Esensi Anak Dalam Islam

ANAK ADALAH NIKMAT DAN HIBAH (KARUNIA) DARI ALLÂH

Hibah adalah pemberian yang tak (mengharapkan) imbalan/balasan.

Allâh ﷻ berfirman :

لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ ۚ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ ۝ أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا ۖ وَيَجْعَلُ مَنْ يَشَاءُ عَقِيمًا ۚ إِنَّهُ عَلِيمٌ قَدِيرٌ

“Milik Allah-lah kerajaan langit dan bumi; Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, memberikan anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak laki-laki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan, dan menjadikan mandul siapa yang Dia kehendaki. Dia Maha Mengetahui, Mahakuasa.” [QS Asy-Syûra 49-50]

Ibnu ‘Athiyah berkata di dalam Tafsirnya, al-Muharror al-Wajîz :

“Allâh ﷻ mendahulukan menyebut anak perempuan adalah sebagai bentuk pemuliaan bagi mereka, agar lebih memperhatikan anak wanita dan lebih bersikap baik kepada mereka.

Wâtsilah bin al-Asyqo’ Radhiyallâhu ‘anhu berkata :
“Sesungguhnya, diantara tanda keberuntungan wanita adalah, anak perempuan lebih diawalkan daripada anak laki-laki, karena Allâh lah yang mendahulukan penyebutan anak perempuan.”

Diantara keberuntungan wanita, maksudnya keberkahan dan tanda kebahagiannya di dunia sebelum di akhirat.

Manusia itu ada 4 macam :
Ishâq bin Bisyr berkata : “Ayat ini turun berkenaan dengan para Nabi, kemudian tergeneralisir, yaitu :
1. Lûth : Bapak dari anak-anak perempuan yang tidak dikaruniai anak laki-laki.
2. Ibrâhîm : Bapak dari anak-anak laki yang tidak dikaruniai anak-anak perempuan.
3. Muhammad ﷺ : Bapak dari anak-anak laki dan perempuan.
4. Yahya bin Zakariyâ : Beliau mandul (tidak bisa punya anak).

Adapun ayat yang menyatakan :

أَوْ يُزَوِّجُهُمْ ذُكْرَانًا وَإِنَاثًا

“Atau Dia menganugerahkan jenis laki-laki dan perempuan.”

Yaitu : terkumpulnya antara anak laki-laki dan anak perempuan.

ANAK ITU PERHIASAN SEKALIGUS FITNAH

PERTAMA
Anak sebagai perhiasan, Allâh ﷻ berfiman :

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا ۖ وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا

“ Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus-menerus adalah lebih baik pahalanya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” [QS al-Kahfi : 46]

Dan juga firman-Nya :

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ

“ Dijadikan terasa indah dalam pandangan manusia cinta terhadap apa yang diinginkan, berupa perempuan-perempuan dan anak-anak.” [QS Ali Imrân : 14]

KEDUA : Anak sebagai fitnah (ujian)

Allâh ﷻ berfirman :

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِنْدَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

“ Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu), dan di sisi Allah pahala yang besar.” [QS at-Taghâbûn : 15]

Ketika Rasulullâh ﷺ sedang khutbah di atas mimbar, tiba-tiba Hasan dan Husain berjalan masuk lalu keduanya tersandung. Keduanya saat itu mengenakan baju berwarna merah. Serta merta Rasulullâh ﷺ pun turun dari mimbar dan menggendong keduanya.

Kemudian beliau bersabda :

“Alangkah benarnya firman Allâh :

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ

“Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu hanyalah cobaan (bagimu).” Kulihat dua bocah ini berjalan lalu tersandung. Hal ini menyebabkanku tidak bisa bersabar, sehingga aku pun turun (dari mimbar) dan meng-gendongnya.” [HR Abu Dâwud] .

KETIGA : Kerap kali anak itu bisa melalaikan orang tua dari menaati Allâh.

Allâh ﷻ berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ

“ Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barangsiapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” [QS al-Munâfiqûn : 9]

Dan firman-Nya :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ ۚ

“ Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka” [QS at-Taghâbûn : 14]

Nabi ﷺ bersabda :

“Anak itu penyebab sifat pengecut dan kekikiran.”

Arti مجبنة (sifat pengecut) adalah enggan berjihad karena takut mati.
Sedangkan arti مبخلة (kekikiran) adalah terhalang dari bersedekah lantaran menafkahi anak-anaknya.

 

Sumber : Panduan Mendidik Anak Karya Syaikh Abdussalam as-Sulayman.