Di antara generasi tabi’in yang terkenal dengan ilmu, kezuhudan, dan rasa takutnya kepada Allah adalah Masruq bin Al-Ajda’. Nama beliau sering disebut dalam kitab-kitab biografi ulama salaf sebagai sosok yang memadukan kedalaman ilmu dengan kekhusyukan ibadah. Beliau merupakan murid utama Abdullah bin Mas’ud dan termasuk ulama besar dari Kufah yang sangat dihormati oleh para tabi’in dan ahli hadis.
Nasab dan Kepribadiannya
Nama lengkap beliau adalah Masruq bin Al-Ajda’ Al-Hamdani Al-Wadi’i. Para ulama menyebut bahwa julukan “Masruq” berarti “yang dicuri”, karena ketika kecil beliau pernah diculik lalu ditemukan kembali oleh keluarganya.
Beliau dikenal sebagai ahli ibadah, ahli ilmu, dan perawi hadis terpercaya. Imam Adz-Dzahabi menyebutnya sebagai:
“Al-imam, Al-Qudwah, Al-Hafizh.” (Seorang imam, teladan, dan penghafal hadis).
Masruq juga dikenal memiliki rasa wara’ yang tinggi. Ia sangat berhati-hati dalam urusan agama dan takut terjatuh dalam perkara syubhat maupun dosa.
Murid Dekat Abdullah bin Mas’ud
Di Kufah, Masruq menjadi salah satu murid paling menonjol dari Abdullah bin Mas’ud. Beliau banyak meriwayatkan hadis dan atsar darinya. Kedalaman ilmu Masruq membuat para ulama besar memberikan pujian tinggi kepadanya.
Diriwayatkan bahwa Abdullah bin Mas’ud pernah berkata tentang para murid terbaiknya: “Aku tidak mengetahui ada seorang pun yang lebih memahami keputusan hukum daripada Masruq.”
Pujian ini menunjukkan kedudukan ilmiah beliau di kalangan tabi’in.
Ibadah yang Menggetarkan Hati
Salah satu sisi paling mengagumkan dari kehidupan Masruq adalah ibadah malamnya. Dalam banyak riwayat disebutkan bahwa beliau menghidupkan malam dengan shalat panjang dan tilawah Al-Qur’an.
Istri beliau pernah berkata: “Aku pernah melihat kedua kaki Masruq bengkak karena lamanya beliau shalat.”
Riwayat ini menunjukkan bagaimana para salaf memaknai ibadah bukan sekadar kewajiban, tetapi kebutuhan ruhani yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan mereka.
Beliau juga dikenal sering menangis ketika membaca Al-Qur’an dan mengingat akhirat. Rasa takutnya kepada Allah begitu besar hingga tampak dalam perkataan dan perilakunya sehari-hari.
Zuhud terhadap Dunia
Meski memiliki ilmu dan kedudukan tinggi, Masruq hidup sederhana dan tidak terpaut dengan kemewahan dunia. Ia memahami bahwa kehidupan dunia hanyalah tempat persinggahan menuju akhirat.
Di antara perkataan beliau yang terkenal adalah: “Cukuplah kematian sebagai penasihat.”
Kalimat singkat ini menggambarkan kedalaman renungan beliau terhadap kehidupan. Masruq melihat bahwa siapa pun pada akhirnya akan kembali kepada Allah dan mempertanggungjawabkan amalnya.
Karena itu, beliau lebih memilih memperbanyak amal saleh daripada sibuk mengejar pujian manusia.
Wafatnya
Masruq bin Al-Ajda’ wafat sekitar tahun 62 H. Meski telah berabad-abad berlalu, kisah hidupnya tetap menjadi inspirasi bagi kaum muslimin dalam menuntut ilmu, menjaga ibadah, dan membersihkan hati.
Beliau adalah contoh nyata bagaimana ilmu yang benar akan melahirkan ketundukan kepada Allah, bukan kesombongan.
Di zaman ketika manusia berlomba mencari popularitas, Masruq justru mengajarkan arti keikhlasan. Semakin tinggi ilmunya, semakin besar rasa takutnya kepada Allah ﷻ.
Semoga Allah merahmati beliau dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang meneladani para ulama salaf dalam ilmu, ibadah, dan akhlak. Aamiin.
Sumber:
Tahdzib al-Kamal, karya Jamaluddin Al-Mizzi
Siyar A’lam An-Nubala’, karya Syamsuddin Adz-Dzahabi