Hukum Tathayyur dan Jenis-jenisnya

Oleh: Pujianto*

Sudah menjadi fenomena yang sulit untuk dihilangkan di kalangan umat Islam, khususnya yang ada di Indonesia perihal merasa sial terhadap datang atau terjadinya sesuatu. Hal ini menjadi salah satu bukti bahwa umat Islam telah lama meninggalkan ajaran Allah dan Rasul-Nya. Mereka menjadi asing dengan ajaran Islam yang murni dan lebih mengedepankan taqlid (mengikuti sesuatu tanpa dasar ilmu) pada wejangan nenek moyangnya. Memang sungguh menyedihkan, tapi inilah tugas yang harus kita kerjakan untuk mengembalikan aqidah ummat yang terbengkalai dengan berbagai khurafat, kesyirikan, kebid’ahan, dan kemungkaran-kemungkaran lainnya yang jelas-jelas bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW. Allah dan Rasul-Nya telah mengancam dengan ancaman yang keras bagi mereka yang mempercayai Tathayyur. Berikut ini akan dijelasan secara ringkas mengenai makna, hukum dan bentuk Tahhayyur yang ada pada zaman dahulu dan sekarang.

Makna Tathayyur

Tathayyur berasal dari ath-thiyarah, yang berarti merasa sial karena suatu hal. Pada mulanya, orang Arab merasa bernasib sial karena burung-burung tertentu, seperti: burung gagak, burung hantu, serta berbagai hewan lainnya. Kemudian istilah ini dimutlakkan penggunaannya pada semua perasaan sial, apapun bentuk dan penyebabnya.

Hukum Tathayyur dalam Tinjauan Syari’at

Dalam sebuah hadits, Nabi SAW pernah bersabda: “Tidak ada penyakit menular, dan tidak ada kesialan karena burung serta burung hantu dan bulan Shafar, tidak pula karena jin.” (HR. Bukhari Muslim)

Dalam hadits tersebut, Nabi SAW menolak adanya penyakit menular dan thiyarah, serta meniadakan adanya kesialan akibat burung malam, yakni burung hantu. Karena dahulu mereka menganggap sial yang disebabkan hal-hal tersebut. Bentuk thiyarah ini merupakan bentuk kesyirikan, berdasarkan sabda Nabi SAW, “Barangsiapa yang membatalkan keperluannya karena thiyarah, maka sesungguhnya ia telah berbuat kesyirikan”. (HR. Imam Ahmad 2/220 dan Imam ath-Tabrani 5/105). Juga hadits marfu’ dari Ibnu Mas’ud RA, “Thiyarah adalah syirik, thiyarah ialah syirik !!! ” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Tathayyur dikategorikan syirik karena adanya keyakinan bahwa burung atau manusia, bergantinya bulan atau terjadinya sesuatu, semua itu mempunyai pengaruh buruk tanpa adanya kehendak Allah SWT, dan terdapat kekhususan dengan kemalangan tersebut.

Berbagai Bentuk Tathayyur di Masyarakat pada Zaman Kini

Bentuk tathayyur masa kini merupakan kelanjutan kepercayaan masa lampau. Bentuk tathayyur masa lampau yang masih terbawa sampai sekarang adalah merasa sial karena adanya burung gagak atau burung hantu. Muncul rasa pesimis, jika ada burung hantu di dekat rumah, menandakan bahwa penghuni rumah tersebut akan mengalami musibah (kematian). Atau merasa sial karena adanya bulan tertentu, misalnya bulan Shafar. Banyak orang yang menghindari bulan ini untuk pernikahan. Demikian juga ada sebagian orang yang merasa sial dengan bulan Syawal atau bulan Dzulqa’dah. Atau juga bulan Muharram (bulan terbunuhnya Husain bin ‘Ali ra), sehingga mereka tidak mau melangsungkan pernikahan di bulan ini. Termasuk kategori tathayyur yang lain, yaitu merasa sial karena orang tertentu, dan menganggap bahwa orang tersebut sebagai pembawa sial. Termasuk tathayyur pula, yaitu merasa sial karena angka tertentu, seperti angka tiga belas, atau angka empat. Oleh karenanya, sebagian orang tidak mau bepergian pada tanggal 13, tidak mau membeli rumah nomor 13, tidak mau memberi nomor lantai ke-13 pada gedung bertingkat (biasanya diberi nomor 12a atau 12b).

Masih banyak lagi tathayyur yang lain, yang pada intinya adalah merasa bahwa dirinya akan ditimpa kesialan, atau akan terjadi sesuatu yang buruk karena suatu benda ataupun perbuatan. Yang mana semua ini bersifat ghaib. Padahal manusia tidaklah mengetahui sesuatu yang ghaib, demikian pula Nabi yang mulia Muhammad SAW juga tidak mengetahui sesuatu yang ghaib, kecuali dijelaskan oleh Allah SWT melalui wahyu-Nya. Hanya Allah SWT sajalah yang mengetahui hal-hal yang ghaib, baik yang berada di langit maupun di bumi.

Allah swt berfirman: “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”(QS. Al-An’am: 59)

Rasulullah SAW pernah bersabda: “Kunci-kunci semua yang ghaib ada lima, yang tidak diketahui kecuali Allah: “Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34) (HR Bukhari: 4627)

Penanggulangan dari Kerusakan Tathayyur

Pertama: Pemahaman yang benar terhadap syari’at serta keimanan yang kokoh, bahwa hanya Allah SWT yang memiliki kekuasaan, segala sesuatu ada di tangan-Nya. Dan harus meyakini, bahwa tidak ada suatu benda pun yang mempunyai pengaruh, kecuali atas izin dari Allah SWT. Allah SWT tidak menjadikan kekhususan pada nama dan angka tertentu untuk memberikan pengaruh yang jelek, yang menyebabkan nama dan angka tersebut harus dijauhi.

Kedua: Mengetahui larangan Nabi SAW terhadap thiyarah dan penolakan serta sikap keras beliau terhadap perkara ini. Mengetahui banyaknya pahala yang akan diperoleh karena tidak melakukan tathayyur. Sebagaimana Rasulullah SAW pernah bersabda tentang 70 ribu orang yang bakal masuk surga tanpa hisab, mereka adalah orang-orang yang tidak minta diruqyah, tidak minta dikay (pengobatan dengan besi panas), tidak merasa sial karena burung, dan mereka yang bertawakal kepada Allah”. (HR. Muslim dan lainnya). Dan manusia memahami serta mengenal bahaya tathayyur serta pahala yang diperolehnya apabila menjauhi tathayyur, pasti ia akan menjauhinya.

Ketiga: Bertawakal dengan baik kepada Allah SWT. Sesungguhnya tawakal ini akan menghapus tathayyur dan tasya’um (sikap pesimis).

Keempat: Hendaklah berkata, “Ya Allah, tidak ada kebaikan melainkan kebaikan-Mu, dan tidak ada sesuatu melainkan milik-Mu, dan tidak ada sesembahan selain Engkau”. [HR. Ahmad (2/220) dan ath-Thabrani (5/105)]

Kelima: Hendaklah manusia melakukan sesuatu yang diinginkan dengan landasan percaya kepada Allah SWT dan tawakal kepada Allah SWT serta berdasarkan keyakinan bahwa tidak akan terjadi kesialan kecuali sebelumnya telah ditetapkan oleh Allah SWT.

*(Alumnus Ma’had ‘Ali Al-Islam)