Keenam: Iradah Manusia Berhubungan dengan Ujian
Kehidupan dunia adalah:
«دَارُ الِابْتِلَاءِ»
tempat ujian.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا﴾»
“Dialah yang menciptakan kematian dan kehidupan untuk menguji kalian, siapa di antara kalian yang paling baik amalnya.” (QS. Al-Mulk [67]: 2)
Ujian memiliki makna apabila manusia berada dalam keadaan:
- diperintah;
- dilarang;
- diberi kemampuan;
- dan diuji melalui pilihannya.
Manusia diberikan:
- akal;
- hati;
- pendengaran;
- penglihatan;
- dan kemampuan.
Kemudian manusia diuji:
Bagaimana ia menggunakan semua pemberian tersebut?
Apakah digunakan untuk mendekat kepada Allah?
Ataukah digunakan untuk berpaling dari-Nya?
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولًا﴾»
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isrā’ [17]: 36)
Ayat ini menunjukkan bahwa manusia bertanggung jawab atas bagaimana ia menggunakan kemampuan yang diberikan kepadanya.
Ketujuh: Kehendak Manusia Tidak Boleh Menjadi Sumber Kesombongan
Salah satu bahaya dalam memahami kebebasan manusia adalah munculnya perasaan: “Saya berhasil karena kekuatan saya sendiri.”
Pemikiran seperti ini bertentangan dengan hakikat keberadaan manusia.
Seorang manusia tidak dapat memilih:
- kapan ia dilahirkan;
- siapa orang tuanya;
- kemampuan dasar yang dimilikinya;
- berbagai keadaan yang mengelilinginya;
- dan berapa lama ia akan hidup.
Bahkan banyak hal yang menjadi dasar keberhasilannya tidak pernah ia ciptakan sendiri.
Karena itu, seorang mukmin ketika melakukan kebaikan tidak mengatakan: “Saya berhasil dengan kekuatan saya.”
Tetapi ia menyadari bahwa:
- ia berusaha;
- ia memilih;
- ia mengambil sebab;
namun kemampuan dan taufik berasal dari Allah.
Inilah makna yang terkandung dalam pengakuan:
«لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللَّهِ»
“Tidak ada daya dan tidak ada kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah.”
Kedelapan: Kehendak yang Benar Harus Diarahkan
Tidak semua kehendak manusia membawa kepada kebaikan.
Manusia memiliki:
«هَوَى»
hawa nafsu.
Manusia juga memiliki:
«شَهَوَات»
keinginan-keinginan.
Oleh karena itu, kehendak manusia memerlukan:
«هِدَايَة»
petunjuk.
Seseorang dapat menghendaki sesuatu.
Namun, apa yang diinginkannya belum tentu baik.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ﴾»
“Boleh jadi kalian membenci sesuatu padahal itu baik bagi kalian, dan boleh jadi kalian menyukai sesuatu padahal itu buruk bagi kalian. Allah mengetahui, sedangkan kalian tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah [2]: 216)
Karena itu, manusia tidak cukup hanya mengikuti apa yang diinginkan. Kehendak manusia harus dididik dan diarahkan oleh wahyu.
Di sinilah pentingnya:
«تِلَاوَة»
tilawah,
«تَزْكِيَة»
tazkiyah,
dan:
«تَعْلِيم»
taklim.
Tilawah memberikan cahaya wahyu. Tazkiyah membersihkan penyakit yang menghalangi hati.
Taklim memberikan pemahaman agar manusia dapat membedakan antara:
- yang benar dan salah;
- yang bermanfaat dan membahayakan;
- yang diridhai Allah dan yang dimurkai-Nya.
Dengan demikian, kehendak manusia yang semula mungkin mengikuti hawa nafsu dapat berubah menjadi:
«إِرَادَةٌ مُوَجَّهَةٌ بِالْوَحْيِ»
kehendak yang diarahkan oleh wahyu.
Kesembilan: Hubungan Iradah Manusia dengan Hidayah
Inilah titik yang akan membawa pembahasan kita kepada kaidah berikutnya.
Manusia memiliki kehendak. Tetapi kehendak manusia membutuhkan hidayah.
Manusia dapat memilih. Tetapi ia membutuhkan cahaya untuk mengetahui jalan yang benar.
Seseorang dapat memiliki keinginan untuk menjadi baik. Namun, ia tetap membutuhkan:
- ilmu;
- taufik;
- keteguhan;
- dan pertolongan Allah.
Karena itu, seorang mukmin tidak hanya berkata: “Saya ingin berubah.”
Tetapi ia berdoa kepada Allah agar diberikan:
«الهِدَايَة»
hidayah,
dan:
«التَّوْفِيق»
taufik.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾»
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” (QS. Al-Fātiḥah [1]: 6)
Doa ini dibaca oleh seorang mukmin berulang kali dalam shalat.
Mengapa orang yang telah beriman masih memohon hidayah?
Karena manusia membutuhkan hidayah:
- untuk mengetahui jalan yang benar;
- untuk mencintai kebenaran;
- untuk mampu menjalankannya;
- dan untuk tetap istiqamah di atasnya.
Buah Keimanan kepada Kaidah Keempat
Memahami kaidah ini akan melahirkan beberapa sikap besar.
1. Tanggung Jawab
Manusia tidak dapat menjadikan takdir sebagai alasan untuk meninggalkan kewajiban.
Ia memiliki kehendak dan kemampuan yang harus digunakan dengan benar.
2. Kerendahan Hati
Manusia tidak merasa mandiri.
Ia menyadari bahwa kemampuan berasal dari Allah.
3. Kesungguhan Berusaha
Manusia menggunakan kemampuan yang diberikan Allah untuk:
- belajar;
- bekerja;
- beribadah;
- dan memperbaiki diri.
4. Tawakal
Setelah berusaha, manusia menyerahkan hasil kepada Allah.
5. Doa Memohon Taufik
Manusia tidak hanya mengandalkan kehendaknya.
Ia selalu memohon agar Allah:
- membimbing;
- menguatkan;
- dan menetapkan hatinya.
Bantahan terhadap Jabariyah
Kaidah ini membantah pandangan yang menjadikan manusia seperti makhluk tanpa kehendak.
Al-Qur’an secara jelas menetapkan:
«لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ»
“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki untuk menempuh jalan yang lurus.”
Manusia memiliki kehendak.
Karena itu, ia diperintah dan dilarang.
Bantahan terhadap Qadariyah
Kaidah ini juga membantah pandangan yang menjadikan kehendak manusia berdiri sendiri.
Allah berfirman:
«﴿وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ﴾»
Kehendak manusia berada di bawah kehendak Allah.
Manusia tidak mandiri.
Kemampuan dan kesempatan yang dimilikinya merupakan ciptaan dan karunia Allah.
Kesimpulan Kaidah Emas Keempat
Kaidah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
- Allah menciptakan manusia beserta kemampuan dan kehendaknya.
- Manusia benar-benar memiliki kehendak dan pilihan.
- Kehendak manusia tidak berdiri sendiri, tetapi berada di bawah kehendak Allah.
- Manusia menggunakan kemampuan yang Allah berikan untuk memilih dan melakukan amal.
- Karena itu, manusia tetap bertanggung jawab atas amalnya.
- Namun manusia tidak boleh sombong karena kemampuan dan taufik berasal dari Allah.
Pada titik inilah pembahasan qadar mulai bertemu secara langsung dengan pembahasan:
«هِدَايَة»
hidayah.
Manusia memiliki kehendak.
Tetapi:
Kehendak membutuhkan petunjuk.
Manusia memiliki kemampuan.
Tetapi:
Kemampuan membutuhkan taufik.
Manusia dapat memilih.
Tetapi:
Pilihan membutuhkan cahaya untuk membedakan jalan yang benar dan salah.