Keenam: Hidayah Memerlukan Doa
Salah satu bukti bahwa hidayah adalah karunia Allah adalah kewajiban seorang mukmin untuk terus memohon hidayah.
Setiap hari, dalam setiap rakaat shalat, seorang Muslim membaca:
«﴿اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ﴾»
“Tunjukilah kami jalan yang lurus.” QS. Al-Fātiḥah [1]: 6
Pertanyaannya:
Mengapa orang yang telah beriman masih meminta hidayah?
Jawabannya:
Karena hidayah bukan hanya:
«mengetahui jalan.»
Hidayah meliputi:
- mengetahui kebenaran;
- mencintai kebenaran;
- memilih kebenaran;
- mampu mengamalkan kebenaran;
- istiqamah di atas kebenaran.
Seorang manusia mungkin mengetahui kebenaran tetapi tidak mencintainya.
Ia mungkin mencintainya tetapi lemah dalam menjalankannya. Ia mungkin mengamalkannya tetapi belum tentu istiqamah. Karena itu, manusia membutuhkan hidayah setiap hari.
Ketujuh: Hidayah dan Taufik
Perlu dibedakan antara:
«الْهِدَايَة»
hidayah,
dan:
«التَّوْفِيق»
taufik.
Secara umum, hidayah menunjukkan:
«jalan dan petunjuk.»
Sedangkan taufik menunjukkan:
«pertolongan Allah sehingga manusia mampu menjalankan jalan tersebut.»
Seseorang mungkin mengetahui bahwa shalat adalah kewajiban.
Namun ia membutuhkan taufik untuk:
- menjaga shalat;
- khusyuk;
- dan istiqamah.
Seseorang mungkin mengetahui bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk.
Namun ia membutuhkan taufik untuk:
- membacanya;
- mentadabburinya;
- dan mengamalkannya.
Karena itu, manusia membutuhkan:
«الْعِلْم»
ilmu,
dan:
«التَّوْفِيق»
taufik.
Ilmu menunjukkan jalan.
Taufik memberikan kekuatan untuk berjalan.
Kedelapan: Hubungan Hidayah dengan Tazkiyah
Di sinilah kita mulai memasuki salah satu poros utama buku ini. Hidayah membutuhkan hati yang bersedia menerima kebenaran.
Namun hati manusia dapat tertutup oleh:
- dosa;
- kesombongan;
- hawa nafsu;
- kecintaan yang berlebihan kepada dunia;
- dan berbagai penyakit hati.
Karena itu, proses:
«التَّزْكِيَة»
tazkiyah,
menjadi bagian penting dalam perjalanan menuju hidayah.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا﴾»
“Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” QS. Asy-Syams [91]: 9–10
Tazkiyah membantu manusia untuk:
- membersihkan hati;
- mengurangi pengaruh hawa nafsu;
- menundukkan kesombongan;
- dan mempersiapkan jiwa menerima cahaya wahyu.
Di sinilah terdapat hubungan yang sangat kuat:
«Iradah → Hidayah → Tazkiyah → Bashirah»
Kehendak manusia harus diarahkan. Kemudian ia mencari hidayah. Hidayah harus dijaga melalui tazkiyah.
Dan ketika hati semakin bersih dan menerima cahaya wahyu, lahirlah:
«بَصِيرَة»
bashirah.
Kesembilan: Hidayah Harus Dijaga
Mendapatkan hidayah bukan akhir perjalanan.
Hidayah harus dijaga.
Karena itu, orang-orang beriman berdoa:
«﴿رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا﴾»
“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau memberikan hidayah kepada kami.” QS. Āli ‘Imrān [3]: 8
Doa ini menunjukkan bahwa seorang mukmin tidak merasa aman hanya karena dirinya telah mendapatkan hidayah.
Ia tetap takut:
- hatinya berubah;
- hawa nafsunya kembali menguasai;
- dan dirinya berpaling dari jalan Allah.
Karena itu, ia terus:
- berdoa;
- belajar;
- membaca Al-Qur’an;
- beramal;
- bertaubat;
- dan menjaga lingkungan yang baik.
Buah Keimanan kepada Kaidah Kelima
Memahami kaidah ini melahirkan beberapa sikap penting.
1. Tidak Sombong dengan Hidayah
Seseorang yang mendapatkan hidayah tidak boleh merasa lebih hebat daripada orang lain. Ia harus menyadari bahwa hidayah adalah karunia Allah.
2. Bersungguh-sungguh Mencari Kebenaran
Hidayah berasal dari Allah. Namun manusia tetap diperintahkan untuk mencari dan bersungguh-sungguh.
3. Tidak Menolak Kebenaran karena Hawa Nafsu
Ketika kebenaran datang, seorang mukmin belajar merendahkan dirinya.
Ia bertanya:
«“Apakah ini benar menurut Allah?”»
Bukan:
«“Apakah ini sesuai dengan keinginan saya?”»
4. Memperbanyak Doa
Karena hidayah berada di tangan Allah, seorang mukmin terus memohon agar diberikan:
- petunjuk;
- taufik;
- keteguhan;
- dan keselamatan.
5. Melakukan Tazkiyah
Seseorang tidak cukup mencari ilmu. Ia juga harus membersihkan hati. Sebab ilmu tanpa penyucian jiwa dapat menjadi pengetahuan yang tidak membawa kepada perubahan.
Bantahan terhadap Jabariyah
Pemahaman Jabariyah dapat berkata:
«“Jika Allah memberi hidayah, saya akan mendapat hidayah. Jika tidak, saya tidak dapat melakukan apa-apa.”»
Pemahaman ini bertentangan dengan perintah Al-Qur’an untuk:
- mencari;
- berjuang;
- berdoa;
- bertaubat;
- dan menerima kebenaran.
Allah berfirman:
«﴿وَالَّذِينَ جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا﴾»
Allah menghubungkan hidayah dengan kesungguhan manusia.
Bantahan terhadap Qadariyah
Sebaliknya, manusia tidak dapat menganggap bahwa dirinya memperoleh hidayah hanya dengan kekuatannya sendiri.
Hidayah bukan hasil dari kecerdasan semata.
Bukan pula hasil dari kemampuan manusia tanpa pertolongan Allah.
Karena itu, Allah berfirman kepada Rasul-Nya ﷺ:
«﴿إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ يَهْدِي مَنْ يَشَاءُ﴾»
Hidayah taufik tetap berada di tangan Allah سبحانه وتعالى.
Kesimpulan Kaidah Emas Kelima
Kaidah ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
«Hidayah adalah karunia dan taufik dari Allah سبحانه وتعالى.»
«Manusia tidak mampu memberikan hidayah kepada dirinya sendiri tanpa pertolongan Allah.»
«Namun manusia tetap diperintahkan untuk mencari, menerima, dan mengikuti jalan kebenaran.»
«Kesungguhan dalam mencari kebenaran merupakan salah satu jalan yang Allah jadikan untuk memperoleh hidayah.»
«Hidayah dapat bertambah dengan iman dan amal, serta dapat terhalang oleh kesombongan dan keberpalingan.»
«Karena itu, manusia harus terus memohon hidayah dan menjaga hatinya melalui iman, amal, doa, dan tazkiyah.»
Dengan demikian, perjalanan seorang hamba menuju Allah dapat digambarkan:
«إِرَادَةٌ صَادِقَةٌ
Kehendak yang tulus mencari Allah.»
Kemudian:
«هِدَايَةٌ مِنَ اللَّهِ
Petunjuk dari Allah.»
Kemudian:
«تَزْكِيَةٌ لِلنَّفْسِ
Penyucian jiwa.»
Hingga akhirnya:
«بَصِيرَةٌ فِي الْقَلْبِ
Lahir bashirah dalam hati.»