Pendahuluan
Setelah memahami bahwa ilmu Allah yang azali dan penulisan takdir tidak menghapus tanggung jawab manusia, pembahasan berikutnya adalah tentang hakikat:
«إِرَادَةُ الْإِنْسَانِ»
“Kehendak manusia.”
Persoalan ini merupakan salah satu titik paling penting dalam pembahasan qadha dan qadar.
Sebab, seluruh amal manusia berkaitan dengan:
- kehendak;
- pilihan;
- niat;
- kemampuan;
- dan tindakan.
Ketika manusia melakukan suatu perbuatan, apakah ia benar-benar menghendakinya?
Apabila manusia memiliki kehendak, apakah kehendak tersebut berdiri sendiri?
Dan apabila Allah menciptakan manusia beserta kehendaknya, apakah manusia masih dapat dimintai pertanggungjawaban?
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Al-Qur’an memberikan jalan yang seimbang.
Al-Qur’an tidak menafikan kehendak manusia.
Namun, Al-Qur’an juga tidak menjadikan kehendak manusia sebagai kehendak yang berdiri sendiri di luar kehendak Allah.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَسْتَقِيمَ﴾»
“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki untuk menempuh jalan yang lurus.” (QS. At-Takwīr [81]: 28)
Ayat ini menetapkan:
«لِمَنْ شَاءَ مِنْكُمْ»
“Bagi siapa di antara kalian yang menghendaki.”
Artinya, manusia memiliki:
«مَشِيئَة»
kehendak.
Namun, Allah سبحانه وتعالى melanjutkan:
«﴿وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ﴾»
“Dan kalian tidak dapat menghendaki kecuali apabila Allah, Tuhan seluruh alam, menghendaki.” (QS. At-Takwīr [81]: 29)
Dua ayat ini harus dipahami secara bersamaan. Ayat pertama menetapkan kehendak manusia. Ayat kedua menetapkan bahwa kehendak manusia tidak keluar dari kehendak Allah.
Inilah salah satu fondasi terpenting dalam memahami:
«إِرَادَةُ الْإِنْسَانِ»
kehendak manusia.
Pertama: Manusia Benar-Benar Memiliki Kehendak
Al-Qur’an berbicara kepada manusia dengan bahasa:
- perintah;
- larangan;
- pilihan;
- pahala;
- dan hukuman.
Semua itu menunjukkan bahwa manusia bukan benda mati.
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿فَمَنْ شَاءَ اتَّخَذَ إِلَىٰ رَبِّهِ مَآبًا﴾»
“Maka barang siapa menghendaki, hendaklah ia mengambil jalan kembali kepada Tuhannya.” (QS. Al-Insān [76]: 29)
Allah juga berfirman:
«﴿فَمَنْ شَاءَ ذَكَرَهُ﴾»
“Maka barang siapa menghendaki, niscaya ia mengambil pelajaran darinya.” (QS. ‘Abasa [80]: 12)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki:
- keinginan;
- kecenderungan;
- pilihan;
- dan keputusan.
Seseorang memilih untuk:
- beriman atau berpaling;
- taat atau bermaksiat;
- jujur atau berdusta;
- belajar atau meninggalkan ilmu;
- bertaubat atau terus berada dalam dosa.
Dalam seluruh pilihan tersebut, manusia benar-benar memiliki:
«قَصْد»
tujuan,
dan:
«إِرَادَة»
kehendak.
Karena itu, manusia dimintai pertanggungjawaban.
Kedua: Kehendak Manusia Tidak Berdiri Sendiri
Walaupun manusia memiliki kehendak, kehendaknya bukan kehendak yang mandiri.
Manusia tidak menciptakan dirinya sendiri.
Manusia tidak menciptakan:
- akalnya;
- hatinya;
- tubuhnya;
- kemampuan berpikirnya;
- dan kemampuan bergeraknya.
Semuanya merupakan ciptaan Allah سبحانه وتعالى.
Demikian pula, manusia tidak dapat mewujudkan seluruh apa yang diinginkannya. Seseorang dapat menginginkan sesuatu. Namun, belum tentu ia mampu melakukannya.
Ia dapat:
- menginginkan perjalanan, tetapi terhalang sakit;
- menginginkan pekerjaan, tetapi kesempatan belum tersedia;
- menginginkan sesuatu, tetapi waktunya belum tiba.
Hal ini menunjukkan bahwa:
«Kehendak manusia bukan kekuasaan mutlak.»
Manusia memiliki kehendak.
Namun, kemampuan mewujudkan kehendak tersebut berada di bawah:
«قُدْرَةُ اللَّهِ»
kekuasaan Allah.
Karena itu, manusia dapat:
«يُرِيدُ»
menghendaki,
tetapi tidak selalu:
«يَقْدِرُ»
mampu mewujudkan.
Ketiga: Allah Menciptakan Manusia dan Kemampuannya
Allah سبحانه وتعالى berfirman:
«﴿وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ﴾»
“Allah menciptakan kalian dan apa yang kalian kerjakan.” (QS. Aṣ-Ṣāffāt [37]: 96)
Ayat ini menjadi salah satu dasar penting bahwa manusia dan seluruh kemampuan yang ada padanya berada dalam penciptaan Allah سبحانه وتعالى.
Manusia memiliki kemampuan untuk:
- bergerak;
- berbicara;
- berpikir;
- memilih;
- dan berusaha.
Namun, seluruh kemampuan tersebut adalah pemberian Allah.
Oleh sebab itu, ketika seseorang melakukan kebaikan, ia tidak boleh merasa bahwa dirinya mandiri dari Allah. Kemampuan untuk melakukan kebaikan pun merupakan nikmat dan taufik dari Allah سبحانه وتعالى.
Karena itu, seorang mukmin senantiasa memohon:
«اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ»
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, mensyukuri-Mu, dan memperbaiki ibadah kepada-Mu.”
Doa ini menunjukkan bahwa seorang hamba:
- beramal;
- berusaha;
- dan beribadah,
tetapi tetap memohon pertolongan Allah agar mampu melakukannya.
Keempat: Allah Menciptakan Kemampuan, tetapi Manusia Menggunakan Kemampuan Itu
Di sinilah keseimbangan yang harus dijaga.
Allah menciptakan:
- manusia;
- kemampuan;
- kehendak;
- kesempatan;
- dan berbagai sebab.
Namun, manusia menggunakan kemampuan yang diberikan kepadanya. Seseorang diberikan kemampuan untuk berbicara.
Ia dapat menggunakan lisannya untuk:
- berkata benar;
- berdzikir;
- menasihati;
- atau berdusta dan menyakiti.
Kemampuan berbicara berasal dari Allah.
Tetapi pilihan penggunaan kemampuan tersebut berkaitan dengan manusia.
Seseorang diberikan kemampuan untuk berjalan.
Ia dapat berjalan menuju:
- masjid;
- majelis ilmu;
- tempat kebaikan;
atau menuju tempat kemaksiatan.
Kaki tersebut adalah ciptaan Allah. Kemampuan berjalan adalah karunia Allah. Tetapi arah yang dipilih manusia berkaitan dengan kehendaknya. Karena itu, manusia tetap dimintai pertanggungjawaban.
Kelima: Niat Menjadi Penentu Nilai Perbuatan
Pembahasan tentang iradah tidak dapat dipisahkan dari:
«النِّيَّة»
niat.
Rasulullah ﷺ bersabda:
«إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ»
“Sesungguhnya amal-amal itu tergantung pada niat.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Imam Muslim.
Niat menunjukkan bahwa perbuatan manusia bukan sekadar gerakan fisik.
Dua orang dapat melakukan perbuatan yang secara lahiriah sama.
Namun, nilainya berbeda karena:
- tujuan;
- kehendak;
- dan niatnya.
Seseorang memberikan sesuatu kepada orang lain.
Yang pertama melakukannya karena mengharap ridha Allah. Yang kedua melakukannya agar dipuji manusia.
Perbuatan lahiriah dapat terlihat sama. Tetapi nilai di sisi Allah berbeda.
Karena itu, kehendak manusia memiliki peranan penting dalam pertanggungjawaban amal.