A. Kerusakan Jangka Pendek dan Jangka Panjang karena Kasmaran dengan Idola
Kami akan mengakhiri penjelasan ini dengan bab yang berkaitan dengan cinta terhadap idola, berikut kerusakan jangka pendek maupun jangka panjang yang terkandung di dalamnya, meskipun kenyataannya berkali-kali lipat jauh lebih besar daripada yang dibayangkan. Sebab, cinta terhadap idola benar-benar merusak hati. Jika hati sudah rusak, niscaya rusaklah kehendak, ucapan, dan amal perbuatan. Selain itu, rusak pula pos tauhid, sebagaimana yang sudah kami terangkan sebelumnya dan akan kami tegaskan kembali, insya Allah.
Allah mengabarkan penyakit ini (mabuk asmara atau kasmaran) hanya dari dua golongan manusia, yaitu pelaku homoseks dan wanita.
Allah mengabarkan tentang kasmarannya isteri al ‘Aziz kepada Yusuf, berikut rayuan serta tipu dayanya. Allah pun mengabarkan kesabaran dan ketakwaan Yusuf dalam hal ini. Padahal, siapa pun tidak akan sabar dalam menghadapi ujian (cobaan zina) tersebut, melainkan orang-orang yang diberi kesabaran oleh Allah.
Terjadinya perbuatan tergantung dari kekuatan yang mendorong untuk melakukannya dan hilangnya penghalang. Dalam kisah Yusuf, faktor pendorong yang mengarah ke zina berada pada puncaknya (tidak terdapat lagi penghalang). Hal ini didasari dengan sejumlah alasan:
- Tabiat pria yang Allah ciptakan untuk cenderung kepada wanita, seperti halnya kecenderungan orang yang haus terhadap air dan orang yang lapar terhadap makanan. Sebagian orang mampu bersabar untuk tidak makan dan minum, tetapi mereka tidak mampu bersabar dari wanita.
Hal ini tidak tercela jika diletakkan pada tempatnya yang halal, bahkan terpuji. Disebutkan dalam kitab az-Zuhd karya Imam Ahmad, dari Yusuf bin ‘Athiyyah ash-Shaffar, dari Tsabit al-Bunani, dari Anas, dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
حُبِّبَ إِلَيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطَّيْبُ، أَصْبِرُ عَنِ الطَّعَامِ وَالشَّرَابِ وَلَا أَصْبِرُ عَنْهُنَّ
“Dijadikan kecintaanku dari dunia kalian-pada wanita dan wewangian. Aku mampu bersabar dari makanan dan minuman, tetapi aku tidak dapat bersabar dari mereka.”
- Yusuf masih muda, yang gejolak syahwatnya lebih kuat.
- Yusuf seorang bujangan, tidak mempunyai isteri dan budak untuk meredam nafsu syahwatnya.
- Yusuf adalah perantau asing yang tinggal di negeri tersebut. Dorongan untuk melampiaskan syahwat pada diri orang yang merantau di negeri lain lebih besar dibandingkan orang yang berada di tengah keluarga dan masyarakat yang dikenalnya.
- Istri al ‘Aziz mempunyai kedudukan terhormat sekaligus cantik jelita. Satu saja dari dua perkara ini merupakan faktor pendorong untuk melakukan zina.
- Wanita tersebut tidak menolak dan tidak pula enggan berzina. Banyak orang yang hasratnya terhadap seorang wanita menjadi lenyap karena wanita itu menolaknya dan tidak suka kepadanya, bahkan menyebabkan orang tadi merasakan hinanya ketundukan dan permohonan. Namun, banyak juga jenis orang yang karena penolakan dan keengganan seorang wanita membuatnya semakin cinta dan berhasrat kepadanya. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh seorang penya’ir:
وزَادَنِي كَلَفًا فِي الْحُبِّ أَنْ مُنِعْتُ أَحَبُّ شَيْءٍ إِلَى الْإِنْسَانِ مَا مُنِعَا
“Bertambah besar cintaku saat ditolaknya, karena penolakannya membuat seseorang semakin berhasrat kepadanya.”
Tabiat orang berbeda-beda. Sebagian orang semakin mencintai wanita ketika yang dicintai itu juga berhasrat dan suka kepadanya, tetapi cinta tersebut sirna seketika tatkala wanita itu menolaknya. Ada hakim yang mengabarkan kepadaku bahwa hasrat dan syahwat seorang suami hilang ketika isteri atau budaknya enggan atau menolak bersetubuh dengannya. Ia pun tidak mencoba untuk merayunya lagi.
Sebagian orang memiliki cinta dan hasrat yang bertambah besar ketika cintanya ditolak. Kerinduannya bertambah parah setiap kali ditolak. Ia merasakan nikmat keberhasilan setelah ditolak, juga merasakan nikmatnya usaha yang terkabulkan setelah berjuang keras untuk memperolehnya.
- Isteri al ‘Azizlah yang meminta, berhasrat, menggoda, dan berusaha sehingga Yusuf tidak perlu lagi meminta dan merendahkan diri. Pihak wanitalah yang berada pada kerendahan, sedangkan beliau berada pada posisi yang tinggi dan menjadi pihak yang diinginkan.
- Yusuf berada di rumah wanita tersebut dan di bawah kekuasaannya. Apabila beliau tidak menuruti permintaan wanita tersebut, maka dikhawatirkan dia akan bertindak yang bukan-bukan. Oleh karena itu, terkumpullah antara dorongan hasrat dan kekhawatiran.
- Yusuf tidak perlu khawatır bahwa wanita tersebut akan menyebarkan berita buruk tentangnya karena dia sendiri yang meminta dan berhasrat kepada beliau. Ditambah lagi, wanita tersebut telah mengunci semua pintu dan tidak membiarkan seorang pun bersama mereka.
- Dilihat secara zhahir, Yusuf merupakan budak di sana, yang beliau keluar masuk bertemu dengan majikannya itu tanpa ada yang mencela. Telah ada kedekatan di antara keduanya sebelum akhirnya wanita itu merayunya. Kedekatan termasuk faktor pendorong yang paling kuat dalam menyebabkan terjadinya zina.
Salah seorang wanita yang mempunyai kedudukan terhormat²
pernah ditanya: “Apa yang membuatmu ingin berzina?” “Dekatnya
bantal pria itu dengan bantalku dan banyaknya kesempatan,” jawabnya.
- Wanita itu menggunakan segala macam makar dan tipu daya, yaitu dia memperlihatkan Yusuf kepada para wanita lain, lalu mengeluhkan kondisinya, tidak lain agar mereka mau membantunya untuk mendapatkan Yusuf. Maka Yusuf pun meminta bantuan kepada Allah untuk menghadapi mereka:
… وَإِلَّا تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ
“… Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu aku akan cenderung untuk (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh.” (QS. Yusuf: 33)
- Istri al ‘Aziz mengancam Yusuf dengan penjara dan kehinaan. Ini termasuk bentuk pemaksaan, apalagi kuat dugaan bahwa ancaman tersebut akan terlaksana. Oleh sebab itu, terkumpullah dorongan syahwat serta keinginan selamat dari kehinaan dan sempitnya penjara.
- Suami wanita tidak menampakkan kecemburuan dan kewibawaan dalam memisahkan dan menjauhkan keduanya. Bahkan, sikap tegas al ‘Aziz dalam menghadapi isterinya adalah perkataannya kepada Yusuf:
… أَعْرِضْ عَنْ هَذَا ….
“… Berpalinglah dari ini “ (QS. Yusuf: 29) Ia juga berkata kepada isterinya:
… وَاسْتَغْفِرِي لِذَنْبِكِ إِنَّكِ كُنتِ مِنَ الْخَاطِئِينَ “…
Dan (kamu hai isteriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.” (QS. Yusuf: 29)
Padahal, kecemburuan yang tinggi dari pihak suami termasuk faktor terkuat dalam mencegah perselingkuhan. Namun, suami wanita tadi tidak menampakkannya.
Meskipun faktor pendorong zina tadi sangat banyak, Yusuf tetap mengutamakan ridha dan takut kepada Allah. Kecintaan kepada Allah membuatnya memilih penjara dibandingkan harus berzina.
قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ …
“Yusuf berkata: “Wahai Rabbku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku….” (QS. Yusuf: 33)
Beliau menyadari ketidakmampuannya dalam menghindari tipu daya tersebut. Sekiranya Rabbnya tidak menjaga dan memalingkan makar mereka, niscaya Yusuf akan cenderung mengikuti ajakan mereka, sesuai tabiatnya sebagai manusia, sehingga akhirnya dia pun termasuk orang-orang yang bodoh. Inilah bukti kesempurnaan pengetahuan beliau terhadap Rabbnya dan diri sendiri.
Di dalam kisah tersebut terdapat faedah, pelajaran, dan hikmah yang jumlahnya lebih dari seribu. Semoga Allah memberi taufik kepada kami untuk mengumpulkannya dalam tulisan tersendiri.
Sumber: Terjemah Ad Daa wad Dawaa, Ibnul Qayyim Al Jauziyyah, Hal 487-492