Surah Al-Baqarah Ayat 238, 240, 241, dan 245

Ayat 238, yaitu firman Allah ta’ala,

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa . Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.”

(al-Baqarah: 238)

Sebab Turunnya Ayat

Ahmad, al-Bukhari dalam Tarikh-nya, Abu Dawud, al-Baihaqi, dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi saw. melakukan shalat zhuhur ketika siang hari. Dan ketika itu shalat zhuhur adalah shalat yang paling berat bagi para sahabat. Makat turunlah firman Allah,

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa . Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (al-Baqarah: 238) (39)

Ahmad, an-Nasa’i, dan Ibnu Jarir meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit bahwa Nabi saw. shalat zhuhur pada siang hari. Ketika itu makmum di belakang beliau hanya ada satu atau dua shaf saja. Karena pada saat-saat itu orang-orang sedang tidur siang atau sedang berniaga. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa . Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (al-Baqarah: 238) (40)

Al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, Ibnu Majah, dan yang lainnya meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, dia berkata, “Pada zaman Rasulullah, ketika sedang shalat kami boleh berbicara dengan sahabat yang lain yang juga sedang shalat di sisi kami. Hingga turunlah firman Allah,

“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (al-Baqarah: 238)

Maka, kami diperintahkan untuk khusyuk dan kami dilarang berbicara ketika shalat. (41)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-Mujahid, dia berkata, “Dulu orang-orang muslim berbincang-bincang ketika sedang shalat. Mereka juga biasa menyuruh saudaranya untuk suatu keperluan. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (al-Baqarah: 238)

Ayat 240, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). Akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 240)

Sebab Turunnya Ayat

Ishaq bin Rahuyah di dalam tafsirnya meriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan bahwa seorang lelaki dari Thaif datang ke Madinah dengan anak-anak lelaki dan wanitanya, juga membawa kedua orang tua dan istrinya. Lalu lelaki itu meninggal dunia di Madinah. Kemudian hal itu disampaikan kepada Nabi saw.. Maka beliau memberikan bagian warisan kepada kedua orang tuanya dan memberikan anak-anaknya dengan bagian yang baik, namun beliau tidak memberi apa-apa kepada istrinya. Hanya saja mereka diperintahkan untuk memberi nafkah kepada istrinya dari warisannya selama satu tahun. Pada peristiwa itulah turn firman Allah,

“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya,…” (al-Baqarah: 240)

Ayat 241, yaitu firman Allah ta’ala,

“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Zaid, dia berkata, “Ketika turun firman Allah, ‘…Dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah (pemberian) kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya (pula), yaitu pemberian menurut yang patut. Yang demikian itu merupakan ketentuan bagi orang-orang yang berbuat kebajikan.” (al-Baqarah: 236)

Seseorang berkata, ‘Jika saya mau berbuat baik, saya akan melakukannya. Namun jika saya tidak mau, maka saya pun tidak akan melakukannya.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)

Ayat 245, yaitu firman Allah ta’ala,

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (al-Baqarah: 245)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Hibban di dalam shahihnya dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Ibnu Umar, dia berkata, “Ketika turun firman Allah,

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 261)

Rasulullah bersabda,

‘Ya Allah, berilah tambahan untuk umatku.’

Maka turunlah firman Allah,

“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. Dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (al-Baqarah: 245) (42)

39. HR. Abu Dawud dalam Kitabush Shalat, No. 348 dan HR. AHmad dalam al-Musnad, No. 20612.

40. HR. an-Nasa’i dalam Kitabush Shalat, No. 1204 dan Ahmad dalam al-Musnad No. 20793

41. HR. Bukhari dalam Kitabush Shalat, No. 1125 dan HR. an-Nasa’i dalam No. 1204.

42. HR. Ibnu Hibban dalam shahihnya, No. 4734.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 103 – 108.