Kedudukan Keluarga Antara Nikmat dan Fitnah

 

Anak adalah nikmat yang Allah berikan kepada hamba-Nya. Mereka adalah perhiasan dunia, obat bagi beratnya hidup, penenang jiwa, dan pemikat mata ketika mereka beristiqamah dalam melakukan kebaikan. Akan tetapi, anak-anak juga merupakan kesengsaraan, kesedihan, ujian, cobaan, dan tanggung jawab yang amat sangat berat. Mereka akan membuat resah dan gelisah, gundah dan galau apabila mereka menyimpang dari ajaran Islam, bermaksiat kepada Allah ta’ala, mengikuti hawa nafsunya sendiri, dan mengabaikan kewajiban-kewajibannya.

Imam Al-Ghazaly berkata,

والصبيان أمانة عند والديه وقلبه الطاهر جوهرة نفيسة ساذجة خالية عن كل نقش وصورة وهو قابل لكل ما نقش ومائل إلى كل ما يمال به إليه فإن عود الخير وعلمه نشأ عليه وسعد في الدنيا والآخرة وشاركه في ثوابه أبوه وكل معلم له ومؤدب وإن عود الشر وأهمل إهمال البهائم شقي وهلك وكان الوزر في رقبة القيم عليه والوالي له

“Anak-anak adalah amanah bagi orang tua. Hatinya yang suci adalah permata yang begitu sederhana. Hatinya tersebut belum terukir dan terwarnai. Hati tersebut dapat menerima warna apapun yang ditempatkan oleh orang tua, dan bisa condong ke arah manapun ia dicondongkan. Apabila ia dibiasakan dan diajarkan dengan kebaikan, maka ia akan tumbuh dengan kebaikan tersebut dan akan mendapatkan kebaikan dunia dan akhirat. Sedangkan orang orang tuanya akan berserikat dengan anaknya dalam memetik pahala dalam setiap ilmu dan pendidikan. Namun jika ia dibiasakan dengan keburukan, dan dibiarkan hidup sebagaimana hewan, maka dia akan celaka, dan beban dosa akan dikalungkan juga kepada walinya.” (Ihya’ Ulumud Din 3/72)

Makna dari perkataan imam Al-Ghazaly adalah bahwa orang tua tatkala mendidik anaknya, sedangkan ia dalam keadaan shalih dan menginginkan keshalihan bagi anaknya, maka anak akan menjadi perhiasan baginya. Anak akan keluar dari sebutan fitnah menjadi nikmat. Namun apabila orang tua justru tidak mendidik dengan pendidikan Islam, sedangkan dirinya juga tidak dalam keadaan yang shalih, maka anak yang dia miliki akan menjadi fitnah baginya.

Sungguh Allah telah memperingatkan orang-orang yang beriman kepada-Nya akan bahaya fitnah harta dan keluarga. Allah telah mengabarkan bahwa sebagian dari anak-anak dan istri akan menjadi musuh bagi kaum mukminin. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ وَإِنْ تَعْفُوا وَتَصْفَحُوا وَتَغْفِرُوا فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ  إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang. Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” (At-Tagabun 14-15)

Permusuhan tersebut dapat terjadi karena jauhnya mereka dari jalan yang telah dipilihkan dan diridhoi oleh Allah ta’ala. Mereka lebih memilih jalan yang penuh dengan syahwat dan kecintaan terhadap dunia. Maka yang dimaksud dengan permusuhan ini adalah satu buah kewajiban untuk membenci kemaksiatan, kelalaian dari amal shalih, dan kecintaan terhadap dunia. Sedangkan anak dan istri terkadang dapat melalaikan dari mengingat Allah sebagaimana mereka pun lalai dari perkara-perkara sunah dan wajib. Allah berfirman,

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ فَأُولَئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.”

(Al-Munafiqun: 9)

Berapa banyak kepala keluarga yang disibukkan oleh anak dan istrinya sehingga ia lalai dari kewajiban dan tanggung jawabnya sebagai seorang muslim seperti shalat, menjalin tali silaturahim, dan kewajibannya menuntut ilmu syar’i. Dan berapa banyak dari orang tua yang tidak memerintahkan anak dan istrinya untuk menjalankan kewajibannya sebagai seorang muslim, bahkan justru mempermudah mereka untuk melaksanakan apa yang dilarang oleh syari’at Islam. Terkadang dengan penuh kesadaran, ia mencari harta yang haram hanya demi membahagiakan anak dan istri. Ini adalah bentuk paling berbahaya dalam masalah keluarga.

Maka marilah kita melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam ketika melihat Al-Hasan memasukkan kurma shadaqah yang seharusnya menjadi haram bagi keturunan nabi Muhammad Shalallahu alaihi wa sallam. Dari Abu Hurairah ia berkata,

أَخَذَ الحَسَنُ بنُ عَلِيٍّ رَضيَ اللهُ عنهمَا تَمْرَةً مِن تَمْرِ الصَّدَقَةِ، فَجَعَلَهَا في فِيهِ، فَقالَ النبيُّ صَلَّى اللهُ عليه وسلَّمَ: كِخْ كِخْ. لِيَطْرَحَهَا، ثُمَّ قالَ: أَمَا شَعَرْتَ أنَّا لا نَأْكُلُ الصَّدَقَةَ

“Hasan bin Ali mengambil sebutir kurma dari kurma shadaqah. Kurma itu dimasukkan ke dalam mulutnya. Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam berkata: “Hekh-hekh” (perintah agar Hasan membuangnya dari mulutnya), Tidakkah kamu tahu kalau kita tidak boleh memakan harta shadaqah?” (Diriwayatkan oleh Bukhari 1492 dan Muslim 1069)

Sungguh mendidik anak dan istri sesuai dengan manhaj Islam sebagaimana yang diinginkan oleh Allah dan Rasul-Nya tentu tidak mudah. Apalagi kita hidup di zaman yang penuh dengan fitnah. Maka sudah menjadi kewajiban bagi orang tua untuk terus meminta nasehat, mencari ilmu, dan mengamalkannya sembari mendidik anak dan istrinya. Sungguh pendidikan yang terbaik adalah melalui contoh dan suri tauladan yang baik. Dan teruslah meminta kepada Allah agar menjadikan rumah tempat kita semua tinggal menjadi tempat yang menghidupkan ketaatan kepada-Nya, kecintaan, dan rasa takut akan siksa dan adzabnya.