Larangan Duduk di Antara Tempat Teduh dan Tempat yang Terkena Cahaya

Diriwayatkan dari seorang sahabat Nabi saw. bahwasanya Nabi saw. telah melarang duduk diantara tempat yang tertimpa cahaya dan tempat yang teduh. Dan beliau bersabda, “Ini adalah tempat duduknya syaitan,” (Shahih, HR Ahmad [III/413]).

Diriwayatkan dari Buraidah r.a, “Bahwasanya Nabi saw. melarang duduk diantara tempat teduh dan tempat yang terkena sinar matahari,” (Hasan, HR Ibnu Majah [3722]).

Ada beberapa hadits lain yang termasuk dalam bab ini yang diriwayatkan dari Abu Hurairah dan Jabir bin Abdullah r.a.

Kandungan Bab:

  1. Larangan duduk diantara tempat teduh dan tempat yang terkena sinar matahari, sebab itu merupakan tempat duduk syaitan. Hal ini dengan terang dijelaskan oleh Imam Ahmad dan Imam Ishaq sebagaimana yang tercantum dalam kitab Masaa’il al-Marwazi halaman 223.

    Saya katakan, “Duduk di antara tempat teduh dan tempat yang terkena sinar matahari adalah perkara yang dibenci.”

    Ahmad berkata, “Telah tercantum hadits shahih dari Nabi saw. tentang larangan ini.”

  2. Duduk di antara tempat teduh dan tempat yang terkena sinar matahari berbahaya untuk kesehatan. Ibnu Qayyim al-Jauziyah dalam kitab Zaadul Ma’aad (IV/242) berkata, “Tidur di bawah sinar matahari dapat mengakibatkan sakit panas dan tidur di antara tempat teduh dan tempat yang terkena sinar matahari dapat menimbulkan penyakit.”

    Al-Manawi berkata dalam kitabnya Faidhul Qadir (VI/351), “Duduk di tempat tersebut berbahaya untuk kesehatan. Sebab jika seseorang sengaja duduk di tempat itu, kondisi tubuhnya akan rusak akibat adanya suhu yang bertolak belakang pada tubuh.”

  3. Apabila seseorang duduk di tempat teduh, lantas cahaya bergeser sehingga sebagian tubuhnya berada di tempat teduh dan sebagian lagi di tempat panas maka hendaklah ia bergeser ke tempat yang teduh.

    Diriwayatkan dari Abu Hazim, ia berakta, “Rasulullah saw. melihatku sedang duduk di bawah sinar matahari lantas beliau menyuruhku agar pindah ke tempat yang teduh,” (Ash-Shahihah [833]).

    Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, “Abu Qasim berkata, ‘Apabila salah seorang dari kalian berada di bawah teduhan lantas teduhan tersebut bergeser sehingga separuh tubuhnya berada di tempat panas dan separuh lagi di tempat teduh maka hendaklah ia bangkit dari tempat tersebut’,” (Ash-Shahihah [837]).

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/291-292.