Larangan Berbuat Dusta

Diriwayatkan dari Abdullah bin Mas’ud r.a, dari Nabi saw. bersabda, “Hendaklah kalian bersikap jujur karena kejujuran akan membawa kepada kebaikan dan kebaikan dapat mengantarkan ke surga. Sesungguhnya seseorang senantiasa jujur sehingga ditulis sebaga seorang yang jujur. Dan sesungguhnya dusta dapat menyeret kepada kejahatan dan kejahatan dapat menyeret ke dalam neraka. Sesungguhnya seseorang senantiasa berdusta hingga ditulis di sisi Allah sebagai pendusta,” (HR Bukhari [6094]).

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amr bin al-Ash r.a, bahwasanya Rasulullah saw. bersabda, “Ada empat sifat jika keempatnya ada pada diri seseorang berarti ia orang munafik tulen. Dan apabila ia memiliki salah satu dari empat sifat ini berarti ia memiliki satu sifat munafik hingga ia meninggalkan sifat itu: Apabila diberi amanah ia berkhianat, jika berbicara ia dusat, jika berjanji ia ingkari, dan jika bertengkar ia berbuat jahat,” (HR Bukhari [34] dan Muslim [58]).

Diriwayatkan dari Samurah bin Jundab r.a, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Aku melihat orang yang mendatangiku dan mereka berkata, ‘Orang yang engkau lihat mulutnya dikoyak tadi adalah seorang pendusta. Ia berbohong hingga kebohongannya tersebut dibebankan kepadanya sampai mencapai ufuk. Ia diberi beban seperti itu hingga hari kiamat’,” (HR Bukhari [6096]).

Banyak lagi hadits-hadits yang termasuk dalam bab ini.

Kandungan Bab:

  1. Dusta adalah memberitakan sesuatu yang berbeda dengan kejadian yang sebenarnya baik dilakukan dengan sengaja ataupun karena ketidak tahuan. Hanya saja jika dilakukan karena tidak tahu maka tidak berdosa. Allahu a’lam.
  2. Sangat diharamkan berkata dusta dan bahaya menganggap remeh perbuatan dusta, karena dusta merupakan sebab dari segala kejahatan.
  3. Barangsiapa dengan sengaja berdusta maka hal itu akan menjadi sifatnya.
  4. Dusta memiliki banyak bab, antara lain: Mengaku bermimpi sesuatu padahal tidak, menertawai anak-anak, seperti dikatakan kepada mereka, ‘Amibllah!’ padahal sebenarnya ia tidak mau memberikannya kepada anak-anak tersebut, mengaku kenyang padahal ia sedang lapar, bercerita dusta untuk membuat orang-orang tertawa, dan lain-lain.

    Tentang semua perkara di atas tercantum jelas dalam hadits-hadits Rasulullah saw.

  5. An-Nawawi berkata, “Ketahuilah! Walaupun hukum asal dusta itu haram, tetap boleh dilakukan pada beberapa keadaan dengan beberapa persyaratan yang telah saya jelaskan dalam kitab al-Adzkaar.

    Ringkasannya, bahwa ucapan merupakan perantara untuk mencapai tujuan. Setiap tujuan baik yang dapat dicapai dengan tanpa berdusta maka diharamkan melakukan dusta. Namun jika tidak dapat dicapai kecuali dengan cara berdusta maka boleh melakukan dusta. Kemudian apabila tujuan yang akan dicapai hukumnya mubah maka dusta disini jua hukumnya mubah, dan apabila tujuan yang dicapai berhukum wajib maka hukum berdusta di sini juga berhukum wajib. Apabila seorang muslim bersembunyi dari kejaran seorang zhalim yang ingin membunuhnya atau merampas hartanya, lantas si zhalim itu bertanya kepada seoseorang dimana muslim itu bersembunyi maka orang itu wajib menyembunyikannya. Jika muslim itu menitipkan sesuatu kepada orang itu maka wajib untuk menyembunyikannya. Yang terbaik dalam masalah ini dengan menggunakan tauriyah. Tauriyah adalah menggunakan suatu kalimat (yang disamarkan maksudnya) dengan tujuan yang benar dan tidak dikatakan dusta jika dipahami menurut si pembicara. Walaupun secara konteks bahasanya seakan-akan berdusta jika dinilai dari apa yang dipahami oleh orang yang diajak bicara. Jika ia tidak menggunakan tauriyah, tetap menggunakan kalimat yang jelas kedustaannya maka dalam kondisi seperti ini hukumnya adalah haram.

    Para ulama membolehkan dusta pada kondisi seperti ini berdalil dengan hadits Ummu Salamah r.a, bahwasanya ia pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda, “Tidak disebut pendusta orang yang mendamaikan perselisihan di antara manusia, kemudian ia menceritakan kebaikan atau mengatakan suatu hal yang baik,” (HR Bukhari dan Muslim).

    Dalam riwayat tersebut Imam Muslim menambahkan, Ummu Kultsum berkata, “Aku tidak pernah mendengar beliau memberikan dispensasi dusta dalam pembicaraan kecuali pada tiga tempat: Untuk mendamaikan manusia, perbincangan seorang suami dengan isterinya, dan perbincangan seorang isteri kepada suaminya,” (Lihat Riyaduhs Shalihin [III/69]).

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 3/291-292.