, dapat diringkas bahwa Ahlul Bashirah memiliki beberapa karakter inti.

1. Dalam akidah

Ia bertauhid dan menggantungkan hati kepada Allah.

2. Dalam ilmu

Ia mencari kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah serta memahami dalil secara utuh.

3. Dalam hati

Ia memiliki khauf, raja’, mahabbah, tawakal, dan muraqabah.

4. Dalam akhlak

Ia tawadhu‘, adil, sabar, amanah, dan menjaga lisan.

5. Dalam berpikir

Ia kritis, tetapi tidak liar; terbuka, tetapi tidak kehilangan prinsip; menggunakan akal, tetapi tunduk kepada wahyu.

6. Dalam ibadah

Ia tidak hanya mengejar bentuk lahiriah, tetapi juga menghadirkan hati.

7. Dalam menghadapi takdir

Ia mengambil sebab, berikhtiar, berdoa, bertawakal, bersabar, dan menerima keputusan Allah.

8. Dalam menghadapi perbedaan

Ia mampu berbeda tanpa kehilangan keadilan dan adab.

9. Dalam menghadapi dirinya sendiri

Ia terus melakukan muhasabah dan tazkiyah.

10. Dalam mengikuti Rasulullah ﷺ

Ia tidak berhenti pada pengakuan cinta, tetapi berusaha mewujudkan cinta itu dalam ittiba‘.

K. Rumus Besar Karakter Ahlul Bashirah

Dari seluruh indikator tersebut, kita dapat merumuskan:

أَهْلُ الْبَصِيرَةِ هُمْ الَّذِينَ أَنَارَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ بِالْوَحْيِ، وَزَكَّى نُفُوسَهُمْ بِالْإِيمَانِ، وَعَلَّمَهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ، فَعَرَفُوا الْحَقَّ فَاتَّبَعُوهُ، وَعَرَفُوا الْبَاطِلَ فَاجْتَنَبُوهُ، وَعَبَدُوا اللَّهَ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ.

“Ahlul Bashirah adalah orang-orang yang Allah terangi hati mereka dengan wahyu, Allah sucikan jiwa mereka dengan iman, dan Allah ajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah. Dengan itu, mereka mengenal kebenaran lalu mengikutinya, mengenal kebatilan lalu menjauhinya, dan beribadah kepada Allah di atas bashirah.”

Maka, ukuran utama Ahlul Bashirah bukanlah seberapa banyak ia mengetahui, melainkan seberapa jauh pengetahuan itu mengantarkannya kepada kebenaran, ketundukan, dan amal.

L. Bashirah Bukan Label, Melainkan Proses yang Terus Berkembang

Satu hal penting perlu ditegaskan.

Jangan menjadikan istilah Ahlul Bashirah sebagai gelar yang digunakan untuk mengklaim diri atau kelompok sendiri.

Bashirah adalah perjalanan.

Seseorang dapat memiliki bashirah dalam satu perkara, tetapi masih membutuhkan petunjuk dalam perkara lain.

Seorang alim tetap membutuhkan hidayah.

Seorang da‘i tetap membutuhkan tazkiyah.

Seorang ahli ibadah tetap membutuhkan ilmu.

Seseorang yang memiliki ilmu tetap harus takut kepada hawa nafsunya.

Allah mengajarkan doa:

رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu.” (QS. Thaha [20]: 114)

Jika Nabi ﷺ diperintahkan memohon tambahan ilmu, maka manusia setelah beliau tentu lebih membutuhkan permohonan tersebut.

Karena itu, Ahlul Bashirah bukan orang yang merasa telah sampai pada titik tidak membutuhkan nasihat. Justru, salah satu tanda bashirah adalah selalu bersedia menerima kebenaran ketika kebenaran itu datang.

M. Kesimpulan

Bashirah yang tumbuh dalam hati akan tampak dalam kehidupan.

Ia bermula dari wahyu, diterima melalui tilawah, menggerakkan hati, dibersihkan melalui tazkiyah, diperdalam melalui ta‘lim, dikuatkan dengan iman dan yaqin, lalu diwujudkan melalui ittiba‘ dan amal.

Karena itu:

إِذَا صَلُحَ الْقَلْبُ بِالْإِيمَانِ، وَاسْتَنَارَ بِالْوَحْيِ، وَتَزَكَّى بِالطَّاعَةِ، نَمَتْ فِيهِ الْبَصِيرَةُ، فَأَصْبَحَ الْعَبْدُ أَقْدَرَ عَلَىٰ مَعْرِفَةِ الْحَقِّ وَاتِّبَاعِهِ.

“Apabila hati menjadi baik dengan iman, diterangi oleh wahyu, dan disucikan dengan ketaatan, maka bashirah akan tumbuh di dalamnya. Dengan demikian, seorang hamba menjadi lebih mampu mengenali kebenaran dan mengikutinya.”

Dari sini terlihat bahwa bashirah bukan titik akhir ilmu, tetapi buah dari ilmu yang diterangi iman dan disucikan oleh tazkiyah.

Ketika bashirah telah mengakar, ia akan melahirkan sesuatu yang lebih tinggi, yaitu ittiba‘ kepada Rasulullah ﷺ.

Sebab, orang yang benar-benar melihat jalan Allah dengan bashirah tidak akan puas hanya dengan mengetahui jalan tersebut. Ia akan berjalan di atasnya.

Itulah sebabnya firman Allah:

أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“menghubungkan bashirah dengan ittiba.”

Maka, pembahasan berikutnya secara alami membawa kita kepada pertanyaan yang lebih dalam:

Apa hakikat ittiba‘ kepada Rasulullah ﷺ? Apakah cukup dengan mengaku mencintai Rasulullah ﷺ dan mengikuti sunnah secara lahiriah, ataukah ittiba‘ menuntut perubahan hati, cara berpikir, akhlak, dan seluruh arah kehidupan?

Di sinilah pembahasan tentang “Pengikut Rasul” akan menjadi kelanjutan langsung dari pembahasan Ahlul Bashirah.