Tantangan Pesimisme Terhadap Amal Islami (III) [Sikap Pesimis dan Optimis dalam Pandangan Islam]

(Alislamu.com) — Ketika membicaraka tentang factor yang mendorong golongan berputus asa bersikap pesimis terhadap amal Islami dan (upaya) perubahan politik, maka hal pertama ialah bayangan yang ada di benak mereka mengenai realitas ummat Islam dan pengeroyokan para konspirator dari dalam dan dari luar terhadap mereka, yang menjadikan mereka objek sasaran, merampas hasil kekayaan negerinya, merusak moral para pemudanya, memadamkan semangat perlawanan dan jihadnya. Dan itu memang benar seratus persen, tak mungkin ada yang memungkirinya!

Akan tetapi apakah kenyataan pahit yang menimpa negeri-negeri Islam ini menyebabkan putus asa? Apakah boleh bagi seorang muslim berputus asa terhadap apa yang dialami dan diderita kaum muslimin saat ini? Dan apakah boleh bagi para pemuda untuk berpaling pada uzlah?

Ketika membicarakan tentang solusi-solusi Islam dalam mengatasi rasa putus asa, saya telah menjanjikan untuk menerangkan secara detail tiga hal di atas, maka saya memenuhi apa yang dijanjikan, dan Allah-lah yang dimintai pertolongan-Nya, dan Dia-lah yang memberi taufik kepada kita.

1. Oleh karena Al-Qur’anul Karim mengharamkan sikap putus asa dan mencela keras orang-orang yang berputus asa.

Banyak ayat-ayat Al-Qur’an yang secara jelas dan gamblang menyatakan larangan dan celaan tersebut. Di antara ayat-ayat itu ada yang menganggap sikap putus asa sebagai:

a. Kawan kekafiran

“….dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tiada yang berputus asa dari rahmat Allah kecuali kaum yang kafir,” (Yusuf: 87).

b. Kawan kesesatan

Berkata Ibrahim, ‘Tidak ada orang yang berputus asa dari rahmat Tuhannya kecuali orang-orang yang sesat,” (Al-Hijr: 56).

Dari keteragan nash-nash Al-Qur’an ini, menjadi jelaslah bahwa keputusasaan bisa mengakibatkan kepada kekafiran dan membawa kepada kesesatan. Berdasarkan uraian keterangan di atas, maka tidak bagi seorang muslim berputus asa dalam dienullah dan Kitabnya yang kekal. Oleh kerena putus asa pada hakekatnya adalah pembunuh (semangat) para lelaki, perwira, penakluk para kstria, peluruh tekad, penghancur cita-cita dan penggoncang bangsa. Maka hendaknya para pemuda bersikap waspada sepenuhnya terhadap sikap pandang pesimistis yang membinasakan, yang mengatakan, “Telah berakhir segala sesuatunya dan kita lemah. Tetaplah duduk di rumahmu. Perhatikan dirimu sendiri. Tinggalkanlah perkara orang banyak. Tidak ada manfaat sedikitpun jihad dan amal islami.”

Dan pandangan-pandangan pesimis serta kata-kata melemahkan lainnya yang meluruhkan perjuangan kita, dan mematikan semangat dakwah dan jihad di jalan Allah.

Al-Qur’anul Karim menamai golongan yang berputus asa dan membuat orang lain berputus asa dengan sebutan, “Al-Mu’awwiqun Al-Mutsabbitun. Allah befirman:

Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang menghalang- halangi di antara kamu dan orang-orang yang berkata kepada saudara-saudaranya: “Marilah kepada kami”. Dan mereka tidak mendatangi peperangan melainkan sebentar. Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik- balik seperti orang yang pingsan karena akan mati, dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedang mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan (pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah,” (Al-Ahzab: 18-19).

Dari ayat yang telah disebutkan, maka Nampak jelaslah bahwa keputus asaan dan melemahkan semangat termasuk tabi’at nifak dan ciri-ciri kaum munafiq. Jadi seorang muslim yang benar dan mukhlis akan selalu menjaga dirinya jangan sampai memiliki sifat kufur dan nifak, atau senantiasa waspada jangan sampai terjerumus dalam jurang putus asa dan lemah semangat.

Pilihan kata:
Sesungguhnya putus asa dalam pandangan agama Allah adalah haram, selama di bumi Islam ada kaum muslimin yang menunaikan syi’ar-syi’ar (agama) dan menerpakan pada diri mereka hokum-hukum Islam dan selagi masih ada ruang untuk melakukan ta’awun dan tauhidul juhud (kesatuan dalam perjuangan). Lantaran mereka mampu dan sanggup merebut kemenangan jika mereka memurnikan niat, meneguhkan tekad, menetapi jama’ah, menempuh tahapan perjuangan yang terencana dan terfokus dan menapaki jalan jihad dan amal islami dengan rasa percaya diri dan optimis, tanpa rasa takut dan gentar. Seorang muslim juga tidak boleh, menurut pandangan syar’I, menambah jumlah orang yang berputus asa dan menyebabkan orang berputus asa, yang memperlihatkan kebinasaan lebih dahulu sebelum segala sesuatunya terjadi, namun bukan kebinasaan kaum muslimin, berdasarkan sabda Nabi, “Barangsiapa yang mengatakan, ‘Binasalah kaum muslimin,’ maka dia adalah orang yang paling binasa di antara mereka.”

Ingatlah, hendaknya para pemuda Islam berhati-hati terhadap para penyeru ‘uzlah di zaman ini dan hendaknya mereka pergi berjuang ke medan amal dan jihad. Allah menyiapkan untuk mereka sebab-sebab kemuliaan, kemenangan dan kekuasaan dan akan membinasakan musuh-musuh mereka dan mengalahkannya dan akan mengadzab dari arah yang tidak mereka sangka. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

2. Bukti Sejarah Menunjukkan Bahwa Suatu Bangsa Dapat Memperoleh Kemenangan Atas Musuh Setelah Kalah

Saya tidak hendak mengulas secara panjang lebar setiap tragedy kekalahan bangsa-bangsa di timur dan barat sepanjang perjalanan masa dan kebangkitan mereka untuk mencapai kemenangan sesudah mereka dalam keadaan lemah dan tercerai berai pada masa kejatuhannya. Saya hanya akan membicarakan mengenai tragedy kekalahan yang dialami kaum muslimin di sepanjang sejarah, dimana keadaan mereka tercerai berai, lemah dan kehilangan eksistensi; kemudian kemenangan, kemuliaan dan kekuasaan mereka peroleh kembali. Saya kemukakan contoh untuk I’tibar dan untuk menguatkan tekad, cita-cita, semangat, dan moril para pemuda Islam. Mudah-mudahan mereka bangkit untuk mengembalikan kebesaran dan kejayaan mereka kembali:

Contoh:
Siapa yang mengira kakum muslimin dapat bangkit kembali pada masa awal kekhilafahan Abu Bakar, sedangkan pada saat itu keadaan kaum muslimin sangat gawat dan terancam bahaya. Di sana-sini kemunafikan, banyak kabilah-kabilah Arab yang murtad, muncul orang-orang yang mengaku sebagai nabi, ada kaum yang menolak membayar zakat dan tidak ada lagi tempat yang dijadikan shalat jum’at di suatu negeri kecuali Makkah dan Madinah. Dan jadilah keadaan kaum muslimin sebagaimana dikisahkan oleh ‘Urwah bin Zubair, “Seperti kawanan domba pada malam yang gelap dan hujan lebat, karena kehilangan Nabi mereka, sedikit jumlah mereka dan banyak musuh mereka.” Hingga ada di antara kaum muslimin yang mengatakan kepada Abu Bakar, “Wahai Khalifatullah! Tutup pintu rumahmu, tetap diam di rumah dan sembahlah Tuhanmu hingga datang kepadamu maut.”

Akan tetapi Abu Bakar r.a. tidak meliputi rasa putus asa dan pesimis, beliau menghadapi kenyataan tercerai berainya kesatuan umat dan fitnah yang muncul dengan keimanan yang teguh, tekad yang bulat dan optimism yang besar.

Beliau mengatakan perkataan yang monumental kepada kaum muslimin, “Adakah dien ini akan digerogoti, sementara aku masih hidup?!”

Dialah yang mengatakan kepada Umar r.a. ketika datang kepadanya dan mencela atas kebijakannya memerangi kaum yang tidak membayar zakat, karena dalam pandangan Umar saat itu mereka telah bersyahadat, “Sebentar hai Umar! Aku mengharap bantuanmu namun engkau datang untuk menelantarkanku. Apakah engkau bengis di masa jahiliyah dan takut di masa Islam? Apa yang engkau harap, apakah aku harus menjinakkan mereka dengan sihir yang dibuat-buat atau dengan sya’ir buatan? Jauh sekali! Jauh sekali! Rasulullah saw. Telah pergi dan wahyu telah terputus. Demi Allah aku benar-benar akan memerangi mereka selama pedang masih tergenggam kuat di tanganku. Demi Allah aku benar-benar akan memerangi orang yang memisahkan antara zakat dan shalat. Demi Allah sekiranya mereka menolak membayar padaku zakat berupa tali kekang onta yang dahulu mereka bayarkan kepada Rasulullah, niscaya aku akan memerangi mereka karenanya.”

Mendengar perkataan Abu Bakar yang tegas ini, maka berkatalah Umar r.a., “Dan tiadalah perkataannya itu kecuali aku melihat Allah telah melapangkan dada Abu Bakar untuk berperang, maka tahulah aku bahwasanya ia benar.”

Dan dialah yang telah mengirimkan pasukan Usamah r.a. dan mengatakan kepada mereka yang menentang kebijakannya, “Demi Dzat yang jiwa Abu Bakar berada di jiwaku tangan-Nya, sekiranya aku yakin kalau binatang buas akan menerkamku, maka aku tetap akan mengirim Usamah sebagaiman Rasulullah saw. Telah memerintahkannya. Sekiranya tidak tertinggal di negeri ini orang lain selainku, tetap aku akan mengirimnya. Aku tiada akan melepaskan ikatan yang telah diikatkan sendiri oleh Rasulullah saw. Dengan kedua tangannya.”

Dialah yang telah memerangi orang-orang yang mengaku-aku sebagai nabi dan kaum murtaduin, dan mengembalikan kekuataan kaum muslimin, menyuntikkan optimism kepada orang-orang yang putus asa dan mengembalikan kewibawaan Khalifah. Demikianlah yang diperbuat oleh orang besar dan kuat imannya.

Sesungguhnya optimis terhadap kemenangan adalah awal kemenangan dan sesungguhnya kekuatan moril pada setiap umat adalah factor utama yang mendorong para pemuda dan kaum lelakinya untuk mewujudkan tambahan kemenangan-kemenangan yang bersejarah di setiap waktu dan tempat. Dan kekuatan moril inilah yang membuktikan bahwa tidak boleh berputus asa dalam mewujudkan kekuasaan bagi kaum muslimin dalam Dienullah; dan kekuatan moril ini pulalah yang membuat umat Islam tetap kuat, berpengaruh dan memiliki kemuliaan, meski mereka ditimpa berbagai tragedi dan bencana!

Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang yang tertindak di bumi, dan hendak menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi),” (Al-Qashash: 5).

Ingatlah, hendaknya para pemuda Islam saat ini mengetahui perjalanan kemenangan yang sangat historis itu, dan kebangkitan umat Islam setelah mana kehinaan, kerendahan dan berbagai tragedy menimpa kaum muslimin sepanjang perjalanan waktu dan sejarah!!

3. Nash-Nash Syar’I Menegaskan Bahwa Kemanangan Bagi Umat Ini Pasti akan Terwujud.

Sekiranya kita mengamati dengan teliti nash-nash yang menegaskan kemenangan bagi agama ini akan terus berlangsung, dan bahwa kemuliaan bagi agama ini pasti akan terwujud, niscaya kita akan melihat bahwa nash-nash tersebut berkisar pada dua hal berikut:

Pertama: Nash-nash yang menegaskan bahwa pertolongan itu terikat dengan usaha kaum muslimin menolong agama Allah.

Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal yang saleh bahwa Dia sungguh- sungguh akan menjadikan mereka berkuasa dimuka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai-Nya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah mereka dalam ketakutan menjadi aman sentausa. mereka tetap menyembahku-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan aku. dan Barangsiapa yang (tetap) kafir sesudah (janji) itu, Maka mereka Itulah orang-orang yang fasik,” (An-Nuur: 55).

Nash di atas menjelaskan bahwa kekuasaan di atas bumi tergantung pada iman, amal shaleh dan menetapi jalan Allah.

…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha kuat lagi Maha perkasa, (yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan,” (Al-Hajj: 40-41).

Nash di atas menjelaskan bahwa tamkin (kekuasaan) di bumi dan terwujudnya kemenangan itu terikat pada pembelaan dan bantuan orang-orang beriman kepada (agama) Allah, yang demikian itu adalah dengan menetapi manhaj Allah.

Nash-nash ini dan banyak lagi nash-nash yang lain, menegaskan bahwa tidak ada lagi sesuatu yang harus diragukan jika kaum muslimin melaksanakan syari’at Allah dan menetapi manhaj Islam, maka sesungguhnya Allah akan menolong mereka, meneguhkan kedudukan mereka, menjadikan mereka berkuasa di bumi, menjadikan mereka sebagai khalifah di dalamnya, menjadikan mereka sebagai pemimpin-pemimpin dan menjadikan mereka sebagai orang-orang yang mempusakai bumi. Dan Allah sekali-kali tidak akan menyelisihi jani-Nya.

Kedua: Nash yang memberikan kabar gembira akan datangnya kekuasaan dan kemenangan bagi Islam kelak pada masa-masa mendatang.

Al-Bukhari dan Muslim serta perowi hadits yang lain meriwayatkan dari Rasulullah saw. Bahwasanya beliau bersabda, “Agama ini akan senantiasa tegak, dimana sekelompok kaum muslimin berperang membelanya hingga tiba hari kiamat.

Hadits ini datang pula dengan riwayat-riwayat lain yang menunjukkan dalil yang pasti atas wujudnya tho’ifah orang-orang beriman yang membela al-haq hingga datangnya kiamat, dan bahwasanya tho’ifah ini terus dalam pergulatan melawan kebatilan. Apabila cahaya Al-Haq pada di suatu masa, maka harus dipancarkan dan dinyalakan kembali. Maka dari kegelapan rasa putus asa, muncul sinar harapan dan optimism. Sesungguhnya tentara kami itulah golongan yang pasti menang!!

Kesimpulan dari Keterangan di Muka

Bahwasanya tantangan yang berujud sikap pesimis dan putus asa terhadap amal islami yang melanda kejiwaan sebagian pemuda dan da’I serta tokoh-tokoh perbaikan di zamn ini disebabkan oleh beberapa factor, serta ditimbulkan perasaan-perasaan dan persepsi.

Factor-faktor ini tidak dapat dijadikan hujjah untuk meninggalkan amal islami dan berpaling kepada sikap hidup uzlah dan mengasingkan diri. Siapa yang berhujjah dengannya, maka boleh jadi dia telah menjadi sebab bagi kehancuran dan kelumpuhan kaum muslimin, dan tanggung jawab dia di sisi Allah sangat besar dan berat.

Kalian telah melihat bahwa rasa putus asa yang menguasai sebagian orang diakibatkan penyimpangan dalam perasaan dan kerusakan dalam persepsi.

Adapun penyimpangan itu sendiri bisa timbul karena beberapa hal:
Ada yang karena pola pemikiran (fikrah), seperti jahil atau bodoh terhadap tabi’at agama ini, padahal Islam menuntut seorang muslim untuk menjadi orang yang alim terhadap karakter dan tabi’at agama Islam.

Ada yang timbul karena factor kejiwaan, seperti cinta dunia dan takut mati, sementara Islam dengan pengajarannya membebaskan seorang muslim dari ketakutan dan kecemasan serta membebaskan dari sebab yang mendorong untuk cinta harta dan dunia.

Ada juga timbul karena persepsi, seperti persepsi yang rusak dalam memahami beban tugas yang mesti dipikul seorang muslim, sedangkan Islam memberikan bekal kepada seorang muslim untuk pergi menyusuri tempat yang tak dikenal dalam rangka dakwah dan melenyapkan kelaliman dan kesewenang-wenangan.

Kalian telah melihat, bahwa Islam dengan prinsip-prinsip perbaikan dan pengajarannya dapat mengatasi factor-faktor yang menyebabkan putus asa dengan solusi berikut:

Mengharamkan secara tegas, supaya tidak bersemayan di dalam hati.
Mengambil ibrah dan pelajaran dari peristiwa-peristiwa sepanjang perjalanan sejarah.
Memantapkan rasa optimis dalam hati akan izzah Islam pada masa-masa mendatang.

Maka wajib bagi para pemuda Islam dimanapun mereka berada untuk membebaskan diri dari putus asa dan membersihkan rasa takut. Dan agar mereka meyakini dengan pasti bahwa apa yang luput dari mereka tidak akan mengenai mereka dan apa yang mengenai mereka tidak akan luput dari mereka. Sekiranya seluruh manusia bersepakat untuk memberikan suatu manfaat atau mudharat, maka mereka tidak akan dapat memberikannya kecuali apa-apa yang sudah ditetapkan oleh Allah bagi mereka.

Songsonglah –wahai para pemuda- dengan seluruh totalitas kalian, tugas amal islami dan bergabunglah dengan jama’ah-jama’ah Islam yang meukhlis, dan melangkahlah dengan kejujuran, tekad dan keikhlasan pada jalan al-Binaa, al-Ishlah dan at-Taghyir. Sesungguhnya kalian akan memperoleh pertolongan dan sesungguhnya tentara Allah lah golongan yang akan menang. Dan katakanlah, “Beramallah kalian, sesungguhnya Allah, Rasul dan orang-orang beriman akan melihat amal kalian.

Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al -‘Alaq, 2003), hlm. 294-312.