Surah Al-Baqarah Ayat 229, 230, 231 dan 232

Ayat 229, yaitu firman Allah ta’ala,

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya . Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 229)

Sebab Turunnya Ayat

At-Tirmidzi, al-Hakim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Dulu orang laki-laki bebas mencerai istrinya, dan menjadi suaminya kembali jika merujuknya, walaupun setelah mencerainya seratus kali. Hingga pada suatu ketika ada seorang lelaki berkata pada istrinya, ‘Demi Allah, aku tidak akan menceraikanmu sehingga engkau berpisah denganku. Dan, saya tidak akan menaungimu selamanya.’

Dengan heran sang istripun bertanya, ‘Bagaimana hal itu bisa terjadi?’

Sang suami menjawab, ‘Aku akan menceraimu. Dan setiap kali iddahmu akan habis, aku merujukmu kembali.’

Maka sang istri menghadap Rasulullah dan mengadukan perihal suaminya. Dalam beberapa saat Rasulullah terdiam, hingga turunlah firman Allah,

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik.” (al-Baqarah: 229)

Ayat 229, yaitu firman Allah ta’ala,

“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. Setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya . Itulah hukum-hukum Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 229)

Sebab Turunnya Ayat

Abu Dawud dalam an-Naasikh wal Mansuukh meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Dulu seorang suami memakan dari pemberian yang telah dia berikan pada istrinya dan yang lainnya, tanpa melihat adanya dosa pada hal itu. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu yang telah kamu berikan kepada mereka,…””

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Juraij, dia berkata, “Ayat ini turun pada Tsabit bin Qais dan Habibah, istinya. Habibah mengadukan perihal suaminya kepada Rasulullah untuk kemudian meminta diceraikan. Maka Rasulullah berkata kepada Habibah, ‘Apakah engkau mau mengembalikan kebun yang dia jadikan mahar untukmu?’ Habibah menjawab, ‘Ya, saya mau.’ Lalu Rasulullah memanggil Tsabit bin Qais dan memberitahunya tentang apa yang dilakukan istrinya. Maka Tsabit bin Qais berkata, “Apakah dia rela melakukannya?’ Rasulullah menjawab, ‘Ya, dia rela.’ Istrinya pun berkata, ‘Saya benar-benar telah melakukannya.’ Maka turun firman Allah,

“Tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah.” (al-Baqarah: 229)

Ayat 230, yaitu firman Allah ta’ala,

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.” (al-Baqarah: 230)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Muqatil bin Hayyan, dia berkata, “Ayat ini turun untuk Aisyah binti Abdirrahman bin Atik. Ketika itu Aisyah binti Abdirrahman menjadi istri Rifa’ah bin Wahb bin Atik. Jadi Rifa’ah adalah anak paman Aisyah sendiri. Pada suatu ketika Rifa’ah mencerai Aisyah binti Abdirrahman dengan talak bain. Setelah itu Aisyah binti Abdirrahman menikah dengan Abdurrahman ibnuz-Zubair al-Qarzhi. Lalu Abdurrahman mencerainya lagi. Maka Aisyah binti Abdirrahman mendatangi Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, Abdurrahman mencerai saya sebelum menggauli saya. Apakah saya boleh kembali kepada suami saya yang pertama?’ Rasulullah menjawab, ‘Tidak, hingga dia menggaulimu.’

Maka turunlah firman Allah pada Aisyah, ‘Kemudian jika si suami menalaknya (sesudah talak yang kedua), maka wanita itu tidak halal lagi baginya hinga dia kawin dengan suami yang lain’, dan menjimanya.

“Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali.” (al-Baqarah: 230)

Ayat 231, yaitu firman Allah ta’ala,

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). Janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, karena dengan demikian kamu menganiaya mereka . Barangsiapa berbuat demikian, maka sungguh ia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah ni’mat Allah padamu, dan apa yang telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al Hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. Dan bertakwalah kepada Allah serta ketahuilah bahwasanya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 231)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari jalur al-Aufi dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Dulu seorang suami mencerai istrinya, kemudian merujuknya kembali sebelum habis masa iddahnya. Setelah itu sang suami mencerainya lagi. Sang suami melakukan hal itu untuk mempersulit sang istri dan menghalanginya menikah dengan yang lain. Maka Allah menurunkan ayt ini.”

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata, “Ayat ini turun pada seorang lelaki dari Anshar yang bernama Tsabit bin Yassar. Pada suatu ketika dia mencerai istrinya. Lalu ketika dua atau tiga hari lagi masa iddahnya habis, dia merujuknya kembali. Kemudian setelah itu dia mencerainya lagi. Hal itu membuat mudharat pada istrinya. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘…Dan janganlah kamu tahan mereka dengan maksud jahat untuk menzalimi mereka…”” (al-Baqarah: 231)

Ibnu Abi Amr dalam musnadnya dan Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari Abud Darda’, dia berkata, “Dulu seorang suami mencerai istrinya, lalu berkata, ‘Saya main-main saja.’ Dan dia menceraikannya lagi, kemudian berkata lagi, ‘Saya hanya main-main saja.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘…Dan janganlah kamu jadikan ayat-ayat Allah sebagai bahan ejekan….”‘ (al-Baqarah: 231)

Ibnul Mundzir meriwayatkan dari Ubadah ibnush-Shamit hadits yang semisal di atas.

Ibnu Mardawaih juga meriwayatkan yang serupa dengannya dari Ibnu Abbas.

Ibnu Juraij juga meriwayatkan semisalnya secara mursal dari Hasan al-Bashri.

Ayat 232, yaitu firman Allah ta’ala,

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya , apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 232)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan yang lainnya meriwayatkan dari Ma’qil bin Yassar bahwa Ma’qil mengawinkan saudarinya dengan seorang muslim. Kemudian sang suami menceraikan adik wanitanya dan tidak merujuknya kembali hingga habis masa iddahnya. Namun, kemudian dia kembali menikahinya dan bekas istrinya itu juga ingin kembali kepadanya. Maka, dia pun melamarnya kembali.

Ma’qil bin Yassar, kakak bekas istri lelaki itu, dengan marah berkata, ‘”Wahai bodoh, dulu aku telah memuliakanmu dan menikahkanmu dengan adik wanitaku. Namun kemudian engkau menceraikannya. Demi Allah, dia tidak akan kembali lagi kepadamu.” Allah Maha Mengetahui keperluan sang suami kepada bekas istrinya tersebut dan begitu pula sebaliknya. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya , apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (al-Baqarah: 232)

Ketika Ma’qil mendengar ayat itu, spontan dia pun berkata, “Sepenuh hati saya menaati perintah Tuhanku.”

Kemudian dia memanggil bekas suami adiknya, lalu dia berkata kepadanya, “Kini aku menikahkanmu dengan adikku dan memuliakanmu.” (38)

Ibnu Mardawaih juga meriwayatkannya dari banyak jalur.

Kemudian Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata, “Ayat ini turun pada Jabir bin Abdillah al-Anshari. Ada seorang anak pamannya yang tinggal bersamanya. Setelah menikah, suami keponakannya itu mencerainya hingga habis masa iddahnya. Kemudian sang suami itu ingin kembali menikahinya. Namun Jabir tidak mau menerimanya dan berkata, ‘Engkau telah mencerai anak paman kami, dan kini engkau ingin menikahinya lagi?!’ Sedangkan anak pamannya sendiri ingin kembali kepada suaminya dan telah memaafkannya. Maka turunlah firman Allah dalam surah al-Baqarah ayat 232.”

Riwayat yang pertama lebih kuat dan lebih shahih.

38. HR. Bukhari dalam Kitabun Nikaah, No. 2087, HR Abu Dawud dalam Kitabun Nikaah, No. 1718 dan HR at-Tirmidzi dalam Kitabut Tafsir, No. 2981.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 97 – 103.