Mencintai Allah, Merasa Diawasi Oleh-Nya, Meminta Pertolongan Kepada-Nya dan Beriman kepada Qadha dan Qadar

Setiap anak mempunyai persoalan,  baik berkaitan dengan kejiwaan, sosial, ekonomi maupun sekolah. Persoalan yang dihadapi masing-masing anak berbeda satu dengan yang lainnya.  Cara menghadapi dan menyelesaikan persoalan juga berbeda antara satu anak dengan yang lainnya. Lalu bagaimana sebaiknya, anak itu harus menyelesaikan masalahnya?

Jawabannya adalah dengan menanamkan kecintaan kepada Allah SWT, memohon pertolongan kepada-Nya, merasa diawasi dan beriman kepada qadha dan qadar. Dalilnya sebagaimana berikut

عَنْ أَبِي الْعَبَّاسِ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ  صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  يَوْمًا ، فَقَالَ «يَا غُلَامُ ! إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ : اِحْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ ، اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ ، وَإِذَا  اسْتَعَنْتَ فَاسْتَـعِنْ بِاللهِ. وَاعْلَمْ أَنَّ الْأُمَّةَ لَوِاجْتَمَعَتْ عَلىَ أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَنْفَعُوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَ إِنِ اجْتَمَعُوْا عَلَى أَنْ يَضُرُّوْكَ بِشَيْءٍ ؛ لَمْ يَضُرُّوْكَ إِلَّا بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ  اللهُ عَلَيْكَ ، رُفِعَتِ الْأَقْلَامُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ».  رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ ، وَقَالَ   : حَدِيْثٌ حَسَنٌ صَحِيِحٌ.  وَفِي رِوَايَةٍ غَيْرِ التِّرْمِذِيِّ : «اِحْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ أَمَامَكَ ، تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي الشِّدَّ ةِ. وَاعْلَمْ أَنَّ مَاأَخْطَأَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُصِيْبَكَ ، وَمَا أَصَابَكَ ؛ لَمْ يَكُنْ لِيُخْطِئَكَ ، وَاعْلَمْ أَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الكَرْبِ ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا».

Dari Abul ‘Abbas ‘Abdullah bin ‘Abbâs Radhiyallahu anhuma berkata, “Pada suatu hari, aku pernah dibonceng di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu beliau bersabda, ‘Wahai anak muda, aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat: ‘Jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Jika engkau memohon (meminta), mohonlah kepada Allah, dan jika engkau meminta pertolongan, mintalah pertolongan kepada Allah. Ketahuilah, bahwa seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberi suatu manfaat kepadamu, maka mereka tidak akan dapat memberi manfaat kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah ditetapkan Allah untukmu. Sebaliknya, jika mereka berkumpul untuk menimpakan suatu kemudharatan (bahaya) kepadamu, maka mereka tidak akan dapat menimpakan kemudharatan (bahaya) kepadamu, kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.’” [HR. at-Tirmidzi, dan ia berkata, “Hadits ini hasan shahîh”]

Dalam riwayat selain at-Tirmidzi disebutkan, “Jagalah Allah, maka engkau akan mendapati-Nya di hadapanmu. Kenalilah Allah ketika senang, maka Dia akan mengenalmu ketika susah. Ketahuilah bahwa apa yang luput darimu tidak akan menimpamu, dan apa yang menimpamu tidak akan luput darimu. Ketahuilah bahwa pertolongan itu bersama kesabaran, kelapangan bersama kesempitan, dan bahwa bersama kesulitan ada kemudahan.”

 Jika seorang anak telah manghafal hadits ini dan memahaminya  dengan baik, maka ia tidak akan mendapatkan kendala di  hadapannya  dan tidak akan  mendapatkan sandungan dalam menjalani seluruh kehidupannya.

Hadits ini mempunyai kekuatan yang ampuh dalam memecahkan persoalan anak. Hadits ini mempunyai  kemampuan dalam mendorong anak menuju ke depan dengan cara meminta pertolongan kepada Allah SWT, selalu merasa di awasi oleh Allah, serta melalui keimanan kepada qadha dan qadar. Anak-anak para  sahabat menerima bimbingan ini langsung dari Rasulullah saw . Mereka memohon pertolongan kepada Allah ketika mendapatkan bencana  dan mereka berkeyakinan tidak ada daya dan upaya dan kekuatan kecuali bantuan dari Allah SWT. Mereka yakin bahwa kelapangan itu senantiasa menyertai kesempitan  dan kemudahan itu menyerati kesulitan. Marilah kita lihat kisah berikut ini

Dalam sebuah riwayat dikisahkan bahwa Auf bin Malik Al-Asyja’I  menghadap Rasulullah saw  dan berkata, “Anakku ditawan oleh musuh dan ibunya sangat gelisah. Apa yang engkau perintahkan kepadaku? Rasulullah saw bersabda, “Aku perintahkanmu dan isterimu mempebanyak ucapan Laa Haula Walaa Quwwata Illa Billah.” Isterinya berkata, “Alangkah baiknya apa yang diperintahkan Rasulullah saw kepadamu.”

Keduanyapun kemudian memperbanyak memperbanyak ucapan tersebut. Hasilnya, ketika musuhnya sedang lalai, anaknya  yang ditawan membala pulang  kambing musuh ke rumah bapaknya. Usai peristiwa ini turunlah ayat

وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا (2) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan Mengadakan baginya jalan keluar.

  1. dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. dan Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.

Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad bahwa salah seorang  pemdua dari kalangan Anshar merasa takut sekali  terhadap api neraka. Dia selalu menangis saat disebutkan api neraka,  seakan api neraka itu ada di rumahnya. Kejadian tersebut diceritakan kepada Nabi saw,  lalu beliau mendatangi rumahnya. Ketika beliau masuk ke rumahnya, pemuda memeluk Nabi dan tak lama kemudian dia tersungkur dan meninggal. Nabi saw kemudian bersabda, “Siapkanlah segala sesuatu  untuk mengurus mayatnya karena dia telah meninggal.” (HR Hakim)

Ini merupakan contoh lain dari perhatian kaum salaf dalam menancpkan keimanan  dan  kemanisan iman di dalam  hati. Yaitu dengan menanamkan keyakinan yang  kuat tentang qadha dan qadar. Di sini kita bisa melihat kesungguhan salafus shaleh dalam memberikan bimbingan kepada anak- anak mereka sekalipun dalam kondisi menyulitkan menjelang ajal.

Contoh Nyata dari Kehidupan Salafus Shaleh

Suatu hari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu menyusuri  jalan saat beliau sudah menjadi amirul mukminin. Di tengah jalan terdapat  sekumpulan anak yang sedang  berjalan. Ketika mereka melihat Umar,  mereka semua  berlarian menyingkir kecuali satu anak saja yaitu Abdullah bin Zubair. Umar heran, lalu bertanya kepadanya , “Mengapa kamu tidak ikut lari?”  Ia  menjawab, “Saya tidak mempunyai kesalahan yang mengharuskan saya lari dari anda. Dan saya tidak takut kepada Anda yang mengharuskan saya meluaskan jalan untuk Anda.”

Pada suatu hari, Ibnu  Umar melihat seorang budak sedang mengembalakan kambing. Ia lalu bertanya kepadanya, “Maukah kamu menjual seekor kambingmu?” Penggembala menjawab, “Ia bukan milikmu.”

Ibnu Umar berkata, “Bukankah kamu bisa berkata (kepada tuanmu) kalau salah seekor kambing telah dimakan serigala?” Ia menjawab, “Kalau begitu di manakah Allah?”

Semenjak peristiwa itu hingga sekian waktu  berikutnya, Ibnu Umar sering mengulang kalimat yang diucapakan penggembala tersbut, “Lalu di manakah  Allah?”

Dikisahkan bahwa ada seorang syaikh mempunyai sekian murid. Syaikh ini memberikan perhatian khusus kepada salah seorang murid. Hal ini membuat murid yang  lain merasa iri, lalu  mereka mengadukannya kepada syaikh. Syaikh berkata, “Mari aku jelaskan kepada kalian.”

Syaikh  kemudian memberikan kepada semua  muridnya, termasuk murid kesayangannya, seekor burung dan memerintahkan mereka  agar menyembelih burung tersebut di tempat yang tidak dilihat siapapun. Semua murid pergi untuk melaksanakan perintah tersebut. Tak lama kemudian mereka kembali dengan membawa burung yang sudah disembelih, kecuali murid kesayangannya, dia kembali dengan membawa burung yang masih hidup. Syaikh lalu bertanya kepadanya mengapa ia tidak menyembelih burung tersebut. Ia  berkata, aku tidak menemukan tempat yang tidak dilihat siapapun. Syaikh tersbut lalu  berkata kepada seluruh muridnya karena itulah aku memberikan perhatian khusus kepadanya.

Imam Ghazali dalam kitab Ihya (3/72), menampilkan sebuah kisah menarik sebagai berikut:

Sahl bin Abdillah At-Tastari berkata, “Suatu hari ketika saya berusia 3 tahun, saya bangun malam dan  saya perhatikan shalat yang dilakukan paman saya yang bernama Muhammad bin Siwar.

Pada suatu hari,  ia berkata kepadaku,  “Apakah engkau mengingat Allah yagn telah menicptakanmu?” Saya menjawab, “Bagaimana saya bisa mengingat-Nya?” Dia menjawab, “Ucapkanlah  dalam hatimu ketika engkau hendak tidur sebanyak tiga kali tanpa henti, “Allah Azza Wa Jalla bersamaku, Allah Azza Wa Jalla memperhatikanku  dan Allah Azza wa Jalla menyaksikanku.”  Maka,  saya mengucapkan kata-kata itu pada malam-malam berikut, kemudian saya beritahukan hal itu kepadanya. Ia berkata, “Ucapakan tujuh kali dalam semalam.”  Sayapun mengucapkannya  lalu saya kabarkan hal itu kepadanya. Ia berkata, “Ucapkakanlah sepuluh kali  setiap malam.” Saya pun mengucapkannya  dan  kemudian di dalam hati saya terasa ada kemanisannya.

Sudah satu tahun berlalu, paman berkata kepada saya, “Jagalah terus apa yang aku pernah ajarkan kepadamu dan lakukanlah terus hingga kamu masuk kubur. Karena sesungguhny a itu akan memberikan manfaat  bagimu di dunia dan akhirat.”

Maka, aku terus melakukan hal itu bertahun- tahun sehingga saya mendapatkan kemanisan  di dalam hati. Selanjutnya, paman pada suatu  hari berkata, “Wahai Sahal,  siapa saja yang merasa bahwa Allah bersamanya,  memperhatikan dan menyaksikanya,  apakah dia akan bermaksiat (durhaka) kepada-Nya? Jauhilah kemaksiatan aku dahulu pernah menyendiri namun kemudian aku dikirim ke madrasah. Aku belajar Al Quran  dan berhasil menghafalkannya ketika berusia 6 atau 7 tahun. Aku juga senantiasa berpuasa,  makananku  selama 12 tahun adalah roti yang terbuat dari tepung gandum.

Sumber: Mendidik Anak Bersama Nabi, Muhammad Suwaid