Asbabun Nuzul Surah ath-Thalaaq

Ayat 1, yaitu firman Allah ta’ala,

“Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar) dan hitunglah waktu iddah itu serta bertakwalah kepada Allah Tuhanmu. Janganlah kamu keluarkan mereka dari rumah mereka dan janganlah mereka (diizinkan) ke luar kecuali mereka mengerjakan perbuatan keji yang terang . Itulah hukum-hukum Allah, maka sesungguhnya dia telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. Kamu tidak mengetahui barangkali Allah mengadakan sesudah itu sesuatu hal yang baru .” (ath-Thalaaq: 1)

Sebab Turunnya Ayat

Imam al-Hakim meriwayatkan dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu ketika, Abdu Zaid (Abu Rukanah) menalak istrinya, Ummu Rukanah. Ia kemudian menikahi wanita lain dari Mazinah. Ummu Rukanah lantas mendatangi Rasulullah dan berkata, ‘Wahai Rasulullah, alangkah malangnya saya. Hubungan suami saya dengan saya hanya laksana sehelai rambut ini (begitu rapuhnya).’ Tidak lama kemudian turunlah ayat ini.” Terhadap riwayat ini, Imam adz-Dzahabi berkata, “Sanadnya sangat lemah dan riwayatnya juga tidak benar. Abdu Yazid tidak pernah masuk Islam.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Qatadah dari Anas bin Malik yang berkata, “Suatu ketika, Rasulullah menalak Hafshah. Ia kemudian kembali ke keluarganya. Allah lalu menurunkan ayat, “‘Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar),…’ Selanjutnya dikatakan kepada Rasulullah, ‘Rujukilah ia kembali karena sesungguhnya ia adalah wanita yang selalu berpuasa dan shalat malam.'”

Ibnu Jarir meriwayatkan riwayat di atas dari Qatadah dengan sanad mursal. Demikian juga dengan Ibnul Mundzir yang meriwayatkannya dari Ibnu Sirin juga dengan sanad mursal.

Tentang ayat, “Hai Nabi, apabila kamu menceraikan isteri-isterimu maka hendaklah kamu ceraikan mereka pada waktu mereka dapat (menghadapi) iddahnya (yang wajar),…” ini, Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Muqatil yang berkata, “Diinformasikan kepada kami bahwa ayat ini turun berkenaan dengan Abdullah bin Amru bin Ash, Thufail bin Harits, dan Amru bin Said bin Ash.”

Ayat 2, yaitu firman Allah ta’ala,

“Apabila mereka telah mendekati akhir iddahnya, maka rujukilah mereka dengan baik atau lepaskanlah mereka dengan baik dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah. Demikianlah diberi pengajaran dengan itu orang yang beriman kepada Allah dan hari akhirat. Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (ath-Thalaaq: 2)

Sebab Turunnya Ayat

Imam al-Hakim meriwayatkan dari Jabir yang berkata, “Ayat, ‘…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.” turun berkenaan dengan seorang laki-laki dari Asyja’. Laki-laki itu sangat miskin serta memiliki banyak tanggungan. Suatu hari, ia menandatangani Rasulullah untuk meminta bantuan. Rasulullah lalu berkata padanya, “Bertakwalah kepada Allah dan bersabarlah.’ Tidak lama kemudian, seorang anaknya yang ditawan oleh pihak musuh kembali ke rumah sambil membawa kambing. Laki-laki itu lantas kembali menghadap Rasulullah dan menanyakan tentang apa yang harus dilakukannya dengan kambing itu. Rasulullah lalu berkata, ‘Ambilah seluruhnya.’ Selanjutnya, turunlah ayat ini.”

Tentang riwayat di atas, Imam adz-Dzahabi berkata, “Hadits tersebut mungkar (tidak ada dasarnya).” Akan tetapi, terdapat beberapa riwayat lain yang semaknya dengannya, antara lain sebagai berikut.

Ibnu Jarir meriwayatkan riwayat serupa dari Ibnu Mas’ud yang juga menyebutkan nama laki-laki itu.

Ibnu Mardawaih meriwayatkan dari al-Kalbi dari Abu Shaleh dari Ibnu Abbas yang berkata, “Suatu ketika, Auf bin Malik al-Asyja’i datang kepada Rasulullah seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya anak saya ditawan oleh musuh dan sekarang ibunya dalam keadaan kalut. Apa yang harus saya lakukan?’ Rasulullah lalu menjawab, ‘Saya menyuruhmu dan istrimu untuk memperbanyak membaca Laa haula wa laa quwwata illaa billaah.

Ketika nasihat tersebut ia sampaikan kepada istrinya, wanita itu berkata, ‘Alangkah bagusnya suruhan Rasulullah itu.’ Keduanya lantas memperbanyak bacaan zikir dimaksud. Tanpa diduga, pasukan musuh yang menawan anak itu suatu ketika lengah sehingga ia berhasil melarikan diri sambil menggiring beberapa ekor kambing milik musuh tersebut. Akhirnya, sang anak pun sampai di rumah. Selanjutnya, turun ayat,‘…Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya.'”

Al-Khatib meriwayatkan riwayat senada dalam kitab tarikhnya dari Juwaibir dari adh-Dhahhak dari Ibnu Abbas. Lebih lanjut, ats-Tsa’labii juga meriwayatkan dari jalur lain dengan kualitas lemah, sementara Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dengan jalur lain yang mursal.

Ayat 4, yaitu firman Allah ta’ala,

“Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. Dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (ath-Thalaaq: 4)

Sebab Turunnya Ayat

Ibnu Jarir, Ishaq bin Rahawaih, al-Hakim dan lainnya meriwayatkan dari Ubai bin Ka’ab yang berkata, “Ketika turun ayat yang terdapat dalam surah al-Baqarah yaitu yang berbicara tentang masa iddah beberapa kelompok wanita, para sahabat berkata, ‘Masih ada beberapa golongan wanita lagi yang belum ditetapkan masa iddahnya, yaitu yang masih kecil, yang sudah tua (sudah monopause), dan wanita yang sedang hamil.’ Allah lalu menurunkan ayat ini.” Riwayat ini sanadnya shahih.

Muqatil juga meriwayatkan dalam kitab tafsirnya bahwa suatu ketika Khallad bin Amru bin Jamuh bertanya kepada Rasulullah tentang iddah wanita yang tidak haid. Sebagai responnya, turunlah ayat ini.

Sumber: Diadaptasi dari Jalaluddin As-Suyuthi, Lubaabun Nuquul fii Asbaabin Nuzuul, atau Sebab Turunnya Ayat Al-Qur’an, terj. Tim Abdul Hayyie (Gema Insani), hlm. 581 – 584.