Surah Ali Imran Ayat 144, 154, 161 dan 165

Ayat 144, yaitu firman Allah ta’ala,

“Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul . Apakah Jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.” (Ali Imran: 144)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Umar, dia berkata, “Ketika peperangan Uhud, kami berpisah dengan Rasulullah. Lalu saya mendaki Gunung Uhud, di sana saya mendengar orang-orang berkata, ‘Muhammad telah terbunuh.’ Maka saya membatin, “Tak seorang pun yang mengatakan bahwa Muhammad telah terbunuh, kecuali akan saya bunuh.’

Ketika saya perhatikan ke bagian bawah Gunung Uhud, saya melihat Rasulullah dengan orang-orang sedang kembali. Lalu turun firman Allah, ‘Dan Muhammad hanyalah seorang rasul;…'”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ar-Rabi’, dia berkata, “Ketika kekalahan menimpa orang-orang muslim dan mereka berteriak-teriak memanggil Rasulullah, orang-orang berkata, ‘Rasulullah telah terbunuh.’ Maka sekelompok orang berkata, ‘Seandainya dia seorang nabi, tentu tidak akan terbunuh.’ Dan sekelompok orang lainnya berkata, ‘Berpeganglah demi sesuatu yang untuknya Nabi kalian berperang, hingga Allah memenangkan kalian atau kalian menyusul beliau.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya, ‘Dan Muhammad hanyalah seorang rasul;…'”

Al-Baihaqi meriwayatkan dalam Dalaa’ilun Nubuwwah dari Abu Najih bahwa seorang lelaki dari Muhajirin berpapasan dengan seorang lelaki Anshar yang berlumuran darah. Lalu dia berkata, “Apakah engkau merasa bahwa Muhammad telah terbunuh?” Maka orang Muhajir tadi menjawab, “Jika beliau terbunuh, maka beliau telah menyampaikan risalahnya. Maka berperanglah kalian demi agama kalian.” Lalu turunlah firman Allah di atas.

Ibnu Rahuyah meriwayatkan dalam musnadnya dari az-Zuhri bahwa ketika Peperangan Uhud setan meneriakkan bahwa Rasulullah telah terbunuh. Ka’ab bin Malik berkata, “Saya orang pertama yang mengetahui kondisi Rasulullah sebenarnya. Saya melihat beliau memakai topi baja, lalu saya berteriak, ‘Itu Rasulullah.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya, ‘Dan Muhammad hanyalah seorang Rasul;…'”

Ayat 154, yaitu firman Allah ta’ala,

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu , sedang segolongan lagi telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah . Mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. Mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali Imran: 154)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Rahuyah meriwayatkan dari az-Zubair, dia berkata, “Ketika ketakutan sangat menghantui kami pada Perang Uhud dan Allah menurunkan rasa kantuk kepada kami hingga setiap orang dari kami kepalanya tertunduk sampai dagunya menempel di dadanya karena tidur, saya seperti bermimpi mendengar kata-kata Mu’tab bin Qusyair, ‘Sekiranya kita memiliki hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terbunuh di sini.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

“Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu,….Allah Maha Mengetahui isi hati.” (Ali Imran: 154)

Ayat 161, yaitu firman Allah ta’ala,

“Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. Barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.” (Ali Imran: 161)

Sebab Turunnya Ayat

Abu Dawud dan at-Tirmidzi –dan dia menghasankannya– meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ayat di atas turun pada sebuah kain merah yang hilang pada Peperangan Uhud. Maka beberapa orang berkata, “‘Mungkin Rasulullah telah mengambilnya.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang)…”‘ (61)

Ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir meriwayatkan dengan sanad yang para perawinya tsiqaat (reliable) dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pada suatu ketika Rasulullah mengirim satu tentara. Kemudian panjinya kembali. Lalu beliau mengirim kembali, namun panjinya kembali juga. Kemudian beliau mengutus kembali, lalu panjinya dikembalikan dengan emas sebesar kepala kijang. Maka turunlah firman Allah,

‘Dan tidak mungkin seorang nabi berkhianat (dalam urusan harta rampasan perang)…”‘

Ayat 165, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (Ali Imran: 165)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Umar ibnul-Khaththab, dia berkata, “Pada Perang Uhud, orang-orang muslim dihukum karena apa yang mereka lakukan pada Perang Badar, yaitu karena mereka mengambil tebusan dari musuh untuk membebaskan tawanan. Sehingga pada Perang Uhud tujuh puluh orang terbunuh, para sahabat melarikan diri, gigi beliau patah, topi baja beliau pecah, dan darah mengalir di wajah beliau. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan mengapa kamu (heran) ketika ditimpa musibah (kekalahan pada Perang Uhud),…”‘

61. HR. Abu Dawud dalam Kitabul Qira’at, No. 3971 dan at-Tirmidzi dalam Kitabut Tafsir, No. 3009.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 137 – 141.