Tantangan Pesimisme Terhadap Amal Islami (II) [Faktor-Faktor Penyebab Orang Pesimis dalam Amal Islami ]

(Alislamu.com) — Faktor-faktor lain yang menyebabkan orang berputus asa dan bersikap pesimis terhadap amal Islami dan upaya-upaya meraih kemenangan dan perbaikan:

1. Jahil dalam Memahami Tabi’at Dien.

  1. Pada waktu mereka jahil (gagal) dalam memahami bahwa:
  2. Islam adalah Dienul Quwwah (agama kekuatan), sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat Al-Anfaal: 60.
  3. Islam adalah agama yangg bersifat syumul.
  4. Islam adalah agama yang memposisikan manusia sebagai khalifah di muka bumi, agar manusia memegang kendalinya, mengeluarkan harta simpanannya dan menyingkap segala rahasia yang ada di dalamnya. Sebagaimana dijelaskan Allah dalam surat Al-An’aam: 165.
  5. Islam adalah agama jihad. Sebagaimana dijelaskan dalam surat Al-Anfaal: 41.
  6. Islam adalah agama kewajiban social yang tercermin pada amar ma’ruf nahi mungkar dan menjaga opini public. Syi’ar untuk point ini adalah firman Allah yang terdapat dalam surat At-Taubah: 71.
  7. Islam adalah agama yang menyeru kaum muslimin untuk menyebar di muka bumi dan menjanjikan kekuasaan di dalamnya, syi’arnya tertuang dalam firman Allah surat An-Nuur: 55.
  8. Islam adalah agama yang menyeru manusia melenyapkan penguasa-penguasa taghut dan memenangkan Dienul Islam atas agama-agama lain. Sebagaiman firman Allah dalam surat Al-Anfaal: 39.
  9. Islam adalah agama amal, hasil kerja dan usaha. Syi’arnya sebagaimana tertuang dalam surat Al-Mulk: 15.
  10. Islam adalah agama ‘izzah bagi Allah, Rasul-Nya dan orang-orang beriman, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Qur’an surat Al-Munafiquun: 8.

Pada waktu kaum muslimin memahami segala sesuatu mengenai agama mereka, dan para pemuda tahu tabi’at dari agama ini serta ciri-ciri khasnya, maka keputus asaan tidak akan menguasai diri mereka, dan sikap pesimisme tidak akan menyelusup ke dalam hati mereka. Bahkan mereka akan terjun ke medan dakwah, islah dan bina’ untuk kembali menjadi pilar bagi dunia, para pembimbing umat dan menara api yang bercahaya dalam kegelapan hidup. Dimana umat manusia mengambil ilmu darinya dan menimba dari mata air pengetahuan mereka serta mencari penerangan dari cahaya peradaban mereka, sepanjang waktu dan masa!

2. Cinta Dunia dan Takut Mati

Pada waktu kaum muslimin:
a. Dapat membebaska diri –utamanya pada da’I dan pemuda—dari hubbud dunya, kecenderungan terhadapnya dan berlebih-lebihan dalam menikmati kelezatan dan kesenangannya. Serta menjadikan dakwah kepada manusia, ishlah masyarakat, penumbangan kaum tiran dan pemberlakuan hokum syari’at Allah sebagai tujuan paling tinggi dan sebagai pemberangkatan niat dan tekad.
b. Dapat membebaskan diri dari sifat penakut dan pengecut dan benci mati; serta meyakini dalam diri mereka bahwa rezki itu berada di tangan Allah. Bahwa yang memberi manfaat dan mudharat adalah Allah, dan bahwa apa yang mesti menimpa umat Islam tidak akan luput dari mereka dan bahwa apa yang mesti luput dari mereka tidak akan menimpa mereka. Bahwasanya umat manusia itu sekiranya berepakat untuk memberikan suatu manfaat kepada seseorang, maka mereka tidak akan dapat kecuali sesuatu yang memang telah Allah tetapkan baginya; dan sekiranya mereka bersepakat untuk memberikan suatu mudharat padanya, maka mereka tidak akan dapat, kecuali yang memang Allah telah tetapkan baginya.
c. Dapat membebaskan diri dari sebab-sebab kelemahan dan ketidakberdayaan serta memegang prinsip al-quwwah wal I’dad (kekuatan dan persiapan), berani menyatakan yang haq, teguh saat menyongsong musuh dan mengangankan mati syahid saat seruan jihad dikumandangkan.
d. Menyampaikan risalah Allah dan takut kepadanya dan tidak takut kepada siapapun kecuali kepada-Nya, dan ridha terhadap qadha dan qadar dalam setiap musibah yang menimpa mereka di jalan Allah.

Pada waktu kaum muslimin mampu membebaskan diri dari semua ini dan menapaki di atas jalan ujian, jihad dan kemenangan tanpa rasa gentar ataupun takut, maka kelak Allah akan menolong mereka, menjadikan mereka berkuasa di bumi serta menggantikan keadaan mereka yang semula berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa, yang semula hina menjadi mulia, yang semula berpecah belah menjadi bersatu, bahkan mereka akan kembali menjadi –dengan taufiq Allah—sebaik-baik umat.

3. Jahil Terhadap Tujuan Penciptaan Manusia

Pada hari dimana kaum muslimin mengentahui bahwasanya mereka diciptakan dalam kehidupan ini adalah dengan tujuan yang luhur dan maksud yang mulia, sebagaimana telah ditetapkan Allah, “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali supaya mereka beribadah kepada-Ku,” (Adz-Dzaariyaat: 56).

Akan tetapi apa sebenarnya ‘ubudiyah yang Allah perintahkan kepada kita dan apa yang Dia kehendaki dari kita?

Sesungguhnya ‘ubudiyah itu adalah:
a. Shalat, ibadah, hidup dan mati yang diperuntukkan hanya kepada Allah Rabbul alamin.
b. Memberikan wala’ yang murni kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman.
c. Menolak prinsip-prinsip dan pandangan yang tidak berdasarkan syari’at Islam.
d. Mengemban amanah dan beban yang sebelumnya ditawarkan oleh Allah kepada langit, bumi dan gunung dan mereka menolaknya, kemudi manusia menerimanya.
e. Tugas besar untuk mengeluarkan manusia dari penyembahan kepada sesame menuju penyembahan hanya kepada Allah semata dan dari sempitnya dunia menuju kelapangannya dan dari kezhaliman agama-agama kepada keadilan Islam.

Inilah tujuan seorang muslim diciptakan dalam hidup, pada saat ia menunaikan dan merealisasikan semua tujuan ini, maka dia menjadi hamba Allah.

Jika seorang muslim belum merealisasikan tujuan ini secara sempurna, dan tidak menunaikannya dengan sebaik-baiknya, maka sesungguhnya dia menjadi orang yang lalai, dipalingkan oleh hal-hal yang tidak bermanfaat, dia menjadi budak hawa nafsu, budak taghut dan budak bagi keputusasaan, kejumudan dan keloyoan, berjalan dalam kehidupan tanpa tujuan, bertindak sembrono tanpa petunjuk dan tergagap-gagap tanpa dalil. Allah berfirman:

Dan apakah orang yang mati, kemudan Kami hdupkan dia dan Kami berikan padanya cahaya yang terang; yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia adalah sama dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar darinya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang telah mereka lakukan,” (Al-An’aam: 122).

Jika demikian, maka tidak ada pilihan bagi para pemuda kecuali harus melihat dan merenungkan tabi’at agama mereka.

Dan membebaskan diri dari sifat hubbud dunya wa karahiyatul maut. Dan mengetahui tujuan mereka diciptakan dan atas dasar apa mereka ada didunia.

Sehingga mereka bangkit kembali memperjuangkan Islam serta mengembalikan kepada umat Islam kejayaannya, kemuliaannya persatuannya, khilafahnya dan kekuasaan politiknya yang matahari tidak perah terbenam daripadanya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.

Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al -‘Alaq, 2003), hlm. 290-294.