BAB II Bag 4: Bashirah: Cahaya Ilmu, Iman, dan Kehidupan Hati

8. Dari Ilmu Menuju Yaqin

Setelah ilmu dipahami dan hati dibersihkan, ilmu harus berkembang menjadi yaqin.

Sebab, bashirah bukan hanya pengetahuan tentang kebenaran, tetapi juga keyakinan yang kokoh terhadap kebenaran tersebut.

Allah berfirman:

وَفِي الْأَرْضِ آيَاتٌ لِلْمُوقِنِينَ

“Dan di bumi terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang yakin.” (QS. adz-Dzariyat [51]: 20)

Orang yang memiliki yaqin tidak mudah digoyahkan oleh syubhat.

Ia tidak mudah meninggalkan prinsip karena tekanan lingkungan.

Ia tidak mengubah kebenaran hanya karena kebenaran tersebut tidak sesuai dengan kepentingan dirinya.

Yaqin menjadikan ilmu memiliki akar di dalam hati.

Karena itu, bashirah dapat dipahami sebagai ilmu yang telah memperoleh kedalaman iman dan keyakinan sehingga seseorang mampu melihat kehidupan dengan perspektif wahyu.

9. Bashirah Melahirkan Furqan

Ketika ilmu, iman, tazkiyah, dan yaqin bertemu, lahirlah kemampuan membedakan.

Inilah yang disebut furqan.

Allah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَتَّقُوا اللَّهَ يَجْعَلْ لَكُمْ فُرْقَانًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika kalian bertakwa kepada Allah, niscaya Dia memberikan kepada kalian furqan.” (QS. al-Anfal [8]: 29)

Perhatikan bahwa Allah menghubungkan takwa dengan furqan.

Artinya, kejernihan dalam membedakan kebenaran bukan semata-mata produk kecerdasan intelektual. Ada dimensi spiritual dan moral di dalamnya.

Hati yang bertakwa lebih mampu melihat dengan jernih karena ia tidak menjadikan hawa nafsu sebagai hakim tertinggi.

Maka, bashirah memiliki fungsi furqaniyyah: ia membantu manusia membedakan apa yang benar dan salah, bukan sekadar mengetahui bahwa keduanya berbeda.

10. Bashirah Harus Berujung pada Ittiba‘

Puncak bashirah bukan kemampuan berbicara tentang kebenaran, tetapi mengikuti kebenaran.

Allah berfirman:

قُلْ هَٰذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَىٰ بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Katakanlah, ‘Inilah jalanku; aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak kepada Allah berdasarkan bashirah.’” (QS. Yusuf [12]: 108)

Perhatikan bahwa ayat tersebut tidak berhenti pada kata بَصِيرَةٍ.

Allah langsung menyebut:

أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي

“Aku dan orang-orang yang mengikutiku.”

Dengan demikian, bashirah memiliki hubungan yang sangat erat dengan ittiba‘.

Orang yang melihat jalan, tetapi tidak berjalan di atasnya, belum mencapai kesempurnaan bashirah.

Orang yang mengetahui kebenaran, tetapi tidak mengikutinya, memiliki persoalan dalam hubungan antara ilmu dan hati.

Karena itu, bashirah yang benar akan mengantarkan manusia kepada:

مَعْرِفَةٌ → مَحَبَّةٌ → اتِّبَاعٌ → طَاعَةٌ

Mengenal → mencintai → mengikuti → menaati.

11. Mengapa Dua Orang Membaca Ayat yang Sama, tetapi Berbeda?

Di sinilah kita dapat memahami fenomena yang sering terjadi dalam kehidupan manusia.

Dua orang dapat membaca ayat yang sama.

Keduanya mendengar nasihat yang sama.

Keduanya mengetahui dalil yang sama.

Namun, hasilnya berbeda.

Yang satu semakin tunduk.

Yang lain semakin membantah.

Yang satu semakin rendah hati.

Yang lain semakin sombong.

Yang satu semakin takut kepada Allah.

Yang lain justru menggunakan ilmu untuk membenarkan dirinya.

Mengapa?

Karena wahyu yang sama tidak selalu diterima oleh hati yang sama.

Allah berfirman:

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

“Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.” (QS. al-Hajj [22]: 46)

Maka, perbedaan bukan selalu terletak pada kekuatan dalil. Kadang-kadang, perbedaannya terletak pada kesiapan hati menerima dalil.

Di sinilah tazkiyah menjadi sangat penting.

Hati yang dipenuhi kesombongan dapat melihat dalil, tetapi tidak tunduk.

Hati yang dipenuhi hawa nafsu dapat mengetahui kebenaran, tetapi memilih yang sesuai dengan keinginannya.

Hati yang hidup akan mencari kebenaran dan, ketika kebenaran telah jelas, bersedia tunduk kepadanya.

12. Bashirah Adalah Cahaya yang Menghubungkan Hati dengan Jalan Allah

Dari seluruh uraian tersebut, kita dapat menyusun hubungan yang lebih utuh.

Pertama: Wahyu memberikan cahaya.

نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ

Allah memberikan cahaya dan Kitab yang menjelaskan.

Kedua: Tilawah mempertemukan manusia dengan wahyu.

Ayat dibaca dan didengar.

Ketiga: Hati tergerak.

وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ

Hati bergetar karena mengingat Allah.

Keempat: Tazkiyah membersihkan penghalang.

Jiwa dibersihkan dari kesombongan, hawa nafsu, syahwat yang menyimpangkan, dan penyakit hati.

Kelima: Ta‘lim memberikan pemahaman.

Kitab dan hikmah dipelajari.

Keenam: Iman dan yaqin mengakar.

Ilmu tidak lagi menjadi informasi, tetapi menjadi keyakinan.

Ketujuh: Bashirah lahir.

Manusia mampu melihat kebenaran dengan pandangan yang diterangi wahyu.

Kedelapan: Ittiba‘ membuktikannya.

Bashirah diwujudkan dalam pilihan dan amal.

Maka, dapat dirumuskan:

الْبَصِيرَةُ لَيْسَتْ مُجَرَّدَ مَعْلُومَةٍ فِي الْعَقْلِ، بَلْ هِيَ نُورٌ فِي الْقَلْبِ يَهْدِي إِلَى الْحَقِّ وَيَقُودُ إِلَى الْعَمَلِ بِهِ.

“Bashirah bukan sekadar informasi yang tersimpan dalam akal, tetapi cahaya di dalam hati yang membimbing kepada kebenaran dan mengantarkan kepada pengamalan kebenaran tersebut.”

13. Kaidah Penting dalam Pertumbuhan Bashirah

Dari pembahasan ini dapat ditetapkan satu kaidah:

لَا تَنْمُو الْبَصِيرَةُ بِكَثْرَةِ الْمَعْلُومَاتِ وَحْدَهَا، بَلْ بِاجْتِمَاعِ الْوَحْيِ وَالْعِلْمِ وَالْإِيمَانِ وَتَزْكِيَةِ الْقَلْبِ وَالْعَمَلِ.

“Bashirah tidak tumbuh hanya karena banyaknya informasi, tetapi melalui pertemuan antara wahyu, ilmu, iman, penyucian hati, dan amal.”

Kaidah ini sangat penting agar kita tidak salah memahami proyek pembentukan manusia Qur’ani.

Tujuan pendidikan Islam bukan sekadar menjadikan manusia banyak mengetahui. Tujuannya adalah menjadikan manusia mengetahui, memahami, meyakini, mencintai, kemudian mengikuti kebenaran.

Dengan demikian, pendidikan yang hanya memperbanyak pengetahuan, tetapi tidak menghidupkan hati, belum menyelesaikan tugas pendidikan.

Begitu pula dakwah yang hanya memperbanyak penyampaian materi, tetapi tidak memperhatikan tazkiyah, dapat menghasilkan manusia yang banyak berbicara tentang agama, tetapi belum tentu memiliki kedalaman iman dan akhlak.

14. Dari Bashirah Menuju Ahlul Bashirah

Setelah memahami bagaimana bashirah tumbuh, pertanyaan berikutnya adalah: bagaimana kita mengetahui bahwa bashirah benar-benar telah tumbuh dalam diri seseorang?

Jawabannya tidak cukup dengan melihat seberapa banyak ilmu yang dimilikinya.

Bashirah memiliki tanda-tanda yang tampak dalam:

  • Cara seseorang memandang Allah.

  • Cara ia memahami wahyu.

  • Cara ia menghadapi perbedaan.

  • Cara ia memperlakukan manusia.

  • Cara ia menghadapi hawa nafsu.

  • Cara ia menghadapi kesenangan dan kesulitan.

  • Cara ia mengambil keputusan.

  • Cara ia menghadapi syubhat.

  • Cara ia menyikapi dunia.

  • Terutama, cara ia mengikuti Rasulullah ﷺ.

Di sana kita akan melihat bahwa bashirah bukan konsep abstrak.

Ia mempunyai tanda-tanda yang dapat dikenali dalam akidah, ibadah, akhlak, cara berpikir, cara mengambil keputusan, sikap terhadap wahyu, serta hubungan seseorang dengan Allah dan sesama manusia.

Dengan demikian, perjalanan pembahasan kita menjadi utuh:

الْوَحْيُ → التِّلَاوَةُ → حَيَاةُ الْقَلْبِ → التَّزْكِيَةُ → التَّعْلِيمُ → الْإِيمَانُ وَالْيَقِينُ → الْبَصِيرَةُ → الِاتِّبَاعُ → الطَّاعَةُ

Wahyu → tilawah → kehidupan hati → tazkiyah → ta‘lim → iman dan yaqin → bashirah → ittiba‘ → ketaatan.

Inilah jalan pembentukan manusia yang berjalan kepada Allah di atas bashirah. Bagian ini sekarang menjadi jembatan utama dari pembahasan hakikat bashirah menuju pembahasan “Indikator dan Karakter Ahlul Bashirah”.