Apakah Nabi Isa Telah Menikah?

Tidak ada sama sekali di dalam Al-Qur’an maupun dalam hadits shahih dalil yang menerangkan bahwa Nabi Isa telah menikah atau dalil yang menerangkan bahwa Nabi Isa belum menikah, walaupun di dalam Al-Qur’an diterangkan secara umum bahwa menikah adalah petunjuk dari para rasul. Allah berfirman,

وَلَقَدْ اَرْسَلْنَا رُسُلًا مِّنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ اَزْوَاجًا وَّذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُوْلٍ اَنْ يَّأْتِيَ بِاٰيَةٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ لِكُلِّ اَجَلٍ كِتَابٌ

“Dan sungguh, Kami telah mengutus beberapa rasul sebelum engkau (Muhammad) dan Kami berikan kepada mereka istri-istri dan keturunan. Tidak ada hak bagi seorang rasul mendatangkan sesuatu bukti (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Untuk setiap masa ada Kitab (tertentu).” (Surah Ar-Ra’d: 38)

Namun bisa saja sebagian dari para rasul tersebut ada yang dikecualikan. Pengecualin ini merupakan bentuk kesempurnaan dalam hak para rasul dan kesempurnaan dalam syariat yang ia bawa sebagaimana menikah adalah kesempurnaan bagi hak Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam dan kesempurnaan syariat yang beliau bawa.

Allah berfirman kepada Nabi Zakariya tentang putranya yang hendak lahir, yaitu Nabi Yahya,

فَنَادَتْهُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَهُوَ قَاۤىِٕمٌ يُّصَلِّيْ فِى الْمِحْرَابِۙ اَنَّ اللّٰهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيٰى مُصَدِّقًاۢ بِكَلِمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ وَسَيِّدًا وَّحَصُوْرًا وَّنَبِيًّا مِّنَ الصّٰلِحِيْنَ

“Kemudian para malaikat memanggilnya, ketika dia berdiri melaksanakan salat di mihrab, “Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu dengan (kelahiran) Yahya, yang membenarkan sebuah kalimat (firman) dari Allah, panutan, berkemampuan menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang nabi di antara orang-orang saleh.” (Surah Ali-Imran: 39)

Apabila dikatakan, “Bagaimana bisa dikatakan bahwa menikah adalah keutamaan? Nabi Yahya dipuji oleh Allah sedangkan ia dalam keadaan hasur (impoten)? Bagaimana Allah bisa memuji dia karena ketidakmampuannya melakukan sesuatu yang dianggap sebagai keutamaan? Dan Nabi Isa ia tidak menikah, kalaulah menikah adalah keutamaan, tentu beliau akan menikah!”

Al-Qadi Iyad di dalam kitab Asy-Syifa mengatakan, “Perlu diketahui bahwa pujian Allah Ta’ala kepada Yahya —yang dikatakan bahwa Yahya adalah seorang yang hasur— tidaklah seperti yang dikatakan oleh sebagian dari mereka yang mengatakan bahwa Yahya adalah lelaki yang impoten atau tidak mempunyai zakar, melainkan hal ini dibantah oleh ahli tafsir yang jeli dan para ulama ahli kritik.

“Mereka mengatakan bahwa penilaian seperti itu kurang benar dan tercela, mengingat tidak pantas ditujukan kepada para nabi. Sesungguhnya makna yang dimaksud ialah bahwa Yahya terpelihara dari dosa-dosa. Dengan kata lain, dia tidak melakukannya sama sekali sehingga diumpamakan seakan-akan dia impoten.

“Menurut pendapat yang lain, makna hasur ialah menahan diri dari pengaruh hawa nafsu. Menurut pendapat yang lainnya lagi, Nabi Yahya tidak mempunyai selera terhadap wanita. Tetapi pendapat ini jelas bagi Anda, bahwa tidak mampu menikah merupakan suatu kekurangan. Tetapi hal yang utama ialah bila nafsu syahwat itu ada, lalu tidak dituruti, adakalanya dengan menahan diri seperti yang dilakukan oleh Nabi Isa, atau dengan pemeliharaan dari Allah Ta’ala seperti yang terjadi pada diri Nabi Yahya.

Selanjutnya masalah wanita ini bagi lelaki yang mampu terhadapnya, lalu ia menunaikan semua kewajiban terhadap wanitanya tanpa melalaikan kewajibannya terhadap Rabbnya, maka baginya derajat yang tinggi, yaitu seperti derajat yang diperoleh oleh Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wasallam. Sekalipun istri beliau banyak, tetapi hal tersebut tidak melalaikan dirinya dari menyembah Rabbnya, bahkan menambah pahala ibadahnya, karena memelihara kehormatan mereka, mengatur, dan menafkahi mereka serta memberi mereka petunjuk.” (Tafsir Ibnu Katsir, 2/38)

Berkata Imam Ibnu Asyur, “Adapun Nabi Isa meninggalkan pernikahan, mungkin itu karena peristiwa lain yang Allah perintahkan untuk dilakukan, dan meninggalkan pernikahan bukanlah salah satu urusan kenabian, karena semua nabi memiliki istri.” (At-Tahrir wa At-Tanwir, 27/425)

Maka kita sebagai orang Islam harus meyakini bahwa Nabi Isa adalah bagian dari ulul azmi. Beliau menikah ataukah tidak, maka manapun yang memang benar telah terjadi merupakan keutamaan dan kesempurnaan haknya, tidak ada satu pun aib dalam hal tersebut.

Wallahu A’lam bish Shawab

https://islamqa.info/ar/answers/117065 /هل-تزوج-المسيح-عيسى-عليه-السلام