Mengajarkan Anak Kalimat Tauhid

Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah shallallhu ‘alahi wa sallam bersabda,

إفْتَحُوا عَلَى صِبْيَانِكُمْ أَوَّلَ كَلِمَةٍ بِلا إِلَهَ إِلا اللَّهُ ، وَلَقِّنُوهُمْ عِنْدَ الْمَوْتِ لا إِلَهَ إِلا اللَّهُ  (رواه البيهقي في شعب الإيمان)

Ajarkanlah kalimat Laa ilaaha illallah kepada anak-anak kalian sebagai kalimat pertama, dan tuntunkanlah mereka (mengucapkan) Laa ilaaha illallah  ketika menjelang mati.”  (HR Baihaqi dalam Syuabil Iman)

Abdurrazaq meriwayatkan bahwa para sahabat  menyukai untuk mengajarkan kepada anak-anak mereka kalimat Laa Ilaaha Illallah sebagai kalimat yang pertama kali bisa mereka ucapkan secara fasih sampai tujuh kali, sehingga kalimat ini menjadi  kalimat yang pertama-tama mereka ucapkan.

Ibnul Qoyyim rahimahullah dalam kitab Ahkamul Maulud mengatakan ”Pada waktu mereka bisa berbicara, mereka ditalqinkan dengan kalimat ‘Laa Ilaaha Illallah Muhammad Rasulullah’. Hendaknya yang masuk pertama kali dalam telinga mereka adalah Laa Ilaaha Illallah (pengenalan terhadap Allah) Shubhanahu wa Ta’ala dan mentauhidkan-Nya. Juga diajarkan kepada mereka bahwa Allah Shubhanahu wa Ta’ala berda di atas Arsy, melihat dan mendengar perkataan mereka. Bani Israil sering kali memeperdengarkan kepada anak-anak mereka kalimat ‘Emmanuel’ yang artinya ‘Tuhan bersama kita’. Oleh karena itu, nama yang paling Allah cintai adalah Abdullah dan Abdurrahman, yang kalau si anak mengerti dan memahami artinya, dia akan sadar bahwa dia adalah hamba Allah, dan bahwa Allah adaalah rabb sekaligus Walinya.”

Abdurrazaq dalam kitab Mushannafnya (4/334) meriwayatkan dari Abdul Karim Abu Umayyah  bahwa dia berkata, “Rasulullah shallallhu ‘alahi wa sallam mengajarkan kepada anak kecil dari Bani Hasyim ketika ia telah bisa berbicara, tujuh kali dari kalimat

وَقُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي لَمْ يَتَّخِذْ وَلَدًا وَلَمْ يَكُن لَّهُ شَرِيكٌ فِي الْمُلْكِ وَلَمْ يَكُن لَّهُ وَلِيٌّ مِّنَ الذُّلِّ ۖ وَكَبِّرْهُ تَكْبِيرًا

“Dan Katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang tidak mempunyai anak dan tidak mempunyai sekutu dalam kerajaan-Nya dan Dia bukan pula hina yang memerlukan penolong dan agungkanlah Dia dengan pengagungan yang sebesar-besarnya.” (Al Isra’: 111)

Oleh karena itu wasiat Nabi shallahu ‘alahi wa sallam kepada Muadz radhiyallahu ‘anhu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Ibnu Majah dan Bukhari dalam kitab Al-Adabul Mufrad adalah, “Nafkahilah keluargamu sesuai dengan kemampuanmu. Janganlah kamu angkat tongkatmu di hadapan mereka dan tanamkanlah kepada mereka rasa takut kepada Allah.”

Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam sejak pertama kali mendapatkan risalah tidak pernah mengecualikan anak-anak dari target  dakwah beliau. Beliau mengajak Ali bin Abi Thalib yang ketika itu usianya belum genap 10 tahun untuk beriman dan juga kepad Zaid bin Haritsah. Dan keduanya masuk Islam

Demikianlah Rasulullah Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam memulai dakwah mereka yang baru dalam menegakan masyarakat Islam yang baru  -saat itu- dengan memfokuskan perhatian terhadap anak-anak dengan cara memberikan proteksi, dengan menyeru dan   mendoakan sehingga akhirnya si anak ini (Ali bin Abi Thalib) kelak memperoleh kemuliaan sebagai “tameng”  Rasulullah Rasulullah shallahu ‘alahi wa sallam  dengan tidur di rumah beliau pada malam hijrah ke Madinah. Ini merupakan buah pendidikan yang ditanamkan nabi  kepada anak-anak yang sedang tumbuh berkembang agar menjadi pemimpin pemimpin di masa depan dan menjadi pendiri masyarakat Islam yang baru.

Sumber: Mendidik Anak Bersama Nabi, Muhammad Suwaid