Bagaimana Hukumnya Seorang Musafir yang Merasa Berat Untuk Berpuasa?

Jawaban:

Jika puasa menyebabkan seorang musafir tersiksa, maka hukumnya makruh; karena Nabi Shallallahu Alahi wa Sallam melihat seorang laki-laki yang lemas dan orang-orang berkerumun di sekitarnya. Nabi bertanya,”Mengapa dia? “Mereka menjawab,”Berpuasa.” Beliau bersabda,”Tidak baik puasa dalam perjalanan.”

Jika seseorang merasakan berat untuk berpuasa maka dia harus berbuka, karena Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam ketika ada orang melapor kepadanya bahwa mereka merasa keberatan untuk berpuasa maka beliau berbuka, kemudian dikatakan kepadanya,”Sesungguhnya sebagian orang masih ada yang tetap berpuasa.”Beliau bersabda, “Mereka adalah para pembangkang dan mereka adalah para pembangkang.”

Sedangkan orang yang tidak merasa keberatan untuk berpuasa, sebaiknya dia berpuasa seperti Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam, karena beliau juga pernah berpuasa pada waktu dalam perjalanan, seperti yang dikatakan oleh Abu Darda’ Radhiyallahu Anhu, “Kami pernah keluar bersama Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam di bulan Ramadhan dalam cuaca yang panas terik sehingga ada sebagian dari kami yang terpaksa meletakkan tangan di atas kepala untuk berlindung dari panas matahari. Di kalangan kami tidak ada yang berpuasa selain Rasulullah Shallallahu Alahi wa Sallam dan Abdullah bin Rawahah.”(Muttafaq ‘Alaihi).

Sumber: Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin, Fatawa Arkaanil Islam atau Tuntunan Tanya Jawab Akidah, Shalat, Zakat, Puasa, dan Haji, terj. Munirul Abidin, M.Ag. (Darul Falah 1426 H.), hlm. 484