Adab, Bukan Feodalisme: Meluruskan Persepsi tentang Hubungan Santri dan Kiai di Pesantren

Chatgpt image 21 okt 2025, 15.40.02

Belakangan, muncul perbincangan di media sosial tentang “feodalisme” di lingkungan pesantren. Sebagian pihak menilai penghormatan santri kepada kiai sebagai bentuk pengkultusan dan ketidaksetaraan. Padahal, bila ditinjau dari ajaran Islam dan tradisi keilmuan ulama, penghormatan tersebut bukanlah bentuk feodalisme, melainkan adab (tata krama) yang menjadi dasar keberkahan ilmu.

1. Memahami Makna Adab dalam Islam
Dalam Islam, adab adalah bagian dari iman. Rasulullah ﷺ bersabda: “Tidaklah termasuk golongan kami orang yang tidak menghormati orang tua dan tidak menyayangi yang muda, serta tidak mengetahui hak ulama di antara kami.” (HR. Ahmad, no. 22283)

Artinya, penghormatan kepada guru bukanlah bentuk ketundukan buta, tetapi pengakuan terhadap peran mereka sebagai perantara ilmu dan hidayah.

2. Tradisi Ulama: Rendah Hati dan Penghormatan kepada Guru
Para ulama terdahulu menunjukkan contoh luar biasa dalam menghormati gurunya. Misalnya:

  1. Imam Muslim mencium antara kedua mata Imam Bukhari, sambil berkata, “Biarkan aku mencium kedua kakimu, wahai gurunya para guru, pemimpin ahli hadits, tabib hadits dalam ilalnya.” (Al-Mu’allim bi Syuyukh al-Bukhari wa Muslim, Ibn Khalfun, hal. 89)
  2. Imam Syafi’i berkata tentang gurunya Imam Malik: “Aku membuka lembaran kitab di hadapan Imam Malik dengan perlahan, karena aku takut suaranya mengganggu beliau.” (Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim, karya al-Khatib al-Baghdadi)

Ini menunjukkan bahwa penghormatan bukanlah feodalisme, tapi manifestasi cinta dan penghargaan terhadap ilmu.

3. Feodalisme vs. Adab: Bedakan Dua Hal Ini

Feodalisme

  • Berdasarkan keturunan dan kekuasaan
  • Melahirkan kesombongan dan ketimpangan sosial
  • Menghambat kebebasan berpikir
  • Tujuannya kekuasaan

Adab Islami di Pesantren

  • Berdasarkan ilmu dan keteladanan
  • Melahirkan kerendahan hati dan keberkahan
  • Mendidik disiplin dan penghormatan
  • Tujuannya keberkahan dan pengamalan ilmu

4. Kiai dan Santri: Hubungan Spiritual dan Keilmuan
Kiai bukan “penguasa,” melainkan murabbi (pendidik spiritual). Dalam bahasa ulama, “Guru adalah orang yang menunjukkan jalan kepada Allah, bukan tempat bergantung selain-Nya.” (Ibn Jama‘ah, Tadhkirah as-Sāmi‘ wal-Mutakallim, hal. 42)

Santri pun bukan bawahan, tetapi penuntut ilmu (thalibul ‘ilm), yang harus menghiasi diri dengan hormat dan sopan agar ilmunya bermanfaat.

5. Adab Tidak Meniadakan Kritis
Pesantren juga mengajarkan tafakkur (berpikir mendalam) dan muhasabah (evaluasi). Santri boleh bertanya, berdiskusi, dan bahkan mengoreksi — namun dengan etika dan sopan santun, sebagaimana para sahabat berdialog dengan Rasulullah ﷺ tanpa kehilangan rasa hormat.

Kesimpulan
Tradisi penghormatan santri kepada kiai bukanlah bentuk feodalisme, tetapi bagian dari warisan adab Islam yang menjaga keberkahan ilmu. Feodalisme berakar pada kesombongan manusia; adab berakar pada kerendahan hati di hadapan ilmu dan guru.

Mari meluruskan persepsi:
Pesantren bukan tempat melahirkan penguasa, tetapi tempat menempa adab, ilmu, dan akhlak.

Sumber:
Ibn Khalfun, Al-Mu‘allim bi Syuyukh al-Bukhari wa Muslim, hal. 89.
Al-Khatib al-Baghdadi, Adab al-‘Ālim wa al-Muta‘allim.
Ibn Jama‘ah, Tadhkirah as-Sāmi‘ wal-Mutakallim.
Al-Ghazali, Ihya’ Ulum al-Din, Kitab Ta‘lim al-‘Ilm.

© 2025 | Disusun oleh Rizky Tiftazany