Kedelapan: Tazkiyah Membutuhkan Ilmu
Tazkiyah tidak dapat berjalan hanya dengan perasaan. Seseorang harus mengetahui apa yang dicintai Allah, apa yang dibenci Allah, mana yang benar, dan mana yang salah.
Karena itu, tazkiyah selalu membutuhkan التَّعْلِيم (taklim).
Rasulullah ﷺ tidak hanya يُزَكِّيهِمْ, menyucikan mereka, tetapi juga يُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ, mengajarkan Al-Kitab dan Al-Hikmah.
Dengan demikian:
Tilawah membangunkan hati.
Tazkiyah membersihkan hati.
Taklim membimbing hati dan akal agar memahami jalan Allah.
Ketiganya tidak dapat dipisahkan.
Kesembilan: Tazkiyah dan Bashirah
Tujuan besar tazkiyah bukan hanya menjadikan manusia berakhlak baik. Tazkiyah juga mempersiapkan hati agar mampu melihat kebenaran dengan lebih jernih.
Inilah hubungan antara تَزْكِيَة dan بَصِيرَة, bashirah.
Ketika hati tertutup oleh hawa nafsu, kesombongan, cinta dunia, dan dosa, maka manusia dapat melihat kebenaran tetapi tidak menerimanya, mendengar ayat tetapi tidak tersentuh, serta mengetahui ilmu tetapi tidak berubah.
Namun, ketika hati dibersihkan, cahaya wahyu semakin mudah masuk.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
﴿فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾
“Sesungguhnya bukan mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang berada di dalam dada.”
(QS. Al-Ḥajj [22]: 46)
Kebutaan hati merupakan salah satu penghalang terbesar terhadap bashirah. Karena itu, tazkiyah adalah usaha untuk membersihkan penghalang-penghalang tersebut.
Kesepuluh: Tazkiyah Membutuhkan Kesabaran dan Istiqamah
Tazkiyah tidak terjadi dalam satu hari. Penyakit hati sering kali tumbuh bertahun-tahun. Karena itu, membersihkannya membutuhkan kesabaran, pengulangan, muhasabah, dan istiqamah.
Seseorang mungkin telah bertaubat, kemudian ia diuji kembali. Ia mungkin telah berhasil mengalahkan kesombongan, kemudian datang pujian yang membangkitkan kesombongan baru. Ia mungkin telah berusaha ikhlas, kemudian datang keinginan untuk dilihat manusia.
Karena itu, tazkiyah adalah مُجَاهَدَةٌ مُسْتَمِرَّةٌ, perjuangan yang terus-menerus.
Rasulullah ﷺ mengajarkan umatnya untuk selalu memohon keteguhan hati. Sebab hati manusia berada dalam keadaan yang dapat berubah. Maka seorang hamba tidak boleh merasa aman terhadap dirinya sendiri.
Buah Keimanan kepada Kaidah Keenam
Memahami kaidah ini akan melahirkan beberapa sikap.
1. Semangat Memperbaiki Diri
Seorang mukmin tidak hanya sibuk melihat kesalahan orang lain. Ia memulai dengan memperbaiki dirinya.
2. Tawadhu’
Semakin seseorang melakukan tazkiyah, semakin ia menyadari kelemahannya. Ia tidak merasa dirinya telah suci.
3. Kesungguhan Melawan Hawa Nafsu
Ia memahami bahwa nafsu harus dididik, bukan selalu diikuti.
4. Ketergantungan kepada Allah
Ia berusaha menyucikan diri, tetapi ia tetap berdoa: “Ya Allah, sucikanlah hati dan jiwa saya.”
5. Kesabaran dalam Perubahan
Ia tidak putus asa ketika masih menemukan kelemahan dalam dirinya. Ia terus bertaubat, belajar, beramal, dan kembali kepada Allah.
Bantahan terhadap Jabariyah
Kaidah ini membantah pemahaman yang mengatakan: “Jika Allah menghendaki saya menjadi baik, saya akan menjadi baik. Saya tidak perlu berusaha.”
Allah berfirman:
﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا﴾
Manusia diperintahkan untuk melakukan usaha penyucian jiwa.
Karena itu, meninggalkan mujahadah dengan alasan takdir merupakan pemahaman yang keliru.
Bantahan terhadap Qadariyah dan Kesombongan Spiritual
Sebaliknya, manusia tidak boleh berkata: “Saya mampu menyucikan diri saya dengan kekuatan saya sendiri.”
Allah berfirman:
﴿وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ﴾
Kesucian sejati merupakan karunia Allah.
Usaha manusia tidak boleh berubah menjadi kesombongan. Semakin seseorang berusaha memperbaiki dirinya, semakin ia membutuhkan تَوْفِيقُ اللَّهِ, taufik Allah.
Kesimpulan Kaidah Emas Keenam
Kaidah ini dapat dirumuskan:
Manusia diperintahkan untuk melakukan tazkiyah dan berusaha membersihkan jiwanya. Tazkiyah dilakukan melalui muhasabah, mujahadah, taubat, tilawah, ilmu, dan amal saleh.
Namun manusia tidak dapat menyucikan dirinya sendiri tanpa karunia dan taufik Allah سبحانه وتعالى.
Karena itu, tazkiyah yang benar melahirkan dua perkara sekaligus: kesungguhan dalam berusaha dan kerendahan hati di hadapan Allah.
Pada akhirnya, manusia berusaha membersihkan hati, namun Allah yang memberikan cahaya kepada hati.
Manusia melakukan المُجَاهَدَة, perjuangan. Allah memberikan التَّوْفِيق, taufik.
Manusia berusaha membuka pintu hatinya. Namun, Allah-lah yang memasukkan cahaya hidayah ke dalam hati tersebut.
Dan ketika hati menerima wahyu, dibersihkan melalui tazkiyah, dibimbing oleh ilmu, serta dikuatkan dengan taufik Allah, maka akan lahir بَصِيرَةٌ, bashirah.
Bashirah inilah yang akan menjadi pembahasan penting dalam Kaidah Emas Ketujuh, karena bashirah merupakan salah satu buah terbesar dari pertemuan antara هِدَايَة (hidayah), تَزْكِيَة (tazkiyah), dan نُورُ الْوَحْيِ (cahaya wahyu).