Ada jenis kesabaran yang mudah dilakukan: bersabar ketika kita tidak memiliki pilihan. Namun, ada kesabaran yang jauh lebih berat—ketika kita mampu membalas, memiliki alasan untuk marah, bahkan memiliki kekuasaan untuk menjatuhkan seseorang, tetapi memilih menahan diri dan memaafkan.
Inilah salah satu pelajaran besar yang dapat kita renungkan dari kisah Abu Bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu dalam peristiwa Haditsul Ifk, yaitu berita dusta yang menimpa Aisyah radhiyallahu ‘anha.
Ketika Orang yang Kita Bantu Justru Menyakiti Kita
Dalam peristiwa Haditsul Ifk, salah satu orang yang ikut menyebarkan berita dusta tersebut adalah Misthah bin Utsatsah. Misthah bukanlah orang asing bagi Abu Bakar. Ia adalah kerabatnya dan termasuk orang yang selama ini mendapatkan bantuan dari Abu Bakar.
Abu Bakar dikenal sebagai orang yang sangat dermawan. Ia membantu Misthah secara rutin karena hubungan kekerabatan dan kepeduliannya kepada kaum Muslimin. Namun, ketika Abu Bakar mengetahui bahwa Misthah ikut terlibat dalam penyebaran berita dusta yang mencemarkan kehormatan putrinya, Aisyah radhiyallahu ‘anha, tentu saja hatinya sangat terpukul.
Bagaimana tidak? Orang yang selama ini ia bantu ternyata ikut menyebarkan sesuatu yang sangat menyakitkan keluarganya. Abu Bakar kemudian bersumpah untuk tidak lagi memberikan bantuan kepada Misthah. Secara manusiawi, keputusan tersebut sangat mudah dipahami. Seseorang yang merasa dikhianati tentu ingin menghentikan kebaikan yang selama ini ia berikan kepada orang yang menyakitinya.
Tetapi kemudian turunlah ayat Allah:
وَلَا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنكُمْ وَالسَّعَةِ أَن يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَىٰ وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۖ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا ۗ أَلَا تُحِبُّونَ أَن يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ
“Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberikan bantuan kepada kaum kerabat, orang-orang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An-Nur: 22)
Perhatikan kalimat yang sangat kuat: “Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” Allah tidak sekadar meminta Abu Bakar untuk memberikan kembali bantuan kepada Misthah. Allah mengajarkan sesuatu yang lebih tinggi: memaafkan dan berlapang dada.
Memaafkan Ketika Kita Mampu Membalas
Di sinilah letak ujian yang sebenarnya. Memaafkan orang yang tidak memiliki kemampuan untuk melawan kita mungkin terasa lebih mudah. Tetapi bagaimana jika kita berada di posisi yang lebih kuat? Bagaimana jika kita memiliki jabatan, uang, pengaruh, atau kemampuan untuk membuat orang yang menyakiti kita kehilangan sesuatu yang berharga?
Pada saat itulah terlihat kualitas hati seseorang. Sebab, menahan diri bukan berarti tidak mampu membalas. Justru terkadang menahan diri adalah bentuk kemenangan atas diri sendiri.
Seseorang yang tidak membalas karena tidak mampu mungkin sedang menahan dirinya karena keadaan. Tetapi seseorang yang mampu membalas lalu memilih memaafkan, ia sedang menahan dirinya karena Allah.
Allah Mengingatkan Abu Bakar dengan Ampunan-Nya
Ada hal yang sangat menyentuh dalam ayat ini. Allah mengingatkan Abu Bakar, “Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu?” Seakan-akan Allah mengajarkan bahwa jika seseorang ingin mendapatkan ampunan Allah, maka ia hendaknya belajar memberikan ampunan kepada manusia.
Ini bukan berarti setiap kezaliman harus dibiarkan. Islam tetap mengajarkan keadilan. Seseorang yang dizalimi memiliki hak untuk menuntut haknya. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan dan bukan pula berarti membiarkan kezaliman terus berlangsung.
Namun, ketika seseorang memiliki pilihan untuk membalas secara pribadi, lalu ia memilih memaafkan demi mengharap ampunan Allah, maka itu merupakan akhlak yang sangat mulia.
Abu Bakar Kembali Membantu Misthah
Setelah turunnya ayat tersebut, Abu Bakar tidak berkata, “Setelah semua yang dia lakukan, saya tidak mungkin membantunya lagi.” Sebaliknya, ia kembali memberikan bantuan kepada Misthah.
Inilah yang membuat kisah tersebut begitu dalam. Abu Bakar bukan hanya memaafkan secara lisan, tetapi juga mengembalikan kebaikannya kepada orang yang telah menyakitinya. Padahal luka yang ia rasakan bukanlah luka kecil. Namun, ketika ayat Allah datang, ia tunduk.
Inilah gambaran hati seorang mukmin: ketika keinginan pribadi berhadapan dengan perintah Allah, maka keinginan pribadi harus ditundukkan.
Tidak Semua Balasan Harus Kita Ambil
Dalam kehidupan, kita mungkin pernah mengalami sesuatu yang serupa. Ada orang yang kita bantu, tetapi kemudian mengecewakan kita. Ada orang yang kita bela, tetapi justru berbicara buruk tentang kita. Ada orang yang kita percaya, tetapi ternyata mengkhianati kepercayaan tersebut.
Pada saat seperti itu, hati kita mungkin berkata, “Sekarang saatnya dia merasakan apa yang saya rasakan.” Tetapi kisah Abu Bakar mengajarkan kita untuk berhenti sejenak dan bertanya: “Apakah membalas ini benar-benar akan membuatku lebih mulia di hadapan Allah?”
Sebab, tidak semua hak harus kita gunakan. Ada hak yang jika kita lepaskan karena Allah, justru menjadi investasi terbesar bagi kehidupan akhirat.
Memaafkan Bukan Berarti Lemah
Sering kali memaafkan dianggap sebagai tanda kelemahan. Padahal tidak selalu demikian. Ada orang yang membalas karena tidak mampu mengendalikan amarahnya. Ada pula orang yang memaafkan karena ia mampu mengendalikan dirinya.
Yang pertama dikuasai oleh emosi, sedangkan yang kedua menguasai emosinya. Karena itu, memaafkan dalam kondisi mampu membalas membutuhkan kekuatan jiwa yang besar.
Nabi ﷺ juga mengajarkan: “Tidaklah sedekah mengurangi harta, dan Allah tidak menambah bagi seorang hamba dengan sikap memaafkan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim)
Maka, ketika seseorang memilih memaafkan karena Allah, ia tidak sedang kehilangan kemuliaan. Justru Rasulullah ﷺ mengabarkan bahwa Allah akan menambah kemuliaannya.
Apakah Semua Kesalahan Harus Dimaafkan?
Tidak. Islam tidak menghapus hak seseorang untuk mendapatkan keadilan. Memaafkan adalah pilihan mulia, tetapi menuntut hak juga dapat dibenarkan ketika memang diperlukan. Yang perlu dijaga adalah jangan sampai keinginan mendapatkan keadilan berubah menjadi dendam dan melampaui batas.
Allah berfirman: “Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, tetapi barang siapa memaafkan dan berbuat baik, maka pahalanya dari Allah.” (QS. Asy-Syura: 40)
Ayat ini menunjukkan bahwa seseorang boleh membalas secara adil, tetapi memaafkan dan berbuat baik memiliki keutamaan yang besar.
Ujian Terberat Bukan Saat Kita Tidak Berdaya
Mungkin kita sering mengira bahwa ujian terbesar adalah ketika kita dizalimi dan tidak mampu melakukan apa-apa. Padahal ada ujian yang lebih halus: ketika kita dizalimi, lalu Allah memberikan kita kemampuan untuk membalas.
Pada saat itulah hati diuji. Apakah kekuasaan akan membuat kita sombong? Apakah kemampuan membalas akan membuat kita melampaui batas? Ataukah kita mampu berkata, “Aku memiliki kemampuan untuk membalas, tetapi aku memilih memaafkan karena aku berharap Allah juga mengampuniku.”
Itulah pelajaran yang sangat dalam dari Abu Bakar ash-Shiddiq. Ia melepaskan kesempatan untuk membalas di dunia dan memilih mengikuti petunjuk Allah. Dari sini kita belajar bahwa terkadang kemenangan terbesar bukanlah ketika kita berhasil mengalahkan orang lain, tetapi ketika kita berhasil mengalahkan amarah dan keinginan untuk membalas dalam diri sendiri.
Belajar Memaafkan Tanpa Melupakan Pelajaran
Memaafkan tidak selalu berarti melupakan. Kita boleh mengambil pelajaran dari sebuah pengkhianatan. Kita boleh menjadi lebih berhati-hati. Kita boleh membuat batasan agar kesalahan yang sama tidak terulang. Tetapi hati kita tidak harus terus-menerus dipenuhi kebencian.
Karena terkadang yang paling berat bukanlah memaafkan orang lain, tetapi membebaskan diri sendiri dari luka yang terus kita bawa.
Jika hari ini ada seseorang yang pernah menyakiti kita, mungkin kita tidak harus langsung melupakan semuanya. Namun, kita bisa mulai dengan satu langkah: berhenti berharap keburukan menimpanya. Kemudian, jika mampu, kita memaafkannya karena Allah.
Sebab mungkin saja, ketika kita melepaskan hak untuk membalas di dunia, Allah memberikan kepada kita sesuatu yang jauh lebih berharga di akhirat.
Penutup
Kisah Abu Bakar dan Misthah mengajarkan bahwa ukuran kekuatan seseorang bukan hanya seberapa besar ia mampu membalas. Terkadang ukuran kekuatan justru terlihat dari seberapa besar ia mampu menahan dirinya ketika memiliki kesempatan untuk membalas.
Memaafkan bukan berarti kalah. Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan. Dan memaafkan bukan berarti kita tidak terluka. Memaafkan berarti kita memilih untuk tidak membiarkan luka mengendalikan hati kita.
Ketika pilihan itu dilakukan karena mengharap ampunan Allah, maka kita memiliki harapan besar bahwa Allah pun akan memperlakukan kita dengan ampunan dan rahmat-Nya.
Jika kita berharap Allah mengampuni kita, bukankah kita juga perlu belajar mengampuni sesama?
Sumber:
- Jami‘ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Qur’an, Imam ath-Thabari, tafsir QS. An-Nur: 22.
- Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, Imam Ibnu Katsir, tafsir QS. An-Nur: 22.
- Taisir al-Karim ar-Rahman fi Tafsir Kalam al-Mannan, Abdurrahman as-Sa‘di, tafsir QS. An-Nur: 22.
- Shahih Muslim, Kitab al-Birr wa ash-Shilah wa al-Adab.
- Riyadh ash-Shalihin, Imam an-Nawawi, bab tentang memaafkan dan berlapang dada.