FAPB: Dosa-dosa HKBP di Bekasi Sudah Tak Terhitung, Umat Islam Siagalah!!

BEKASI (voa-islam.com) – Insiden penganiayaan Pendeta HKBP Philadelphia Bekasi, Palti Panjaitan terhadap Ustadz Abdul Aziz telah melukai hati seluruh Islam. Sebagai kaum pendatang, HKBP semakin arogan dan intoleran. Umat Islam diimbau merapatkan shaff untuk mengawal kasus kriminal pendeta ini sampai tuntas.

Pernyataan itu disampaikan Ketua Umum Front Anti Pemurtadan Bekasi (FABP), Abu Al-Izz, menanggapi insiden penganiayaan Pendeta HKBP terhadap Ustadz Abdul Aziz yang dilakukan secara terang-terangan di hadapan di hadapan khalayak pada malam Natal, Senin (24/12/2012).

“Tindakan anarkhis Pendeta Palti itu adalah bukti kepongahan dan arogansi di luar batas permakluman. HKBP Philadelphia sebagai pendatang telah mengusik ketenteraman warga Jejalen dan melukai hati umat Islam Bekasi,” kecam alumnus Universitas Al-Azhar Mesir itu.

Karena itu, Al-Izz mendesak kepolisian agar menindak tegas Pendeta HKBP yang telah menganiaya Ustadz Abdul Azis. Kepada umat Islam Bekasi, khususnya warga Jejalen, Al-Izz mengimbau agar senantiasa menjaga kehormatan dari kepongahan dan arogansi HKBP.

“Kepolisian harus menindak tegas Pendeta Palti, dan umat Islam Bekasi bersama masyarakat Jejalen harus mengawal kasus penganiayaan ini sampai tuntas,” ujarnya kepada voa-islam.com, Selasa (25/12/2012).

Al-Izz mengingatkan umat agar selalu mewaspadai HKBP, karena sepanjang sejarah Bekasi akhir-akhir ini, HKBP sudah menimbulkan banyak kasus yang menodai kerukunan hidup antarumat beragama. “Dosa-dosa HKBP di Bekasi sudah tidak terhitung, maka kami menyampaikan kepada pemerintah Kabupaten maupun Kota Bekasi untuk membongkar gereja-gereja HKBP yang ilegal sebagai balasan atas ulah pendeta dan jemaatnya selama ini,” tutupnya.

Sebagaimana diberitakan voa-islam.com terdahulu, kasus penolakan berdirinya Gereja HKBP Philadelphia ini dilakukan oleh warga sejak tahun 2009. Warga menolak keberadaan gereja Batak ini karena proses awalnya dilakukan dengan tipuan tanda tangan warga. Warga diminta tanda tangan diatas kertas dengan blangko kosong dan menyerahkan photo copy KTP. Katanya untuk mendapatkan bantuan dana BLT (bantuan langsung tunai), tapi disalahgunakan sebagai berkas mengurus perizinan pendirian Gereja.

Merasa dibohongi dan dibodohi oleh oknum HKBP, 256 warga yang menandatangi blangko tersebut telah melayangkan surat pernyataan mencabut tanda-tangan blangko yang disalahgunakan tersebut. [taz]