Ada orang-orang saleh yang kebaikannya begitu tersembunyi, hingga orang-orang di sekitarnya tidak pernah mengetahui siapa yang sebenarnya membantu mereka.
Salah satunya adalah Ali bin Husain bin Ali bin Abi Thalib رحمه الله, seorang ulama dan ahli ibadah dari kalangan Ahlul Bait. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat dermawan, tetapi kedermawanannya tidak selalu dilakukan secara terang-terangan.
Setiap malam, ketika kebanyakan orang telah terlelap, ia justru keluar membawa karung berisi makanan—termasuk gandum—untuk dibagikan kepada masyarakat yang membutuhkan.
Tidak ada kamera.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada nama yang dituliskan.
Ia hanya ingin satu hal: membantu saudaranya dan mencari pahala dari Allah.
Gandum yang Selalu Datang di Malam Hari
Di antara masyarakat Madinah terdapat keluarga-keluarga miskin yang setiap malam mendapatkan bantuan makanan. Anehnya, tidak seorang pun mengetahui siapa yang mengantarkannya.
Mereka hanya menemukan makanan telah berada di depan rumah.
Ali bin Husain terus melakukan hal itu secara sembunyi-sembunyi.
Diriwayatkan bahwa ketika beliau wafat, orang-orang baru menyadari bahwa bantuan yang selama ini mereka terima ternyata berasal dari beliau.
Dalam kisah yang masyhur, penduduk Madinah berkata bahwa mereka kehilangan orang yang biasa membawa makanan kepada mereka pada malam hari setelah Ali bin Husain meninggal.
Bahkan, pada tubuh beliau ditemukan bekas-bekas pada punggungnya karena sering memikul karung makanan untuk diberikan kepada orang-orang miskin.
Kebaikan itu ternyata meninggalkan bekas pada tubuhnya, tetapi tidak meninggalkan jejak kesombongan di hatinya.
Ia Memberi Tanpa Ingin Dikenal
Salah satu hal paling indah dari kisah Ali bin Husain adalah cara beliau menyembunyikan amalnya.
Beliau tidak menjadikan sedekah sebagai sarana mendapatkan pujian manusia.
Tidak ada:
“Lihat, saya telah membantu mereka.”
Tidak pula:
“Jangan lupa siapa yang selama ini memberi kalian makanan.”
Justru sebaliknya, beliau berusaha agar penerima bantuan tidak mengetahui siapa pemberinya.
Inilah salah satu bentuk keikhlasan yang sangat tinggi.
Sebab terkadang seseorang mampu bersedekah, tetapi sulit menyembunyikan sedekahnya. Ia ingin orang lain mengetahui kebaikannya, mengucapkan terima kasih kepadanya, atau setidaknya mengingat jasanya.
Ali bin Husain mengajarkan sesuatu yang berbeda:
Berbuat baiklah, meskipun tidak ada seorang pun yang mengetahui.
Ketika Kebaikan Baru Terlihat Setelah Kematian
Kisah ini semakin menyentuh karena kebaikan Ali bin Husain baru benar-benar diketahui setelah beliau meninggal.
Selama hidupnya, orang-orang hanya melihat beliau sebagai seorang yang saleh dan ahli ibadah. Namun setelah beliau wafat, bantuan yang biasanya datang ke rumah-rumah orang miskin tiba-tiba berhenti.
Barulah mereka menyadari:
Ternyata selama ini ada seseorang yang setiap malam memikirkan kebutuhan mereka.
Dan orang itu telah pergi. Ini mengajarkan bahwa tidak semua kebaikan harus diketahui manusia. Ada amal yang memang lebih indah ketika hanya diketahui oleh Allah.
Bekas di Punggung yang Menjadi Saksi
Di antara kisah yang terkenal tentang Ali bin Husain adalah adanya bekas pada punggung beliau.
Bekas tersebut dikaitkan dengan kebiasaannya memikul karung makanan pada malam hari untuk diberikan kepada orang-orang miskin.
Bayangkan jika seseorang setiap hari memikul beban yang berat. Sekali atau dua kali mungkin tidak terlalu terasa. Tetapi jika dilakukan berulang kali, hari demi hari, malam demi malam, maka tubuh akan meninggalkan tanda.
Dan ketika manusia tidak mengetahui siapa yang selama ini membantu mereka, tubuh Ali bin Husain justru menjadi saksi atas amal yang beliau sembunyikan.
Betapa indahnya ketika seseorang menyembunyikan amalnya dari manusia, tetapi amal tersebut tetap tercatat dengan sempurna di sisi Allah.
Jangan Meremehkan Sedekah yang Kecil
Kisah Ali bin Husain juga memberikan pelajaran bahwa membantu orang lain tidak harus selalu dalam jumlah besar.
Mungkin kita tidak mampu memberikan satu karung gandum setiap malam.
Tetapi kita bisa memberikan:
- sebungkus beras kepada tetangga yang membutuhkan,
- makanan kepada orang yang kelaparan,
- biaya sekolah untuk anak yatim,
- uang belanja kepada keluarga yang kesulitan,
- atau sekadar membelikan makanan bagi seseorang yang sedang tidak memiliki apa-apa.
Yang penting bukan hanya berapa besar yang diberikan, tetapi juga seberapa tulus hati ketika memberikannya.
Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu memiliki banyak harta untuk membantu orang lain. Sebab bisa jadi, sesuatu yang kita anggap kecil justru sangat besar nilainya di sisi Allah.
Kebaikan yang Konsisten
Hal lain yang sangat menarik dari kisah ini adalah konsistensinya.
Ali bin Husain tidak hanya membantu ketika sedang tergerak. Beliau menjadikan membantu orang miskin sebagai kebiasaan.
Setiap malam ada orang yang membutuhkan makanan. Maka setiap malam pula beliau berusaha memenuhi kebutuhan tersebut.
Ini memberikan pelajaran penting:
Amal yang dilakukan terus-menerus sering kali lebih membekas daripada amal besar yang hanya dilakukan sesekali.
Kita mungkin tidak mampu melakukan sesuatu yang besar setiap hari.
Tetapi kita bisa memulai dengan sesuatu yang sederhana.
Misalnya: “Setiap Jumat saya akan menyediakan makanan untuk satu orang.”
Atau: “Setiap bulan saya akan menyisihkan sebagian penghasilan untuk membantu satu keluarga.”
Sedikit, tetapi rutin. Diam-diam, tetapi ikhlas.
Siapa yang Mengetahui Amal Kita?
Pada akhirnya, kisah Ali bin Husain mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan:
Untuk siapa sebenarnya kita berbuat baik?
Jika kita membantu seseorang lalu merasa kecewa karena tidak dipuji, mungkin kita perlu kembali memeriksa niat. Jika kita bersedekah lalu berharap nama kita disebut, mungkin kita perlu belajar dari orang-orang saleh terdahulu. Sebab ada amal yang semakin tinggi nilainya ketika semakin tersembunyi. Manusia mungkin tidak tahu. Tetangga mungkin tidak tahu. Bahkan orang yang menerima bantuan mungkin tidak tahu.
Tetapi Allah tahu.
Dan bukankah pengetahuan Allah sudah cukup bagi seorang mukmin?
Penutup
Ali bin Husain رحمه الله mengajarkan kepada kita bahwa kebaikan tidak selalu harus terlihat.
Kadang-kadang, menjadi orang yang paling bermanfaat justru berarti menjadi orang yang paling sedikit dikenal dalam kebaikannya.
Ia mengangkat gandum dengan tangannya. Ia membawanya di malam hari. Ia membagikannya kepada mereka yang membutuhkan. Lalu ia pulang tanpa menunggu ucapan terima kasih.
Begitulah sebagian orang saleh: mereka sibuk menanam kebaikan, sementara urusan siapa yang akan mengetahui hasilnya mereka serahkan kepada Allah.
Maka, jika hari ini kita memiliki kesempatan membantu seseorang, jangan terlalu sibuk memikirkan apakah manusia akan melihatnya.
Bantulah. Ikhlaskan. Dan biarkan Allah yang mencatatnya.
“Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik.”
Sumber:
Siyar A’lām an-Nubalā’ — Imam adz-Dzahabi
Hilyatul Auliyā’ — Abu Nu’aim al-Ashbahani
al-Bidāyah wan Nihāyah — Ibnu Katsir