Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global: Tarbiyah Nafsiyah

(Alislamu.com) — Untuk melengkapi pembahasan sebelumnya, pada pembahasan kali ini penulis akan menjelaskan lebih detil tentang Tarbiyah Nafsiyah.

Tarbiyah Nafsiyah

Yakni membentuk pribadi manusia di atas pondasi keimanan yang koko, keikhlasan yang murni, kesabaran, kelapangan hati, keberanian, kecintaan dan persaudaraan secara imbal balik, di mana sifat-sifat terpuji ini menjadi perilaku seorang muslim, dan menjadi karakter diri dan adat kebiasaannya.

Pondasi-pondasi penting untuk membentuk watak kepribadian seorang muslim ialah:

a. Ta’miqul Iman billah (menguatkan keimanan kepada Allah)

Upaya penguatan iman kepada Allah ini dapat dilakukan dengan beberapa hal berikut:

  1. Meyakini di dalam lupuk hatinya bahwa ajal kematian itu berada di tangan Allah, bahwasanya apa yang akan menimpanya tidak akan terluput darinya, dan apa yang luput darinya tidak akan menimpanya. Firman Allah, “Katakanlah, ‘Sekali-kali tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan oleh Allah kepada kami. Dia lah pelindung kami dan hanya kepada Allah-lah orang-orang beriman harus bertawakkal’,” (At-Taubah: 51).
  2. Meyakini dalam lubuk hatinya bahwa rezki itu di tangan Allah, bahwasanya apa yang Allah berikan pada hamban-Nya tak ada seorang pun yang bisa mencegahnya, dan apa yang Allah menahan darinya, tidak ada seorangpun yang bisa memberikannya. Firman Allah Ta’ala, “Atau siapakah yang memberi kalian rezki jika Allah menahan rezkinya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri,” (Al-Mulk: 21).

b. Ta’miqul Ikhlas billah (menguatkan keikhlasan kepada Allah)

Yakni dengan senantiasa menjaga amal perbuatan supaya benar-benar murni untuk mencari keridhaan Allah, bukan untuk kepentingan diri sendiri, atau untuk mengejar ambisi pribadi, atau untuk tujuan-tujuan duniawi.

Firman Allah, “Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Na dalam menjalankan agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; yang demikian itulah agama yang lurus,” (Al-Bayyinah: 5).

Rasulullah saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak akan menerima suatu amal kecuali amal itu benar-benar ikhlas untuk mencari keridhaan-Nya,” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

c. Tauthiinun Nasf ‘alaa ash-shabri (menggembleng diri dengan kesabaran)

Yakni dengan bersabar terhadap segala musibah, cobaan dan penindasan yang menimpa dirinya. Inilah yang diutarakan oleh Al-Qur’an dengan keterangan yang gambling:

“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk Jannah, padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa malapetaka dan kesengsaraan serta digoncangkan dengan berbagai cobaan sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman yang bersamanya, ‘Bilakah pertolongan Allah datang?!’ Ingatlah sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat,” (Al-Baqarah: 214).

Maka dengan sifat sabar dan mushabarah (menguatkan kesabaran) seorang mukmin akan terbebas dari kecemasan, kegelisahan, keputus-asaan dan keterasingan. Dan dia terus menjaga sifat yang mulia dan agung ini hingga bertemu Allah atau sampai Allah memberikan pertolongan padanya.

d. Ta’dibul An-Nafs ‘alaa Al-Hilmi (melatih diri berlapang dada)

Yakni dengan cara membiasakan diri untuk menahan emosi, mengekang amarah dan mengedepankan akal pikiran jernih. Kemudian selanjutnya menyambung hubungan terhadap orang yang memutuskan hubungan dengannya, memaafkan orang yang menzhaliminya, dan berbuat baik kepada orang yang berbuat jahat terhadapnya.

Allah berfirman, “…dan orang-orang yang menahan amarah dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan,” (Ali Imran: 134).

“Bukankah orang yang kuat itu dengan gulat, akan tetapi yang dikatakan orang kuat adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah,” (HR. Imam Malik dalam Al-Muwatha’).

e. Tahliiq An-Nafs ‘alaa al-Jaraa’ati (melatih diri bersikap berani)

Yakni dengan melatih dan membiasakan diri untuk mengatakan yang benar, berlaku tulus setia kepada Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman; mengerjakan tanggung jawab untuk beramar ma’ruf nahi mungkar, tanpa menggubris di dalam menjalankan perintah Allah celaan orang yang suka mecela.

Allah berfirman, “(yaitu) orang-orang yang menyampaikan risalah-risalah Allah dan mereka takut kepada-Nya dan mereka tidak takut kepada seorangpun jua selain kepada-Nya,” (Al-Ahzaab: 39).

Maka dengan sifat yagn terpuji dan mulia ini, seorang mukmin akan terbebas dari keterasingan dan egoism, dan menyembunyikan kebenaran, dan tundung kepada kesewenang-wenangan dan dia akan menghias dirinya dengan sifat pemberani yang beretika dan menjaga perasaan umum.

f. Tathbii’u An-Nafs ‘alaa al-Mhabbatil Al-Akhariin (membiasan dan melatih diri untuk mencintai yang lain)

Yakni dengan menumbuhkan perasaan cinta terhadap setiap orang dengan dirinya, terikat dengan tali ukhuwah Islamiyah dan ikatan iman serta taqwa. Perasaan cinta yang tumbuh ini akan melahirkan pada dirinya motivasi untuk bersifat positif seperti ta’awun, itsar, penyayang dan pemaaf serta bergaul dengan benar.

Allah berfirman, “Hanyasanya orang-orang beriman itu saling bersaudara,” (Al-Hujuraat: 10).

Rasulullah saw. Bersabda, “Tidak sempurna iman seseorang di antara kalian hingga dia menyukai sesuatu untuk saudranya seperti dia menyukai untuk dirinya sendiri,” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka dengan sifat yang lurus berupa ukhuwah yang tulus dan saling cinta kasih ini, seorang mukmin dapat melepaskan diri dari noda kebencian dan permusuhan serta terbebas dari belenggu egoism dan perpecahan. Bahkan dia dapat beramal dengan ikhlas untuk orang-orang yang se-millah dengannya, hidup penuh perhatian terhadap putra0putra bangsanya dan menunaikan hak-hak, tanggung jawab dan tugas social yang diwajibkan Islam kepadanya.

Itulah pondasi-pondasi penting dalam Tarbiyah Nafsiyah untuk membentuk kepribadian manusia menurut Islam.

Sumber: Diringkas dari kitab Asy-Syabab al-Muslimu Fii Muwaajahati at-Tahaddiyaati, atau Aktivis Islam Menghadapi Tantangan Global, karya: Dr. Abdullah Nashih ‘Ulwan, terj. Abu Abu Abida al-Qudsi (Pustaka Al -‘Alaq, 2003), hlm. 230-234.