Husnul Khatimah Karena Birrul Walidain

Birrul Walidain 768x593

Siang itu, matahari hari Jumat bersinar dengan khidmat di atas kubah masjid yang megah. Di dalam ruangan yang luas dan penuh sesak oleh saf-saf jemaah, sang syekh berdiri memimpin salat, mengimami ratusan jiwa yang bersujud mengharap rida-Nya.

Lantunan ayat suci mengalun, memenuhi setiap sudut ruangan dengan ketenangan yang menyentuh jiwa. Rakaat pertama berlalu dalam kekhusyukan yang dalam. Namun, saat memasuki rakaat kedua, ketika sang imam sampai pada bait ikrar yang paling agung dalam surah Al-Fatihah:

“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in…”
(Hanya kepada-Mu lah kami menyembah, dan hanya kepada-Mu lah kami memohon pertolongan…)

Tepat pada detik kalimat tauhid itu menggetarkan udara, sebuah dentuman lembut terdengar di tengah-tengah masjid. Seorang jemaah pria ambruk, tubuhnya luruh ke lantai di tengah kerumunan saf. Salat tetap dilanjutkan dengan dada yang bergemuruh.

Begitu salam terakhir diucapkan, keheningan pecah. Jemaah berkerumun, panik menyelimuti ruangan. Sang imam segera meraih mikrofon, suaranya bergetar meminta massa untuk mundur, “Beri dia ruang! Biarkan udara masuk, mungkin dia sesak napas!”

Tubuh pria itu bergegas dilarikan ke klinik terdekat. Namun, takdir fana telah usai dituliskan. Dokter yang memeriksa menggelengkan kepala seraya berucap lirih, “Pria ini telah mengembuskan napas terakhirnya tepat di saat ia terjatuh di dalam masjid.”

Kematian yang begitu cemburu memikat hati siapa saja yang mendengar. Wafat di hari Jumat, dalam keadaan suci setelah mandi dan berwudu, dan dijemput ajal saat ruhnya sedang berdiri tegak menghadap Sang Pencipta. Lelaki beruntung itu bernama Muhammad.

Digerakkan oleh rasa takjub dan takzim, sang syekh menghubungi Khalid, saudara kandung mendiang. “Demi Allah, Khalid, saudaramu telah menempuh perjalanan jauh untuk salat di belakangku. Izinkan aku, jangan biarkan ada orang lain yang memandikan jenazahnya kecuali aku,” pintanya dengan mata berkaca-kaca.

Hari itu, sang syekh memandikan tubuh dingin Muhammad, menyaksikan sendiri raga yang baru saja menjemput husnul khatimah.

Saat malam takziah tiba, rasa penasaran yang membuncah tak lagi bisa dibendung oleh sang syekh. Ia menarik Khalid ke sudut ruangan yang sepi, lalu berbisik dengan suara tertahan, “Khalid, demi Allah aku bertanya kepadamu… amalan apa yang paling dinantikan pahalanya oleh saudaramu, hingga Allah menghadiahinya sebuah kematian yang begitu indah dan dicemburui ini?”

Air mata Khalid menetes. Ia menatap sang syekh dengan pandangan yang sarat akan rasa bangga sekaligus rindu yang mendalam.

“Wahai Syekh,” jawab Khalid lirih. “Kami adalah keluarga dengan banyak saudara laki-laki dan perempuan. Namun demi Allah, Muhammad adalah anak yang paling berbakti kepada ibu kami. Tidak ada yang bisa menandinginya.”

Khalid menyeka air matanya, lalu melanjutkan kisah yang menyayat hati: “Setiap hari, tanpa pernah absen, dia selalu datang menemui Ibu. Dia tidak sekadar berkunjung, Syekh. Dia memeriksa setiap sudut hidup Ibu dengan jemarinya sendiri. Dia memastikan sabun apa yang digunakan Ibu untuk mandi, sisir apa yang dipakai untuk merapikan rambutnya, dan wewangian apa yang dibakar untuk mengharumkan kamarnya. Bahkan, dia sendiri yang memastikan persediaan kopi dan kapulaga di dapur Ibu tidak pernah berkurang sedikit pun. Dia merawat Ibu seperti menjaga permata yang paling berharga.”

Khalid terisak, “Karena bakti yang tanpa batas itulah, Ibu tidak pernah berhenti menumpahkan doa-doa terbaik dari lisan dan hatinya untuk Muhammad.”

Mendengar hal itu, sang syekh tertegun. Rahasia langit itu akhirnya tersingkap di sudut malam yang sunyi. Bukan karena kedudukan, bukan pula karena tumpukan harta, melainkan karena rida seorang ibu yang mengetuk pintu langit, hingga Allah memilihkan waktu dan tempat terbaik bagi Muhammad untuk pulang ke haribaan-Nya.

Sumber: Dikisahkan oleh Syaikh Qasim Fadhoil