Surah Al-Baqarah Ayat 197, 198, 199, 200, 204 dan 207

Ayat 197, yaitu firman Allah ta’ala,

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi , barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats , berbuat fasik dan berbantah bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa dan bertakwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 197)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Bukhari dan yang lainnnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Orang-orang Yaman selalu menunaikan haji tanpa membawa bekal, dan mereka berkata, ‘Kami bertawakal kepada Allah.’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

‘….Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa….”‘ (35)

Ayat 198, yaitu firman Allah ta’ala,

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam . Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu. dan sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (al-Baqarah: 198)

Sebab Turunnya Ayat

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Pada masa jahiliah, Ukazh, Majinah, dan Dzul Majaz adalah pasar-pasar. Lalu orang-orang yang takut berdosa jika berjualan pada musim haji. Maka mereka bertanya kepada Rasulullah tentang hal itu. Maka turunlah firman Allah ta’ala, ‘Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” Di musim-musim haji.””

Imam Ahmad, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, al-Hakim, dan yang lainnya meriwayatkan dari sejumlah jalur dari Abu Umamah at-Taimy, dia berkata, “Saya bertanya kepada Umar, ‘Kami menyewakan tanah kami, apakah pada waktu yang sama kami boleh melakukan haji?’ Umar menjawab, ‘Rasulullah pernah didatangi oleh seorang lelaki dan menanyakan hal yang sama dengan pertanyaanmu. Rasulullah tidak langsung menjawabnya hingga Jibril turun kepada beliau dan menyampaikan ayat ini,

‘Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezeki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.”

Lalu Rasulullah memanggil si penannya tadi dan berkata kepadanya, ‘Kalian adalah orang-orang yang sedang menunaikan haji.'”

Ayat 199, yaitu firman Allah ta’ala

“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah. sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 199)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Dulu orang-orang Arab berdiri di Arafah dan orang-orang Quraisy berdiri di dekatnya, yaitu di Muzdalifah. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah)’…”‘

Ibnul Mundzir juga meriwayatkan dari Asma’ binti Abi Bakar, dia berkata, “Dulu orang-orang Quraisy berhenti di Arafah dan selain mereka berhenti di Muzdalifah, kecuali Syaibah bin Rabi’ah, maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Kemudian bertolaklah kamu dari tempat orang banyak bertolak (Arafah)’….”‘

Ayat 200, yaitu firman Allah ta’ala,

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu , atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (al-Baqarah: 200)

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Dulu pada masa jahiliah, ketika pada musim haji orang-orang berdiri, lalu salah seorang dari mereka berkata,” ‘Dulu ayah saya memberi makan, membantu membawakan beban dan membayarkan diyat.’ Mereka hanya menyebut-nyebut apa yang telah dilakukan ayah-ayah mereka. Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah,…”‘

Ibnu Jarir juga meriwayatkan dari Mujahid, dia berkata, “Pada masa jahiliah, ketika orang-orang selesai menunaikan ritual haji, mereka berdiri di tempat melempar jumrah, lalu mereka menyebut ayah-ayah dan kakek-kakek mereka pada masa jahiliah beserta kebaikan-kebaikan yang telah dilakukan. Maka turunlah ayat 200 surah al-Baqarah.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Sebagian orang Arab dulu datang ke tempat ibadah haji, lalu mereka berdoa, ‘Ya Allah, jadikanlah tahun ini tahun hujan, tahun subur, dan tahun kebaikan.’ Mereka sama sekali tidak menyebutkan tentang hari akhir. Maka Allah menurunkan pada mereka firman-Nya,

“Maka di antara manusia ada orang yang bendo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (al-Baqarah: 200)

Lalu datang sebelah mereka orang-orang mukmin yang bedoa,

“Dan di antara mereka ada orang yang bendo’a: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka” (al-Baqarah: 201)

Ayat 204, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu, dan dipersaksikannya kepada Allah (atas kebenaran) isi hatinya, padahal ia adalah penantang yang paling keras.” (al-Baqarah: 204)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari jalur Sa’id atau Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ketika rombongan pasukan yang di dalamnya terdapat Ashim dan Martsad kalah perang, dua orang munafik berkata, ‘Rugilah orang-orang yang tertipu dan binasa seperti itu. Mereka tidak duduk bersama keluarga, tidak juga menunaikan tugas pemimpinnya.’ Maka Allah menurunkan firmam-Nya,

‘Dan di antara manusia ada orang yang ucapannya tentang kehidupan dunia menarik hatimu…”‘

Ibnu Jarir meriwayatkan dari as-Suddi, dia berkata, “Ayat ini turun pada al-Akhnas bin Syariq. Dia pernah mendatangi Nabi saw. dan menampakkan keislamannya. Maka, hal itu membuat Nabi saw. merasa takjub. Kemudian dia pergi dari hadapan Nabi saw.. Di perjalanan dia melihat tanaman milik orang-orang muslim dan beberapa ekor keledai. Lalu dia membakar kebun itu dan membunuh keledai-keledainya. Maka Allah menurunkan ayat 204 surah al-Baqarah.”

Ayat 207, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (al-Baqarah: 207)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Harits bin Abi Usamah dalam musnadnya dan Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sa’id ibnul-Musayyab, dia berkata, “Ketika Shuhaib hijrah menuju Madinah, dia diikuti beberapa orang Quraisy. Kemudian Shuhaib turun dari tunggannya dan mengambil anak-anak panah dari tempatnya. Kemudian dia berkata, ‘Wahai orang Quraisy, kalian tahu bahwa aku adalah salah satu orang yang paling pandai memanah. Demi Allah, kalian tidak akan sampai padaku hingga aku menggunakan seluruh anak panahku untuk membunuh kalian, kamudian aku akan menggunakan pedangku selama masih ada di tanganku. Setelah itu lakukanlah apa yang ingin kalian lakukan terhadapku. Jika kalian mau, maka aku serahkan hartaku yang ada di Mekah dan kalian biarkan aku melanjutkan perjalanan.’

Maka orang-orang Quraisy itu berkata, ‘Ya, kami setuju’

Ketika sampai di Madinah, Rasulullah berkata kepada Shuhaib,

‘Beruntunglah jual belimu wahai Abu Yahya. Abu Yahya telah beruntung dalam jual belinya.’

Maka Allah menurunkan firman-Nya,

“Dan di antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan Allah; dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya.” (al-Baqarah: 207)

Al-Hakim meriwayatkan dalam al-Musadrak riwayat yang sejenis dengan riwayat di atas dari jalur ibnul-Musayyab dari Shuhaib dengan sanad yang maushuul. Al-Hakim juga meriwayatkan dari hadits yang serupa dengannya dari mursal Ikrimah.

Al-Hakim juga meriwayatkan dari jalur Hamad bin Salmah dari Tsabit dari Anas. Di dalam riwayat ini terdapat penjelasan tentang turunnya ayat di atas. Dan al-Hakim berkata, “Riwayat ini adalah shahih sesuai dengan syarat Muslim.”

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Ikrimah, dia berkata, “Ayat di atas turun pada Shuhaib, Abu Dzar, dan Jundub ibnus-Sakan, salah seorang kerabat Abu Dzar.”

35. HR. Bukhari dalam Kitabul Hajj, No. 1532 dan an-Nasa’i dalam Kitabut Tafsiir, No. 53.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 81 – 86.