Jejak Agama Hanif di Bangsa Arab

Kita telah mengetahui bahwa bangsa Arab adalah anak-anak keturunan Nabi Ismail a.s. Mereka juga mewarisi agama dan cara hidup yang diwasiatkan ayah mereka, berupa pengesaan Allah, penyembahan Nya, pelaksanaan aturan Nya, penyucian Nya, dan pemuliaan Nya. Salah satu ajaran yang paling menonjol adalah pengagungan dan penyucian Baitul Haram serta penghormatan terhadap simbol-simbolnya, termasuk pembekalan, pelayanan dan pemeliharaannya.

Setelah abad-abad berlalu, mulailah mereka mencampuradukkan kebenaran yang mereka warisi turun-temurun itu dengan kebatilan. Seperti itulah keadaan semua umat dan bangsa setelah didominasi kebodohan dalam waktu yang lama dan disusupi bisikan para tukang sihir dan pengkhayal. Akibatnya, keyakinan mereka disusupi syirik, dan mereka pun menjadikan patung sebagai sesembahan. Lebih jauh, berkembang di tengah-tengah mereka berbagai taklid yang ngawur dan kerusakan moral yang parah. Akibatnya, mereka semakin jauh dari cahaya tauhid serta cara hidup al-hanifiyah. Semakin dalam mereka tenggelam di tengah samudra kebodohan yang menutupi kecerdasan dan potensi ketuhanan selama beradab-abad. Kelak, Nabi Muhammad Saw. datang untuk mengenalkan kembali mereka pada potensi ilahiah yang sejatinya telah mereka kenal dan mereka miliki.

Orang pertama yang mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab dan mengajak mereka menyembah patung adalah Amr bin Luhaiy bin Qam’ah, leluhur Suku Khuza’ah. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Muhammad bin Ibrahim bin Al-Harits At-Taimi, dari Abu Shalih As-Saman bahwa dia mendengar Abu Hurairah bertutur: Aku mendengar Rasulullah Saw. berkata kepada Aktsam bin Jun Al-Khuza’i, “Wahai Aktsam, aku melihat Amr bin Luhaiy bin Qam’ah bin Khandaf menyeret-nyeret ususnya di neraka. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mirip dengannya daripada engkau, dan tidak pernah melihat orang yang lebih mirip denganmu daripada dia.” Aktsam bertanya, “Apakah kemiripanku dengannya berbahaya bagiku, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Tidak. Engkau adalah mukmin, sedangkan dia orang kafir. Dahulu dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ismail, lalu memasang berhala, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada berhala, menyembelih binatang untuk berhala, mempersembahkan unta kepada berhala, dan meyakini unta tertentu tidak boleh dinaiki. ”

Ibnu Hisyam juga meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhayy mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab: Amr bin Luhaiy pergi dari Makkah menuju Syam untuk menjalankan urusannya. Setibanya di Ma’ab, daerah Al-Balqa’, yang ketika itu dihuni kaum Amalek-keturunan Amlaq atau Amliq bin Lawidz bin Sam bin Nuh dia melihat mereka menyembah patung. Dia pun bertanya, “Apa patung-patung yang kalian sembah itu?” Mereka menjawab, “Patung-patung itu kami sembah guna meminta hujan sehingga kami diberi hujan; kami meminta kemenangan sehingga kami diberi kemenangan.” Dia bertanya lagi, “Maukah kalian memberiku satu di antaranya yang bisa kubawa ke negeri Arab untuk mereka sembah?” Maka, mereka memberinya sebuah patung yang dinamai Hubal. Dia pun membawanya ke Makkah dan memasangnya, lalu menyuruh orang-orang menyembah dan mengagungkannya.

Begitulah awal kemunculan dan penyebaran paganisme di Jazirah Arab sehingga politeisme menjadi anutan mereka yang sangat populer. Mereka telah meninggalkan akidah tauhid yang sebelumnya mereka peluk serta mengganti agama Ibrahim dan Ismail dengan kemusyrikan. Mereka pun menjadi seperti umat-umat lain, berakhir pada aneka keyakinan dan perbuatan yang sesat. Faktor utama yang mendorong mereka melakukan semua itu adalah kebodohan, ketunaaksaraan, dan keengganan mereka untuk berpikir sehingga mudah dipengaruhi ajaran berbagai suku dan umat yang hidup di sekitar mereka.

Kendati demikian, di tengah-tengah mereka masih ada beberapa orang yang tetap berpegang teguh pada akidah tauhid dan mengikuti cara hidup al-hanifiyah. Mereka tetap memercayai adanya hari kebangkitan dan penghimpunan, meyakini bahwa Allah memberikan pahala kepada orang yang taat dan menghukum orang yang durhaka, dan tidak menyukai penyembahan patung serta segala kesesatan paham dan pemikiran yang diada-adakan bangsa Arab. Segelintir orang yang dikenal tetap memelihara ajaran hanifiyah ini, di antaranya Qass bin Sa’idah Al-Iyyadi, Ri’ab Asy-Syinni, dan Buhaira sang Rahib.

Adat istiadat bangsa Arab juga masih memperlihatkan jejak- jejak ajaran Nabi Ibrahim dan prinsip agama yang hanif serta simbol- simbolnya meskipun makin terkikis habis seiring perkembangan zaman. Dalam kadar tertentu, kejahiliahan mereka masih diwarnai pengaruh aneka simbol dan prinsip hanifiyah. Hanya saja, berbagai simbol dan prinsip ini muncul di kehidupan mereka dalam keadaan sudah tercemar. Contohnya, pengagungan Ka’bah serta tawaf mengelilinginya, haji, umrah, wukuf di Arafah, dan kurban (al- hadyu). Pada dasarnya, semua tradisi itu dilegalkan dan diwarisi secara turun-temurun dari era Nabi Ibrahim a.s., tetapi praktik yang mereka terapkan tidak benar dan bercampur dengan banyak kesesatan. Misalnya, dalam tahalul untuk haji dan umrah, orang Kinanah dan Quraisy mengucapkan, “Labbayka allâhumma labbayk. Labbayka lâ syarîka illâ syarîkun huwa lak, tamlikuhu wa mâ malak.” (Aku menyambut seruan-Mu, ya Allah. Aku menyambut seruan-Mu, tiada sekutu kecuali sekutu yang Kaumiliki, yang Kaumiliki dan dia miliki pula.). Jadi, sebagaimana dikatakan Ibnu Hisyam, mereka mengesakan Allah Swt. dalam talbiah, tetapi seraya menyisipkan berhala mereka bersama-Nya dan menempatkan kepemilikannya pada tangan-Nya.

Kesimpulannya, keadaan bangsa Arab pada masa kedatangan Islam dinaungi jejak-jejak ajaran al-hanifiyah al-samhah yang dibawa Nabi Ibrahim a.s. Di masa lalu, kehidupan mereka dipenuhi akidah tauhid serta cahaya petunjuk dan iman. Lalu, mulailah mereka menjauhi kebenaran itu sedikit demi sedikit lantaran faktor waktu yang sangat lama, abad-abad yang panjang, dan jarak masa yang jauh dari era Nabi Ibrahim. Kehidupan mereka pun mulai diisi gelap kemusyrikan, sesat pemikiran, dan kebodohan. Semua itu berkembang seraya tetap membawa aneka simbol kebenaran kuno serta prinsipnya yang masih tersisa, yang terus bergerak mengiringi sejarah mereka. Hanya saja, semua prinsip, tradisi, dan simbol-simbol agama hanifiyah itu semakin lemah seiring perjalanan waktu, dan semakin sedikit pemeluknya dari tahun ke tahun.

Tatkala cahaya agama yang hanif ini bersinar lagi dengan diutusnya Sang Penutup Para Nabi, Muhammad Saw., wahyu Ilahi pun menyentuh setiap hal yang telah ditutupi kesesatan dan kegelapan selama abad-abad yang sangat panjang itu. Cahaya Ilahi yang datang bersama Muhammad Saw. menyingkirkan kesesatan itu dan menyingkapkan kembali tradisi hanifiyah yang sejati. Muhammad Saw. datang mengganti kebodohan dengan cahaya iman, tauhid, serta prinsip keadilan dan kebenaran. Beliau mengenalkan kembali bangsa Arab kepada keyakinan dan ajaran Ibrahim a.s. kemudian memulihkannya seperti sedia kala serta menetapkannya sebagai syariat Ilahi.

Sumber: Fiqhus Siroh, M. Said Ramadhan Al Buthi.