Pendahuluan
Setelah memahami bahwa manusia memiliki kehendak dan kemampuan yang berada di bawah kehendak dan kekuasaan Allah سبحانه وتعالى, maka kita sampai kepada salah satu persoalan yang paling mendasar dalam perjalanan seorang hamba menuju Allah, yaitu:
«الهِدَايَةُ»
Hidayah.
Tidak ada kenikmatan yang lebih besar bagi manusia daripada mengetahui jalan kebenaran, mencintainya, kemudian diberi kekuatan untuk berjalan di atasnya.
Sebab manusia dapat memiliki:
- akal yang cerdas;
- ilmu yang luas;
- pengalaman yang banyak;
- dan kemampuan yang besar;
namun semua itu belum tentu menjadikannya berada di atas jalan yang benar.
Karena itu, manusia membutuhkan:
«نُورُ الْهِدَايَةِ»
cahaya petunjuk.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿اللَّهُ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ﴾»
“Allah adalah cahaya langit dan bumi.” QS. An-Nūr [24]: 35
Cahaya hidayah merupakan karunia Allah yang dengannya manusia mampu melihat:
- yang benar sebagai kebenaran;
- yang batil sebagai kebatilan;
- jalan keselamatan;
- serta jalan yang membawa kepada kebinasaan.
Namun Al-Qur’an juga menunjukkan bahwa manusia tidak diperintahkan untuk duduk diam menunggu hidayah.
Manusia diperintahkan untuk:
- mencari kebenaran;
- mendengarkan wahyu;
- menggunakan akal;
- membersihkan hati;
- bertaubat;
- berdoa;
- dan mengikuti petunjuk Allah.
Karena itu, hubungan antara:
«هِدَايَةُ اللَّهِ»
hidayah dari Allah,
dan:
«سَعْيُ الْإِنْسَانِ»
usaha manusia,
harus dipahami secara benar.
Pertama: Hidayah Berasal dari Allah
Dasar pertama yang harus diyakini adalah bahwa hidayah berada di tangan Allah سبحانه وتعالى.
Allah berfirman kepada Rasulullah ﷺ:
«﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾»
“Sesungguhnya engkau tidak dapat memberi hidayah kepada orang yang engkau cintai, tetapi Allah memberi hidayah kepada siapa yang Dia kehendaki.” QS. Al-Qaṣaṣ [28]: 56
Ayat ini merupakan salah satu dalil paling jelas tentang hakikat hidayah.
Rasulullah ﷺ adalah manusia yang paling sempurna dalam:
- dakwah;
- kasih sayang;
- kesabaran;
- dan keinginan agar manusia memperoleh keselamatan.
Namun beliau tidak mampu memasukkan hidayah ke dalam hati manusia.
Beliau dapat:
- menyampaikan;
- menjelaskan;
- membacakan wahyu;
- memberikan teladan;
tetapi terbukanya hati tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Dari sini kita memahami bahwa terdapat perbedaan antara:
«الدَّلَالَةُ وَالْإِرْشَادُ»
“menunjukkan dan membimbing kepada jalan,”
dengan:
«التَّوْفِيقُ وَالْإِلْهَامُ»
“memberikan taufik dan menjadikan hati menerima jalan tersebut.”
Rasulullah ﷺ melakukan:
«الدَّلَالَةُ وَالْإِرْشَادُ»
Sedangkan Allah سبحانه وتعالى memberikan:
«التَّوْفِيقُ»
“taufik.”
Kedua: Al-Qur’an adalah Sumber Hidayah
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿ذَٰلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ﴾»
“Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.” QS. Al-Baqarah [2]: 2
Allah juga berfirman:
«﴿إِنَّ هَٰذَا الْقُرْآنَ يَهْدِي لِلَّتِي هِيَ أَقْوَمُ﴾»
“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberikan petunjuk kepada jalan yang paling lurus.” QS. Al-Isrā’ [17]: 9
Dengan demikian, Al-Qur’an adalah:
«كِتَابُ الْهِدَايَةِ»
“kitab petunjuk.”
Namun seseorang dapat membaca Al-Qur’an tanpa memperoleh pengaruh yang semestinya.
Mengapa?
Karena hidayah tidak hanya berkaitan dengan hadirnya wahyu di hadapan manusia.
Hidayah juga berkaitan dengan:
- kesiapan hati;
- kerendahan diri;
- kesediaan menerima kebenaran;
- dan kejujuran dalam mencari jalan Allah.
Al-Qur’an yang sama dapat menjadi:
«هُدًى»
petunjuk bagi satu orang,
tetapi menjadi sebab bertambahnya penolakan bagi orang lain yang telah memilih kesombongan dan berpaling.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلَّا خَسَارًا﴾»
“Kami turunkan dari Al-Qur’an sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang beriman, sedangkan bagi orang-orang zalim tidak menambah kecuali kerugian.” QS. Al-Isrā’ [17]: 82
Ini menunjukkan bahwa persoalan hidayah tidak hanya berkaitan dengan:
“Apakah wahyu telah sampai?”
Tetapi juga:
“Bagaimana hati menerima wahyu?”
Ketiga: Manusia Diperintahkan untuk Mencari Jalan Hidayah
Walaupun hidayah berasal dari Allah, manusia tetap diperintahkan untuk mencari jalan menuju-Nya.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا﴾»
“Orang-orang yang bersungguh-sungguh berjuang di jalan Kami, sungguh Kami akan tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.” QS. Al-‘Ankabūt [29]: 69
Ayat ini menunjukkan hubungan antara:
«مُجَاهَدَة»
kesungguhan perjuangan,
dan:
«هِدَايَة»
hidayah.
Manusia diperintahkan untuk:
- bersungguh-sungguh;
- mencari;
- belajar;
- meninggalkan kesombongan;
- melawan hawa nafsu;
- dan kembali kepada Allah.
Kemudian Allah menjanjikan hidayah.
Ayat ini tidak berarti bahwa manusia dapat membeli hidayah dengan amalnya.
Hidayah tetap merupakan karunia Allah.
Namun Allah telah menetapkan bahwa salah satu jalan menuju hidayah adalah:
«الْمُجَاهَدَةُ»
kesungguhan dalam mencari dan menjalankan kebenaran.
Keempat: Hidayah Membutuhkan Kehendak untuk Menerima Kebenaran
Di sinilah hubungan antara:
«إِرَادَة»
kehendak,
dan:
«هِدَايَة»
hidayah.
Seseorang mungkin mendengar kebenaran.
Tetapi belum tentu ia ingin menerimanya.
Ia mungkin mengetahui dalil.
Namun hawa nafsunya menolak.
Ia mungkin memahami kebenaran.
Namun kesombongannya menghalangi.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿سَأَصْرِفُ عَنْ آيَاتِيَ الَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِي الْأَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ﴾»
“Aku akan memalingkan dari ayat-ayat-Ku orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar.” QS. Al-A‘rāf [7]: 146
Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu penghalang terbesar hidayah adalah:
«الْكِبْر»
kesombongan.
Karena itu, manusia harus mempersiapkan hatinya untuk menerima hidayah.
Ia harus memiliki:
- kerendahan hati;
- kejujuran;
- keberanian mengakui kesalahan;
- dan kesediaan mengikuti kebenaran.
Hidayah bukan sekadar:
«mengetahui.»
Hidayah juga berarti:
«menerima;»
kemudian:
«berjalan di atas kebenaran.»
Kelima: Hidayah Bertambah dengan Iman dan Amal
Hidayah bukan sesuatu yang selalu berhenti pada satu tingkat.
Seorang manusia dapat:
«bertambah hidayahnya,»
dan dapat pula:
«kehilangan sebagian hidayah karena berpaling.»
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى وَآتَاهُمْ تَقْوَاهُمْ﴾»
“Orang-orang yang telah mendapat petunjuk, Allah menambah kepada mereka petunjuk dan memberikan kepada mereka ketakwaan.” QS. Muḥammad [47]: 17
Ini adalah salah satu prinsip yang sangat penting.
Hidayah memiliki sifat:
«يَزِيدُ»
bertambah.
Seseorang yang menerima kebenaran kemudian mengamalkannya akan memperoleh tambahan petunjuk.
Sebaliknya, seseorang yang mengetahui kebenaran tetapi terus-menerus menolaknya dapat mengalami semakin tertutupnya hati.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿فَلَمَّا زَاغُوا أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ﴾»
“Maka ketika mereka berpaling, Allah memalingkan hati mereka.” QS. Aṣ-Ṣaff [61]: 5
Urutan ayat ini sangat penting.
«زَاغُوا»
“Mereka berpaling.”
Kemudian:
«أَزَاغَ اللَّهُ قُلُوبَهُمْ»
“Allah memalingkan hati mereka.”
Di sini terdapat hubungan antara:
- pilihan manusia untuk berpaling;
- dan hukuman berupa berpalingnya hati.
Karena itu, seseorang harus berhati-hati.
Jangan pernah meremehkan penolakan terhadap kebenaran.
Sebab penolakan yang terus-menerus dapat berubah menjadi:
«قَسْوَةُ الْقَلْب»
kerasnya hati.