Surah An-Nisaa’ Ayat 4, 7 dan 11

Ayat 4, yaitu firman Allah ta’ala,

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan . Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.” (an-Nisaa’: 4)

Sebab Turunnya Ayat

Abu Hatim meriwayatkan bahwa Abu Shaleh berkata, “Dulu jika seseorang menikahkan anaknya, maka dia mengambil mahar yang diberikan suaminya untuk anaknya. Lalu Allah melarang hal itu dan menurunkan firman-Nya,

“Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan ...””

Ayat 7, yaitu firman Allah ta’ala,

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (an-Nisaa’: 7)

Sebab Turunnya Ayat

Abusy Syekh dan Ibnu Hibban meriwayatkan dalam Kitab al-Faraa’idh dari jalur al-Kalbi dari Abu Shaleh bahwa Ibnu Abbas berkata, “Dulu orang-orang jahiliah tidak memberi warisan kepada anak-anak perempuan dan anak-anak mereka yang masih kecil hingga mereka menjadi remaja. Lalu pada suatu ketika seorang Anshar yang bernama Aus bin Tsabit meninggal dunia dan meninggalkan dua orang anak perempuan serta dua orang anak lelaki yang masih kecil. Lalu dua orang anak pamannya, Khalid dan Arthafah yang status keduanya adalah ashabah, datang mengambil semua warisannya. Maka, bekas istrinya pun mendatangi Rasulullah saw. dan menyampaikan hal itu kepada beliau. Lalu beliau menjawab, “Saya tidak tahu apa yang harus saya katakan.” Lalu turunlah firman Allah,

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya,… (an-Nisaa’: 7)

Ayat 11, yaitu firman Allah ta’ala,

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan . dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua , maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak. jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfa’atnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (an-Nisaa’: 11)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah meriwayatkan bahwa Jabir bin Abdillah berkata, “Ketika saya sakit, dengan berjalan kaki Rasulullah saw. dan Abu Bakar menjenguk saya di tempat Bani Salamah. Ketika sampai, mereka dapati saya pingsan. Lalu Rasulullah saw. minta diambilkan air kemudian berwudhu lalu memercikkan air di wajah saya. Saya pun tersadarkan diri. Lalu saya bertanya kepada beliau, ‘Apa yang harus saya lakukan terhadap hartaku?’ Maka turunlah firman Allah,

“Allah mensyari’atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu : bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan…” (69)

Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan al-Hakim meriwayatkan bahwa Jabir berkata, “Pada suatu hari istri Sa’ad bin Rabi’ mendatangi Rasulullah saw. lalu berkata, ‘Wahai Rasulullah, ini dua orang anak perempuan Sa’ad. Dan Saad syahid pada Prang Uhud ketika bersamamu. Paman mereka telah mengambil semua harta mereka tanpa meninggalkan sedikitpun, sedangkan keduanya tidak mungkin dinikahkan kecuali jika mempunyai harta.’ Maka Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah akan memutuskan hal ini.’ Maka turunlah ayat tentang warisan.’ ” (70)

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Orang-orang yang mengatakan bahwa ayat ini turun pada kisah Jabir berpegang pada cerita ini, apalagi ketika itu Jabir belum mempunyai anak. Jawaban bagi mereka adalah ayat ini turun pada dua kisah tersebut. Kemungkinan ia turun pertama kali pada kisah dua anak perempuan itu, sedangkan akhir ayat itu yaitu, ‘Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak,…” (an-Nisaa’: 12) turun pada kisah Jabir. Adapun yang dimaksud Jabir dalam kata-kata, ‘Lalu turun ayat, “Allah mensyariatkan (mewajibkan) kepadamu tentang (pembagian warisan untuk anak-anakmu…” (an-Nisaa’: 11) adalah ayat tentang Kalalah yang bersambung dengan ayat ini.”

Ada juga sebab ketiga dari turunnya ayat ini, yaitu yang diriwayatkan Ibnu Jarir bahwa as-Suddi berkata, “Dulu orang-orang jahiliah tidak memberi warisan kepada anak-anak perempuan mereka dan anak-anak lelaki mereka yang masih kecil. Mereka hanya memberikan warisan kepada anak-anak mereka yang sudah mampu berperang. Pada suatu ketika, Abdurrahman, saudara Hassan sang penyair, meninggal dunia dan meninggalkan seorang istri yang bernama Ummu Kuhha dan lima orang anak perempuan. Lalu para ahli waris laki-lakinya mengambil harta warisannya. Maka Ummu Kuhha mengadukan hal itu kepada Rasulullah saw.. Turunlah ayat,

“…Dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua , maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan….” (an-Nisaa’: 11)

Kemudian Allah berfirman kepada Ummu Kuhhah,” …Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapannya dari harta yang kamu tinggalkan…'” (an-Nisaa’: 12)

Ada versi lain dalam kisah Sa’ad ibnur Rabi’ ini. Al-Qadhi Isma’il meriwayatkan dalam Ahkamul Qur’an dari jalur Abdul Malik bin Muhammad bin Hazm bahwa dulu Umrah binti Hizam adalah istri Sa’ad ibnur Rabi’. Sa’ad terbunuh pada Perang Uhud dan meninggalkan seorang anak perempuan. Lalu Umrah binti Hizam mendatangi Rasulullah saw. meminta warisan untuk anaknya. Tentang kasusnya turun firman Allah ta’ala,

“Dan mereka meminta fatwa kepadamu tentang perempuan….” (an-Nisaa’: 127)

69. HR. Bukhari dalam Kitabut Tafsir, No. 4577 dan Muslim dalam Kitabul Faraa’idh, No. 1616, Abu Dawud dalam Kitabul Faraa’idh, No. 2505, Trimidzi dalam Kitabul Faraa’idh, No. 2022.

70. HR. Abu Dawud dalam Kitabul Fara’idh, No. 2505, Tirmidzi dalam Kitabul Faraa’idh, No. 2018, al-Hakim dalam al-Mustadrak, No. 8073 dan Ahmad dalam al-Musnad, No. 14270.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 151 – 155.