Khatam Shahih Al-Bukhârî Dalam 3 Kali Pertemuan
Dalam Târîkh Baghdad pada biografi Ismail bin Ahmad Ibnu Abdullah Adh-Dharir Al-Khiri (w. 430 H), Al-Khati menceritakan bahwasanya beliau ingin memperdengarkan bacaan Shahih Al-Bukharî-yang dia dengar dari Al-Kusymihani yang bersumber dari Al-Firabri- pada Ismail bin Ahmad. Kemudian Syaikh Ismail pun memenuhinya. Dalam ceritanya itu Al-Khatib berkata, “Aku membaca seluruhnya dalam tiga kali pertemuan, dua darinya pada dua malam, yang aku mulai sesudah shalat Maghrib dan aku hentikan ketika shalat Subuh hampir tiba. Pada pertemuan ketiga sebelum aku membaca, Syaikh Ismail bin Ahmad beserta rombongan pergi ke tepi timur dan bersinggah di pasar Yahya di sebuah pulau. Maka aku pun mengikuti beliau bersama teman-temanku yang ikut hadir pada pembacaan pertama dan keduaku yang lalu. Pada kesempatan ketiga inilah aku membaca di hadapannya sejak waktu Dhuha hingga menjelang Maghrib di pulau tersebut. Kemudian dilanjutkan setelah Maghrib sampai terbit fajar Subuh. Aku pun mengkhatamkan Shahîh Al-Bukhari pada hari itu. Dan keesokan harinya Syaikh melanjutkan perjalanannya bersama rombongan.”
Sungguh alangkah tinggi dan jauhnya cita-cita ini! Apakah Anda pernah mendengar seseorang yang memiliki cita-cita dan tekad seperti beliau? Di hari ketiga beliau habiskan waktunya untuk membaca (dari waktu Dhuha sampai Maghrib, dari Maghrib sampai menjelang shalat Subuh). Dengan cita-cita ini, Al-Khatib telah menggapai apa yang diidam-idamkannya. Dengan cita-cita ini juga beliau mendapat julukan Hafizh Al-Masyriq. Dengan cita-cita ini pula beliau menjadi rujukan dan sandaran para ahli hadits. Bahkan, mereka sangat bergantung dengan buku-buku yang beliau tulis, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Nuqthah.
Komentar-komentar tentang kisah ini:
Al-Hafizh Adz-Dzahabi di dalam As-Siyar mengomentari kisah ini, “Demi Allah, ini adalah bacaan tercepat yang belum pernah terdengar sebelumnya.”
Dalam Tarikh Al-Islâm beliau juga menuturkan, “Menurutku ini adalah bacaan yang tak seorang pun mampu melakukannya pada zaman ini.”
Dalam Al-Jawahir Wa Ad-Durâr Fi Tarjamah Syaikh Al-Islam Ibn Hajar As-Sakhawi pernah bertanya kepada gurunya, Ibnu Hajar, “Apakah Anda pernah menghabiskan waktu seharian penuh untuk membaca? (maksudnya seperti yang dilakukan oleh Al-Khatib).” Ibnu Hajar menjawab, “Tidak pernah. Tetapi aku pernah mengkhatamkan Shahîh Al-Bukhari dalam sepuluh kali pertemuan. Sekiranya dahulu dirutinkan mungkin akan kurang dari sepuluh hari tersebut. Bagaimana mungkin bintang yang ada di langit disamakan dengan tanah yang selalu di bawah? Sungguh Al-Khatib sangat bagus bacaannya, bisa dimengerti, dan dipahami oleh para pendengarnya.”
Sumber: Gila Baca Ala Ulama, Ali bin Muhammad Al-Imran, Pustaka Arafah, h. 94-96.