Pertanyaan:
Semoga Allah berbuat baik kepada Anda. Seorang penanya bertanya:
“Bagaimana jawaban terhadap orang yang bertanya: Ketika peristiwa Mi’raj, apakah salam Nabi ﷺ kepada para nabi dan jawaban mereka terjadi dengan ruh saja, dengan jasad saja, atau dengan ruh dan jasad sekaligus?”
Jawaban:
Syaikh menjawab:
Pertanyaan tersebut sebaiknya tidak dirumuskan seperti itu. Akan tetapi hendaknya dikatakan:
“Apakah Nabi ﷺ diisra’kan ke Baitul Maqdis dan dimi’rajkan ke langit dengan ruh saja, atau dengan ruh dan jasad beliau sekaligus?”
Jawabannya adalah bahwa Nabi ﷺ diisra’kan dan dimi’rajkan dengan ruh dan jasad beliau sekaligus. Peristiwa itu terjadi ketika beliau dalam keadaan terjaga (bukan mimpi), dengan ruh dan jasadnya.
Hal ini berdasarkan firman Allah Ta’ala: “Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam…” (QS. Al-Isra’: 1)
Allah tidak berfirman, “dengan ruh hamba-Nya,” tetapi berfirman, “hamba-Nya”, yang menunjukkan ruh dan jasad sekaligus.
Demikian pula firman Allah Ta’ala dalam Surah An-Najm: “Demi bintang ketika terbenam. Kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. Dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan kepadanya. Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai kekuatan yang luar biasa, lalu dia menampakkan diri, sedang dia berada di ufuk yang tinggi. Kemudian dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi, sehingga jaraknya (sekitar) dua busur panah atau lebih dekat. Lalu Allah mewahyukan kepada hamba-Nya apa yang telah Dia wahyukan.” (QS. An-Najm: 1–10)
Seluruh ayat tersebut menunjukkan bahwa Nabi ﷺ dimi’rajkan dengan jasad beliau dalam keadaan sadar, bukan dalam keadaan tidur.
Hal ini juga dikuatkan oleh kenyataan yang terjadi. Ketika Nabi ﷺ mengabarkan kepada kaum Quraisy tentang apa yang beliau lihat pada malam itu, mereka mencemooh, mendustakan, dan mengingkarinya dengan sangat keras. Seandainya peristiwa itu hanya terjadi dengan ruh atau sekadar mimpi, tentu mereka tidak akan mengingkarinya. Sebab, orang-orang Arab tidak menganggap aneh mimpi. Seseorang bisa saja bermimpi bepergian ke tempat yang sangat jauh, melakukan berbagai hal, padahal ketika terjaga hal itu tidak terjadi.
Kesimpulannya, pendapat yang rajih, bahkan merupakan pendapat yang harus dipegang, adalah bahwa Nabi ﷺ diisra’kan dan dimi’rajkan dengan ruh dan jasad beliau sekaligus, dalam keadaan terjaga, bukan dalam keadaan tidur.
Sumber: Diterjemahkan dari https://binothaimeen.net/ar/voice_library/sectionDetails