Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global: Tarbiyah Jundiyah

(Alislamu.com) — Tarbiyah ini termasuk factor penting dalam proses pembinaan pemuda di atas nilai-nilai kedisiplinan dan ketaatan, etika dan kehormatan, kerjasama dan solidaritas serta otokritik yang membangung. Supaya mereka menjadi anggota jama’ah, menjadi tentara-tentara dakwah dan muslimin yang ikhlas terhadap Islam.

a. Pembinaan Disiplin dan Ketaatan

Yakni memberikan loyalitas kepada qiyadah, melaksanakan perintah-perintahnya, komit dengan sikap kebijakan yang datang darinya, tanpa disertai dengan keraguan atau bersikap lamban dan bermalas-malas dan tidak terbujuk oleh berbagai macam godaan dan kepentingan. Demi Allah, inilah yang disebut sebagai makna iltizam, loyalitas (kesetiaan) dan keikhlasan.

Untuk mewujudkan hal di atas, Islam mewajibkan kaum muslimin untuk taat kepada Amir (pemimpin) dan menetapinya, kendati yang menjadi pemimpin adalah seorang budak Habasyia.

Rasulullah saw. Bersabda, “Mendengarlah kalian dan taatlah, meskipun yang diangkat sebagai pemimpin kalian adalah seorang budak Habasyah yang kepalanya bagaikan kismis,” (HR. Bukhari).

“Barangsiapa taat kepadaku berarti dia taat kepada Allah, dan barangsiapa mendurhakaiku berarti dia mendurhakai Allah. Dan barangsiapa taat kepada amirku, berarti dia telah taat kepadaku dan barangsiapa mendurhakai amirku, berarti dia telah durhaka kepadaku,” (HR. Muslim).

Dalam pandangan Islam ketaatan tidak hanya sebatas pada sesuatu yang disukai, diingini dan disenangi olehnya. Sesungguhnya ketaatan itu meliputi ketaatan dalam keadaan suka maupun benci, dalam keadaan sempit ataupun lapang, dengan rela ataupun terpaksa.

Ketaatan dalam Islam bukanlah ketaatan buta yang dilandasi kobodohan dan fanatisme serta kemaksiatan kepada Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi ketaatan yang benar diserta kesadaran hati yang berlandaskan prinsip-prinsip syari’at, akal sehat serta maslahat dakwah dan Islam.

Rasulullah saw. Bersabda, “Seorang muslim wajib mendengar dan taat (pada pemimpin) dalam apa yang disukai maupun dibenci sepanjang tidak diperintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak ada kewajiban mendengar dan taat atasnya,” (HR. Bukhari dan Muslim).

b. Pembinaan Etika dan Penghormatan

Yakni para pemuda Islam terbina di atas nilai-nilai etika dan penghormatan kepada orang yang lebih tua dari mereka, yang lebih banyak ilmunya, lebih lurus agamanya, lebih dahulu keislamannya dan lebih tulus kesetiaan dan amalannya terhadap dienullah. Para pemuda harus mengetahui keutamaan mereka, berlaku sopan di hadapan mereka, memenuhi apa-apa yang menjadi hak-hak mereka dan menempatkan mereka sesuai dengan posisi dan kedudukan mereka.

Rasulullah saw. Bersabda, “Bukan termasuk golongan umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak mengetahui hak-hak orang yang ‘alim di antara kita,” (HR. Ahmad, Thabrani dan Al-Hakim).

c. Pembinaan dalam hal munasharah wat ta’yyid

Yakni terbinanya putra-putra Islam dalam suatu tempaan pembinaan untuk saling tolong menolong dalam memperjuangkan dakwah yang mereka yakini dan mendukung jama’ah yang mereka iltizami serta memberikan dukungan moril kepada para aktifis dakwah apabila mereka mendapatkan ujian dan cobaan.

Munasharoh (tolong-menolong) untuk dakwah tak mungkin dapat terealisasi kecuali apabila seorang muslim rela mengorbankan apa saja yang dimilikinya, baik yang berharga maupun yang remeh pada jalan tersebut serta siap membelanya dengan pena dan lisan dan mencurahkan segenap waktu, bantuan dan perhatian kepadanya.

Munasharoh ini dapat dalam berbagai bentuk menurut tuntutan keadaan, terkadang berbentuk membela dan melindungi pemimpin ketika musuh menimpakan persekongkolan jahat padanya, kadang dalam bantuk tabligh dakwah pada fase takwin dan I’dad, dan kadang dengan membela jama’ah ketika menghadapi berbagai tuduhan, terkadang bisa juga berbentuk menginfakkan harta fie sabilillah dan lainnya. Hingga Allah memberikan pertolongan dan kemenangan.

d. Pembinaan otokritik yang membangun

Yaitu terbinanya putra-putra Islam di atas nilai-nilai didikan untuk berani memberi nasihat, saling menasehati dan memberikan kritik dan sarang yang konstruktif, terhadap siapapun yang bergabung dengan mereka, berinteraksi dengan mereka, mengambil (belajar) dari mereka dan berada di bawah kepemimpinan mereka, dengan kata-kata yang lembut, cara-cara yang santung dan perilaku yang terpuji.

Rasulullah saw. Bersabda, “Ad-Dien itu nasihat!.” Lalu kami bertanya, “Bagi siapa?” beliau menjawab, “Bagi Allah, bagi Kitab-Nya, bagi Rasul-Nya dan bagi para pemimpin dan kaum awamnya,” (HR. Muslim).

Maka para murabbi dan da’I harus memperhatikan dua hal penting di bawah ini dalam mendidik para pemuda dalam hal penyampaian kritik dan nasihat:

1. Membiasakan mereka dalam memberikan nasihat kepada para pemimpin dilakukan dengan cara beradab, santun dan lembut.
2. Mendidik mereka agar dalam menyampaikan nasihat kepada para pemimpin dilakukan dengan diam-diam, rahasia dan tidak terbuka di hadapan public.

Dengan membiasakan diri pada dua hal itu, berarti mereka telah menjaga kesatuan jama’ah dan telah menanam benih-benih kecintaan, sikap percaya dan adab diantara anggota jama’ah dan para pemimpinnya dan nasihat tersebut memberi pengaruh terhadap proses pembangunan dan perbaikan umat.

Tak ada yang memperselisihkan bahwa termasuk di antara I’dad yang wajib adalah membina pribadi muslim dalam didikan quwwah. Mengingat bahwa kekuatan itu adalah semboyan islam dalam setiap tatanan dan perundang-undangannya.

Allah berfirman, “Dan persiapkanlah kekuatan apa saja yang kalian sanggupi untuk menghadapi mereka…” (Al-Anffal: 60).

Maka jama’ah-jama’ah Islam harus membina para personalnya dalam latihan quwwah di segala hal: kekuatan iman dan aqidah, kekuatan phisik dan persenjataan, kekuatan kesatuan dan ikatan, kekuatan tadrib (latihan militer) dan I’dad, kekuatan perencanaan dan pengorganisasian (tahthith dan tanzhim).

Suatu jama’ah tidak patut (belum) bisa disebut kuat hingga berbagai macam kekuatan itu ada padanya, dan tak mungkin jama’ah tersebut dapat meraih kemenangan dan tampuk kekuasaan melainkan setelah mereka berhasil menapaki marhalah (tahapan) kekuatan serta menyempurnakan setiap ashbab (factor-faktor) dan penopangnya.

Kesimpulan

Jama’ah Islam manapun yang membawa bendera dakwah dan jihad di negeri-negeri Islam, tak mungkin dapat mencapai puncak kekuasaan dan kemenangan dan membangun kejayaan dan kemuliaan di tengah-tengah umat Islam kecuali mereka harus memfokuskan tarbiyah para anggotanya serta penyiapan kader-kader pemudanya, melalui:

1. Tarbiyah Ruhiyah

Sebagai sandaran dan pegangan untuk menantikan bantuan Rabbani dan memohon pertolongan Ilahi. Tanpa tarbiyah ruhiyah, maka tak mungkin terwujud suatu kemenangan bagi umat Islam dan tak mungkin tegak eksistensi mereka di muka bumi.

2. Tarbiyah Nafsiyah

Sebagai sandaran dalam pembentukan pribadi muslim. Pribadi yang tertempa dalam gemblengan keimanan dan keikhlasan, kesabaran dan lapang hati, keberanian dan pantang mundur.

Tanpa tarbiyah nafisyah, jama’ah tidak bisa mencapai tujuan, yakni menegakkan hokum, membangung kejayaan dan daulah.

3. Tarbiyah Jundiyah

Sebagai sarana pokok dalam menyiapkan pribadi di atas nilai-nilai kedisiplinan dan ketaatan, adab dan penghormatan, munasharah dan ta’yyid, kritik dan munashahah.

Tanpa tarbiyah ini, tak mungkin terwujud suatu tatanan bagi jama’ah, tak mungkin tercipta stabilitas dan tak mungkin mempunyai wibawa dan pengaruh.

Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al -‘Alaq, 2003), hlm. 234-264.