Surah Al-Baqarah Ayat 190, 194, 195 dan 196

Ayat 190, yaitu firman Allah ta’ala

“Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (al-Baqarah: 190)

Sebab Turunnya Ayat

Al-Wahidi meriwayatkan dari jalur al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ayat di atas turun pada perjanjian Hudaibiyyah. Yaitu ketika Rasulullah dihalangi untuk mendatangi Baitul Haram, kemudian beliau diajak berdamai oleh orang-orang musyrik agar kembali pada tahun depan. Ketika tahun depannya, beliau dan para sahabat bersiap-siap untuk melakukan umrah qadha’. Namun mereka khawatir jika orang-orang Quraisy tidak memenuhi janji mereka dan menghalangi mereka lagi untuk memasuki Baitul Haram, serta memerangi mereka, sedangkan para sahabat tidak senang untuk berperang dengan orang-orang musyrik pada bulan-bulan Haram. Maka, Allah menurunkan firman-Nya ayat 190 surah al-Baqarah.”

Ayat 194, yaitu firman Allah ta’ala,

“Bulan haram dengan bulan haram , dan pada sesuatu yang patut dihormati , berlaku hukum qishaash. Oleh sebab itu barangsiapa yang menyerang kamu, maka seranglah ia, seimbang dengan serangannya terhadapmu. Bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah, bahwa Allah beserta orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 194)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir meriwayatkan dari Qatadah, dia berkata, “Nabi Muhammad saw. dan para sahabat pergi ke Baitul Haram untuk melakukan umrah pada bulan Dzul Qa’idah. Mereka juga membawa binatang-binatang hadyu. Ketika mereka sampai di Hudaibiyyah, orang-orang musyrik menghalangi mereka agar tidak sampai ke Baitul Haram. Maka Nabi saw. berdamai dengan mereka dan tidak jadi ke Baitul Haram tahun ini dan pergi ke Baitul Haram tahun depan. Kemudian pada tahun depannya, Rasulullah dan para sahabat melakukan umrah pada bulan Dzul Qa’idah lalu mereka menetap di Mekah selama tiga malam. Sebelumnya orang-orang musyrik merasa bangga karena berhasil menghalangi Rasulullah melakukan umrah dan membuat beliau kembali ke Madinah. Maka pada tahun ini, Allah memberikan ganti kepada orang-orang muslim dengan membawa beliau masuk Mekah pada bulan yang sama dengan bulan ketika beliau tidak jadi melakukan umrah. Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

“Bulan haram dengan bulan haram , dan pada sesuatu yang patut dihormati , berlaku hukum qishaash...”

Ayat 195, yaitu firman Allah ta’ala

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan, dan berbuat baiklah, karena sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (al-Baqarah: 195)

Sebab Turunnya Ayat

Imam Bukhari meriwayatkan dari Hudzaifah, dia berkata, “Ayat ini turun pada masalah sedekah.” (27)

Abu Dawud, at-Tirmidzi (dan dia menshahihkannya), Ibnu Hibban, al-Hakim, dan yang lainnya meriwayatkan dari Abu Ayyub al-Anshari, dia berkata, “Ayat ini turun pada kami, orang-orang Anshar, ketika Allah membuat kami jaya dan para penolongnya berjumlah banyak. Ketika itu secara diam-diam sebagian dari kami ada yang berkata kepada sebagian yang lainnya, ‘Sesungguhnya sudah banyak harta kita yang hilang. Dan kini Allah telah membuat Islam jaya. Bagaimana kalau kita merawat harta agar kita dapat mengembalikan jumlah yang telah hilang itu?’ Maka Allah menurunkan ayat yang membantah apa yang kami katakan tadi, yaitu firman-Nya,

“Dan belanjakanlah (harta bendamu) di jalan Allah, dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri…”

Maka, kebinasaan adalah menjaga dan merawat harta dengan meninggalkan perang melawan musuh Islam.” (28)

Ath-Thabrani meriwayatkan dengan sanad shahih dari Abu Jabirah ibnudh Dhahhak, dia berkata, “Dulu orang-orang Anshar menginfakkan harta mereka dengan jumlah yang banyak. Lalu pada suatu ketika paceklik menimpa mereka, sehingga mereka pun tidak berinfak lagi, maka Allah menurunkan ayat,

“Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan…” (29)

Ath-Thabrani juga meriwayatkan dengan sanad shahih dari an-Nu’man bin Basyir, dia berkata, “Dulu ada orang yang melakukan sebuah perbuatan dosa, lalu karena putus asa dia berkata, ‘Allah tidak akan mengampuniku.’ Maka Allah menurunkan firman-Nya,

‘….dan janganlah kamu jatuhkan (diri sendiri) ke dalam kebinasaan dengan tangan diri sendiri,….” (30)

Riwayat ini mempunyai penguat dari hadits yang diriwayatkan oleh Imam al-Hakim dari al-Barra’.

Ayat 196, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan sempurnakanlah ibadah haji dan ‘umrah karena Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka (sembelihlah) korban yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur kepalamu , sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban. Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan ‘umrah sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu), maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.” (al-Baqarah: 196)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Shafwan bin Umayyah, dia berkata, “Seorang laki-laki yang pakaiannya berlumuran minyak wangi ja’faran mendatangi Rasulullah. Lalu dia berkata, “Apa yang engkau perintahkan kepadaku untuk umrah yang sedang saya lakukan ini wahai Rasulullah?’ Lalu Allah menurunkan firman-Nya,

‘Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah.’

Setelah beberapa saat berlalu, Rasulullah bertanya, ‘Mana orang yang bertanya tentang umrah tadi?’

Lelaki yang bertanya tadi menyahut, “Saya wahai Rasulullah.’

Rasulullah bersabda, ‘Lepaslah bajumu kemudian mandilah dan beristinsyaaq-lah (31) semampumu. Kemudian apa ayng telah kamu lakukan ketika engkau haji, lakukanlah dalam umrahmu.'” (32)

Firman Allah ta’ala,

“Jika ada di antaramu yang sakit….”

Imam Bukhari meriwayatkan dari Ka’ab bin Ajrah bahwa dia ditanya tentang firman Allah,

“…maka wajiblah atasnya berfidyah, yaitu: berpuasa…”

Dia menjawab, “Ketika saya sedang sakit, saya dibawa menghadap Nabi saw. dan kutu-kutu bertebaran di wajahku. Maka Rasulullah bersabda, ‘Saya tidak mengira engkau mengalami hal yang sangat berat ini. Apakah engkau tidak mempunyai seekor kambing?’ Aku jawab, ‘Tidak.’ Lalu Rasulullah bersabda lagi,

‘Berpuasalah tiga hari atau berilah makan kepada enam orang miskin, setiap orang dari mereka setengah sha’, dan cukurlah rambutmu.’

Lalu turunlah ayat di atas pada satu orang, tapi ia berlaku umum.” (33)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ka’ab, dia berkata,’ “Kami bersama Rasulullah di Lembah Hudaibiyyah. Ketika itu kami sedang dalam keadaan ihram dan orang-orang musyrik menghalangi kami untuk menuju Baitullah. Saat itu panjang rambut saya hingga cuping telinga dan kutu-kutu berjatuhan di wajah saya. Ketika Nabi saw. berpapasan dengan saya, beliau bertanya kepada saya, ‘Apakah kutu-kutu di kepalamu mengganggumu?’ Lalu beliau memerintahkan agar rambut saya dicukur. Lalu turun firman Allah,

“Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: berpuasa atau bersedekah atau berkorban….'” (al-Baqarah: 196)

Al-Wahidi meriwayatkan dari jalur Atha’ dari Ibnu Abbas, dia berkata, “Ketika kami singgah di Hudabiyyah, Ka’ab bin Ajrah datang dengan kutu-kutu rambutnya yang menyebar di kepalanya. Lalu dia berkata, “Wahai Rasulullah, kutu-kutu ini mengganggu saya.’ Pada saat itulah Allah menurunkan firman-Nya,

‘….Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur),…'”

27. Ibid., No. 4516

28. HR. Abu Dawud dalam Kitabul Jihaad, No. 2512 dan HR. at-Tirmidzi dalam Kitabut Tafsiir, No. 2972, al-Hakim dalam al-Mustadrak, No. 4043, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya, No. 4797.

29. HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Kabiir dan dalam al-Mu’jamul Ausaath.

30. HR. ath-Thabrani dalam al-Mu’jamul Ausaath, No. 5833.

31. Istinsyaaq adalah menghirup air dengan hidung, Penj.

32. HR. Bukhari dalam Kitabul Hajj, No. 1536 dan HR. Muslim dalam Kitabul Hajj, No. 9 dan 10.

33. HR. Bukhari dalam Kitabul Hajj, No. 4517 dan HR. Muslim dalam Kitabul Hajj, No. 82.

34. HR. Ahmad dalam al-Musnad, No. 17406.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 75 – 80.