BAB II Bag 7: Bashirah: Cahaya Ilmu, Iman, dan Kehidupan Hati

O. Membedakan Pengikut Rasulullah ﷺ yang Sejati dan Sekadar Pengakuan

Setelah memahami hakikat ittiba‘, muncul pertanyaan yang sangat penting: bagaimana kita mengetahui bahwa seseorang benar-benar mengikuti Rasulullah ﷺ, bukan sekadar mengaku sebagai pengikut beliau?

Pertanyaan ini harus dijawab dengan hati-hati. Kita tidak diberi tugas untuk membuka isi hati manusia dan menetapkan siapa yang pasti diterima amalnya oleh Allah. Namun, Al-Qur’an dan Sunnah memberikan tanda-tanda lahiriah yang dapat menjadi ukuran dalam menilai kesesuaian antara pengakuan dan perbuatan.

Dengan demikian, pembahasan ini bukan dimaksudkan untuk mudah memberikan vonis kepada orang lain, tetapi pertama-tama menjadi mizan bagi diri sendiri:

Apakah pengakuan mencintai Rasulullah ﷺ telah melahirkan ittiba‘? Apakah pengetahuan tentang Sunnah telah melahirkan ketaatan? Apakah cinta kepada beliau telah mengubah akhlak, ibadah, dan cara hidup kita?

1. Pengakuan Cinta Harus Dibuktikan dengan Ittiba‘

Allah memberikan ukuran yang sangat jelas dalam firman-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

“Katakanlah, ‘Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS. Āli ‘Imrān [3]: 31)

Ayat ini memiliki susunan yang sangat mendalam. Allah tidak menjadikan pengakuan cinta sebagai bukti yang cukup. Rasulullah ﷺ diperintahkan menyampaikan sebuah ukuran: فَاتَّبِعُونِي, maka ikutilah aku.

Karena itu, cinta kepada Rasulullah ﷺ bukan sekadar perasaan yang berada di dalam hati. Cinta itu harus mempunyai atsar atau pengaruh yang terlihat dalam kehidupan.

Semakin benar cinta seseorang kepada Rasulullah ﷺ, semestinya semakin besar keinginannya untuk mengetahui petunjuk beliau, mengikuti sunnah beliau, menaati perintah beliau, menjauhi larangan beliau, dan meneladani akhlak beliau.

Maka, hubungan itu dapat dirumuskan:

المَحَبَّةُ الصَّادِقَةُ تُثْمِرُ الِاتِّبَاعَ

“Cinta yang benar akan melahirkan ittiba‘.”

Sebaliknya, seseorang dapat memiliki banyak ungkapan cinta kepada Rasulullah ﷺ. Namun, apabila cinta tersebut tidak menghasilkan keinginan untuk mengikuti petunjuk beliau, maka terdapat persoalan yang harus diperiksa dalam dirinya.

2. Pengikut Rasulullah ﷺ Menjadikan Beliau sebagai Uswah

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah suri teladan yang baik bagi kalian, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.” (QS. al-Ahzāb [33]: 21)

Ayat ini menunjukkan bahwa Rasulullah ﷺ bukan hanya sumber informasi keagamaan, tetapi juga uswah hasanah.

Ittiba‘ karena itu tidak berhenti pada persoalan mengetahui hukum. Ia menyentuh seluruh pembentukan manusia:

  • Bagaimana beriman.

  • Bagaimana beribadah.

  • Bagaimana berbicara.

  • Bagaimana memperlakukan keluarga.

  • Bagaimana bermuamalah.

  • Bagaimana menghadapi perbedaan.

  • Bagaimana bersabar ketika diuji.

  • Bagaimana bersikap terhadap orang lemah.

  • Bagaimana menggunakan kekuasaan.

  • Bagaimana memperlakukan orang yang berbeda.

  • Bagaimana mengendalikan hawa nafsu.

Dengan demikian, salah satu pertanyaan penting dalam mengukur ittiba‘ adalah:

Apakah Sunnah Rasulullah ﷺ hanya berada pada lisan seseorang, atau sudah mulai terlihat pada akhlaknya?

3. Pengikut Rasulullah ﷺ Taat Ketika Perintah Beliau Tidak Sesuai Keinginan Pribadi

Ittiba‘ yang sebenarnya justru tampak ketika terjadi benturan antara petunjuk Rasulullah ﷺ dan keinginan diri.

Allah berfirman:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّىٰ يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sampai mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusan yang engkau berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisā’ [4]: 65)

Ayat ini menyebut tiga tingkatan:

  1. التحكيم — menjadikan Rasul sebagai hakim.

  2. نفي الحرج — tidak merasa sempit atau keberatan dalam hati.

  3. التسليم — menerima dengan penuh ketundukan.

Ini menunjukkan bahwa ittiba‘ bukan sekadar mengikuti secara lahiriah sementara hati terus menolak.

Namun, perlu dibedakan antara belum memahami hikmah sebuah ketentuan dan menolak ketentuan karena hawa nafsu. Seorang mukmin dapat saja belum mengetahui hikmah suatu hukum, tetapi ketika telah jelas bahwa hal itu merupakan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, ia tunduk.

4. Pengikut Rasulullah ﷺ Mengutamakan Wahyu di Atas Hawa Nafsu

Allah berfirman:

أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ وَأَضَلَّهُ اللَّهُ عَلَىٰ عِلْمٍ

“Tidakkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu…” (QS. al-Jāthiyah [45]: 23)

Hawa nafsu dapat menjadi penghalang ittiba‘ apabila seseorang hanya menerima ajaran Rasulullah ﷺ ketika sesuai dengan keinginannya.

Karena itu, salah satu tanda penting pengikut Rasul adalah adanya kemampuan menundukkan keinginan pribadi di bawah petunjuk wahyu.

Bukan berarti manusia kehilangan akal atau tidak boleh berpikir. Justru, akal digunakan untuk memahami wahyu dengan benar. Namun, ketika wahyu telah jelas dan sahih, akal seorang mukmin berfungsi untuk memahami dan menerima, bukan menjadikan hawa nafsu sebagai hakim terakhir.

5. Pengikut Rasulullah ﷺ Menerima Kabar Beliau dengan Kejujuran Iman

Allah berfirman:

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ ۝ إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ

“Dan dia tidak berbicara menurut hawa nafsu. Tidaklah itu melainkan wahyu yang diwahyukan.” (QS. an-Najm [53]: 3–4)

Ayat ini harus dipahami dalam konteksnya, khususnya berkaitan dengan penyampaian Rasulullah ﷺ terhadap wahyu Allah. Dari sini tampak prinsip bahwa Rasulullah ﷺ adalah pembawa petunjuk yang wajib dipercaya dalam perkara agama yang beliau sampaikan dari Allah.

Karena itu, ittiba‘ menuntut adanya tasdiq, yaitu membenarkan berita Rasulullah ﷺ.

Rasulullah ﷺ bersabda:

كُلُّ أُمَّتِي يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ أَبَى، قَالُوا: يَا رَسُولَ اللَّهِ، وَمَنْ يَأْبَى؟ قَالَ: مَنْ أَطَاعَنِي دَخَلَ الْجَنَّةَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ أَبَى

“Seluruh umatku akan masuk surga kecuali orang yang enggan.” Para sahabat bertanya, “Siapa yang enggan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Barang siapa menaatiku, ia masuk surga, dan barang siapa mendurhakaiku, sungguh ia telah enggan.”[1]

Hadis ini memperlihatkan hubungan yang sangat jelas antara ittiba‘ dan tha‘ah.

Pengikut Rasul bukan hanya orang yang mengetahui Sunnah, tetapi orang yang berusaha menaati Sunnah.

6. Pengikut Rasulullah ﷺ Tidak Memilih-Milih Sunnah Berdasarkan Selera

Ada bentuk pengakuan ittiba‘ yang perlu diwaspadai, yaitu seseorang menerima petunjuk Rasulullah ﷺ ketika menguntungkan dirinya, tetapi mengabaikannya ketika bertentangan dengan kepentingan atau kebiasaannya.

Allah berfirman:

وَمَا كَانَ لِمُؤْمِنٍ وَلَا مُؤْمِنَةٍ إِذَا قَضَى اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَمْرًا أَنْ يَكُونَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ أَمْرِهِمْ

“Tidaklah patut bagi laki-laki mukmin dan perempuan mukminah, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, mereka mempunyai pilihan lain dalam urusan mereka.” (QS. al-Ahzāb [33]: 36)

Ayat ini tidak berarti bahwa semua persoalan kehidupan telah memiliki satu bentuk teknis yang sama. Dalam perkara yang memang diberikan ruang pilihan oleh syariat, manusia tetap mempunyai pilihan.

Yang dimaksud adalah ketika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketentuan yang jelas, seorang mukmin tidak menjadikan hawa nafsunya sebagai sumber hukum tandingan.

7. Pengikut Rasulullah ﷺ Mengikuti Beliau dengan Ilmu, Bukan Sekadar Semangat

Ittiba‘ juga tidak boleh dipahami sebagai semangat mengikuti setiap sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah ﷺ tanpa pemeriksaan.

Karena itu, orang yang benar-benar ingin mengikuti Rasulullah ﷺ akan memperhatikan:

Apakah benar hal itu berasal dari Rasulullah ﷺ?

Kemudian, apa makna hadis tersebut?

Lalu, bagaimana para sahabat dan ulama yang terpercaya memahaminya?

Sebab, seseorang dapat memiliki semangat membela Sunnah, tetapi keliru dalam menentukan sesuatu sebagai Sunnah. Kesalahan semacam ini justru dapat terjadi apabila semangat tidak disertai ilmu.

Maka:

لَا اتِّبَاعَ صَحِيحًا بِغَيْرِ عِلْمٍ

“Tidak ada ittiba‘ yang benar tanpa ilmu.”

Di sinilah pentingnya ilmu hadis, pemahaman bahasa Arab, usul fikih, pengumpulan seluruh dalil dalam satu masalah, serta pemahaman terhadap konteks dan penjelasan para ulama.

8. Pengikut Rasulullah ﷺ Mengikuti Sunnah Tanpa Menjadikan Perbedaan Furu‘ sebagai Alat Saling Menafikan

Salah satu kesalahan dalam memahami ittiba‘ adalah menganggap bahwa siapa saja yang berbeda dalam persoalan cabang otomatis bukan pengikut Rasulullah ﷺ.

Padahal, sejarah umat Islam menunjukkan adanya perbedaan pendapat di antara para ulama mujtahid dalam sejumlah persoalan furu‘. Perbedaan tersebut tidak dengan sendirinya berarti keluar dari ittiba‘.

Yang harus dibedakan adalah perbedaan yang lahir dari ijtihad ilmiah dengan penolakan terhadap petunjuk Rasulullah ﷺ karena hawa nafsu atau kepentingan.

Karena itu, ukuran ittiba‘ tidak boleh direduksi menjadi keseragaman dalam seluruh persoalan cabang.

Ittiba‘ yang benar justru melahirkan adab dalam ikhtilaf, karena seseorang sadar bahwa dirinya bukan Rasulullah ﷺ dan tidak memiliki sifat ma‘shum.